SIARAN PERS
BADAN RISET DAN INOVASI NASIONAL
Nomor : 123/SP/HM/BPUK/IX/2021

Negara-negara Asia Tenggara saat ini sedang menghadapi tantangan terkait dinamika politik, regional, sosial ekonomi dan budaya. Selain itu, dampak transformasi digital di komunitas Asia Tenggara diperkuat oleh tren global yang sedang berlangsung, seperti perubahan demografis, urbanisasi yang cepat, peningkatan migrasi internasional, dan ketergantungan yang kuat pada teknologi digital. Untuk membahas masalah tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial Humaniora menyelenggarakan “Webinar Goes to The 4th Southeast Asian Studies in Asia (SEASIA) Biennial Conference 2022 : Managing Disruption, Developing Resilience for a Better Southeast Asia”. Webinar akan dilaksanakan  pada Selasa, 14 September 2021 secara virtual melalui YouTube dengan tautan https://www.youtube.com/watch?v=jsuBQabfeKA dan zoom webinar pada tautan https://tinyurl.com/webinar-SEASIA (Webinar ID: 938 8232 7518 Passcode: 548988) mulai pukul 13.30 WIB hingga 15.00 WIB. Webinar ini diselenggarakan untuk menyambut konferensi “The 4th SEASIA Biennial Conference 2022 : Managing Disruption, Developing Resilience for a Better Southeast Asia” pada 9 hingga 11 Juni 2022 mendatang.

Jakarta, 14 September 2021. Sejalan dengan perubahan dan perkembangan Asia Tenggara, identitas tetap menjadi aset sekaligus tantangan bagi negara-negara Asia Tenggara,  di tengah dunia yang terglobalisasi saat ini. Di banyak negara, identitas seperti budaya, etnis, dan agama seringkali menjadi sumber konflik. “Sebagian besar perseteruan, konflik, dan bahkan perang, cukup sering terjadi, terkait dengan latar belakang budaya, etnis, atau agama,” jelas Plt. Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial Humaniora BRIN, Ahmad Najib Burhani.

Menurut Najib, perlu dibangun kesadaran global akan keragaman umat manusia dan tanggung jawab atas aspirasi budaya, etnis, dan agama. “Dalam konteks ini, pengakuan atas hak-hak minoritas mewakili prinsip-prinsip utama masyarakat yang bebas dan demokratis. Membentuk kewarganegaraan yang inklusif kemungkinan akan menjadi kunci untuk menjaga keharmonisan sosial dan juga untuk memastikan pemenuhan hak-hak semua warga negara,” papar Najib. “Di sisi lain, pandemi COVID-19 saat ini telah memperjelas betapa sulitnya mengelola sistem yang saling terkait dan dinamis,” imbuhnya.

Tri Nuke Pudjiastuti, peneliti Pusat Riset Politik BRIN menambahkan, meskipun wacana pembentukan kewarganegaraan yang inklusif telah dibahas di seluruh dunia, realisasi dan implementasinya tetap menjadi tantangan di banyak negara di Asia Tenggara. “Oleh karena itu, kesamaan karakteristik, perubahan, tantangan dan perkembangan tersebut, menempatkan negara-negara Asia Tenggara dalam politik, regional, ekonomi, sosial budaya yang penting pada saat ini dan di masa depan,” paparnya.

Sementara itu, Nawawi, peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN mengungkapkan, The 4th SEASIA Biennial Conference 2022: Managing Disruption, Developing Resilience for a Better Southeast Asia merupakan konferensi yang diselenggarakan oleh Konsorsium Studi Asia Tenggara yang terdiri dari 13 institusi pendidikan dan penelitian terkemuka di kawasan Asia.  “Konferensi ini merupakan forum internasional bagi para akademisi, peneliti, dan praktisi dari Asia dan berbagai wilayah di dunia untuk memperkaya dan saling berbagi ilmu pengetahuan dan isu-isu strategis kontemporer mengenai Asia Tenggara,” ungkap Nawawi.

Athiqah Nur Alami, peneliti Pusat Riset Politik BRIN menambahkan, kegiatan konferensi dua tahunan ini telah berlangsung sejak tahun 2015 di Kyoto, Jepang. “Sebagai kelanjutan dari konferensi sebelumnya, kegiatan SEASIA Biennial Conference yang keempat kalinya akan berlangsung pada 9-11 Juni 2022 di Jakarta, Indonesia. Kegiatan konferensi ini akan terdiri dari sejumlah sesi menarik mulai dari pemaparan Guest of Honor oleh Presiden RI Joko Widodo dan Keynote Speech oleh Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi. Kemudian, Roundtable Discussions yang akan dihadiri oleh para ahli di bidangnya dan diskusi panel oleh para peserta konferensi, hingga berbagai kegiatan pendukung lainnya,” pungkasnya.

Biro Komunikasi Publik, Umum, dan Kesekretariatan
Badan Riset dan Inovasi Nasional