Serpong, Humas BRIN. Dalam rangka meningkatkan akselerasi riset dan inovasi di bidang nanoteknologi dan material, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Laksana Tri Handoko, berkoordinasi dengan Kepala Organisasi Riset Nanoteknologi dan Material (OR NM) BRIN serta para Kepala Pusat Riset (PR) di bawah OR NM, di Gedung Manajemen, Kawasan Sains dan Teknologi Puspiptek, pada Rabu (11/5).

Di hadapan peserta rapat, Handoko menyampaikan bahwa OR NM sudah memiliki modal awal yang cukup, yakni sumber daya periset. “OR NM sudah dimodali sumber daya manusia yang berasal dari dalam negeri dan diaspora. Saya tidak pesimis karena bibitnya cukup bagus, bisa mempercepat critical mass SDM unggul di BRIN,” terangnya.

Menurutnya, kondisi satker saat ini OR NM ada yang belum ideal, masih menjadi tantangan dalam hal kualifikasi SDM. Namun hal tersebut bisa diatasi dengan skema program yang ada di BRIN. “Mungkin ada di satker yang perlu ditingkatkan SDM-nya,” jelasnya.

Kemudian jumlah periset di satker OR NM berbeda-beda, ada yang jumlahnya sedikit dan ada yang banyak. bukan merupakan masalah. “Justru rasio output bisa lebih baik bila satker dengan jumlah periset tidak terlalu besar namun jumlah publikasi besar,” imbuhnya.

Handoko cukup optimis dengan potensi tambahan SDM untuk OR NM. “Saya yakin, tidak terlalu pesimis, untuk bisa merekrut periset lain. Bidang material ini cukup mudah untuk mendapatkan talenta baru, baik dalam negeri maupun diaspora,” ungkapnya

Dalam kesempatan tersebut, Kepala OR NM, Ratno Nuryadi menayangkan profil OR NM. Baik dari PR Teknologi Pertambangan, PR Metalurgi, PR Material Maju, PR Kimia Maju, PR Teknologi Polimer, PR Fisika Kuantum, dan PR Fotonik. “Saat ini secara keseluruhan, jumlah SDM OR NM dengan jenjang S3 ada 36 persen dan S2 39 persen,” ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, Handoko menegaskan pentingnya periset melanjutkan pendidikan hingga strata-3. “Di pusat riset, yang S1 dan S2 harus dimotivasi oleh kepala pusat untuk S3. Periset yang sudah S3, harus menjadi pembimbingnya. Karena sudah ada skema atau platformnya. Seperti program degree by research yang ada di BRIN. Asalkan ada sekolah yang mau menerima, bisa. Tidak ada diskriminasi umur. Jadi tidak ada alasan untuk tidak sekolah,” tegasnya.

Langkah awal yang bisa dilakukan OR NM adalah membuat program sekolah untuk sasaran kinerja pegawai (SKP) bagi perisetnya. “Buat SKP sekolah, jadi tiga tahun selesai. Selesaikan masalah di periode ini, jangan mewariskan masalah ke periode berikutnya. Agar kepala PR berikutnya bisa memikirkan permasalahan yang lebih jauh,” pesan Kepala BRIN.

Sejalan dengan peningkatan kualitas SDM perlu juga Handoko mengharapkan OR NM memiliki program pasca doktoralnya. “Pilih topik-topik apa yang sesuai. Agar alat-alat laboratorium yang dimiliki oleh kedeputian infrastruktur, bisa teruji dengan baik. Kemudian buat strategi visiting professor. Kunjungan ke laboratorium yang juga pakai alat itu. Jadi meski alatnya yang dipesan belum datang, kita sudah siap,” jelasnya.

Mengenai pusat riset yang terdiri berbagai jabatan fungsional, Handoko menerangkan bahwa dari apa pun jabatan fungsionalnya, semua akan sama hasil kerja minimal (hkm) periset. Baik itu peneliti, perekayasa, pranata nuklir, atau lainnya yang ada di pusat riset. Jadi mungkin ada pegawai BRIN yang ingin beralih jabatan fungsionalnya peneliti.

“Jabatan fungsional itu urusan pribadi, tetapi penugasan terkait dengan tugas kantor. Kalau mau disinkronkan boleh saja. Namun bukan pekerjaan kantor untuk memfasilitasi angka kredit. Tugas ASN adalah untuk melayani masyarakat. Kalau mau pindah jabatan fungsional ke peneliti basisnya output, bukan basis proses atau dokumen. Misal paten, publikasi, dan lisensi,” urai Handoko.

Terkait dengan bagaimana dengan ada sivitas pusat riset yang belum bisa melakukan riset. Handoko memberikan alternatif program magang industri sesuai keahlian periset. “Bisa magang ke industri skala kecil. Jika ada permintaan dari industri yang perlu bantuan. nanti setelah magang yang lamanya misalkan satu bulan, bisa bawa masalahnya ke PR, diselesaikan bersama. Output-nya bisa paten,” terangnya.

Dalam forum pimpinan tersebut, sejumlah pertanyaan mewakili periset diutarakan oleh para kepala PR. Seperti terkait pengadaan alat, lokasi co-working space (CWS), dan laboratorium untuk bekerja. Menjawab hal itu, Handoko bersama Kedeputian dan Biro di BRIN mengupayakan strategi pengadaan alat baru, pengelolaan CWS, dan laboratorium berdasarkan kategori karakter pekerjaannya.

“Kita akan atur ulang infrastruktur, tidak melihat OR atau PR-nya. Contohnya komputasi fisika akan digabung dengan elektronika dan informatika. Bisa disatukan juga laboratorium baterai yang ada di berbagai eks-LPNK. Akan banyak moving area tanpa sekat-sekat,” ungkap Handoko.

Infrastruktur inilah yang menjadi kunci dalam mendukung kualitas SDM di BRIN. “Ini memang proses yang tidak mudah, kantor dan laboratorium ada pengelolanya sendiri. Sesuai pengalaman saya di negara luar, tidak ada pusat riset yang memiliki laboratorium sendiri. Ada direktorat tersendiri untuk pemeliharaannya. Semoga penataan laboratorium segera selesai. Antar OR dan PR dapat saling paham tidak saling bersinggungan,” pungkas Handoko. (adl)

Sebarkan