Cibinong, Humas BRIN. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Bahan Baku Obat dan Obat Tradisional (PR BBO-OT) menyelenggarakan webinar bincang riset PR B2O2T bertopik “Mengenal Pusat Riset Bahan Baku Obat dan Obat Tradisional BRIN: Kegiatan Riset dan Peluang Kerja Sama”, pada Rabu (18/05).

Kepala Organisasi Riset (OR) Kesehatan BRIN, Ni Luh Putu Indi Dharmayanti mengatakan bahwa OR Kesehatan mempunyai tujuh Pusat Riset (PR) yaitu PR Biomedis, PR Kedokteran Klinis dan Praklinis, PR PR BBO-OT, PR Kesehatan Masyarakat dan Gizi, PR Vaksin dan Obat, PR Biologi Molekuler Eijkman, serta PR Veteriner.

“PR BBO-OT terdiri dari enam kelompok riset, di antaranya Kelompok Biopropeksi dan Kemoprospeksi, Kelompok Riset Kimia Bahan Alam, Kelompok Riset Kimia Medisinal dan Artifisial Intelejen, Kelompok Riset Standarisasi Bahan Baku Tradisional, Kelompok Riset Bahan Baku Alam, dan Kelompok Riset Farmakologi,” rinci Indi.

Dirinya berharap momen ini menjadi inspirasi untuk mengasah ide, kemudian gagasan terkait pengembangan bahan-bahan baku tradisional  sebagai solusi alternatif pengobatan penyakit yang ada di Indonesia.

Dalam kesempatan yang sama,  Yuli Widyastuti selaku Plt. Kepala PR BBO-OT, menjelaskan “PR BBO-OT mempunyai tugas yaitu melaksanakan penelitian, pengembangan, pengkajian, dan penerapan, serta ivensi dan inovasi di bidang bahan baku obat dan obat tradisional.

Yuli mengungkapkan bahwa latar belakang yang mendorong kiprah PR BBO-OT yaitu pertama, ketergantungan bahan baku obat dari impor tinggi seperti  impor bahan baku obat lebih dari 90%, baik bahan aktif maupun eksipien. Kedua, implementasi Inpres No. 06 tahun 2016 tentang percepatan pembangunan industri farmasi dan alat kesehatan. Ketiga, biodiversitas dan kearifan lokal. Keempat, back to nature yaitu kecenderungan masyarakat global kembali menggunakan produk dari alam untuk menjaga kesehatan, kebugaran dan kecantikan. Kelima, saintifikasi jamu dan keenam berupa daya saing industri obat dan industri obat tradisional rempah.

Narasumber dari Kelompok Riset Bioprospeksi dan Kemoprospeksi, Andria Agusta menyampaikan alur penemuan obat/ pengembangan obat terdiri dari tiga pilar utama yaitu target validation, target to lead dan lead to candidate. “Kelompok bioprospeksi dan komprospesi lebih dominan pada pilar yang kedua yaitu target to lead dengan memanfaatkan sumberdaya yang ada di Indonesia,” ungkapnya.

Selanjutnya Kelompok Riset Kimia Bahan Alam, Abdi Wira Septama memdeskripsikan bahwa riset kimia bahan alam merupakan riset kolaboratif yang melibatkan disiplin ilmu  dengan fokus kegiatan pada penemuan bahan-bahan obat yang berasal dari tumbuhan alam terhadap target penyakit yang kompleks, baik itu penyakit infeksi maupun non infeksi seperti degeneratif, diabetes dan antioksidan.

Sementara itu, dari Kelompok Riset Kimia Medisinal dan Artifisial Intelijen, Teni Ernawati, menguraikan bahwa ruang lingkup dari kelompok risetnya, yaitu pertama, mengisolasi senyawa aktif baik dari isolasi tanaman obat maupun fermentasi. Kedua, virtual screening melalui molecular docking dan artifisial intelijen. Ketiga, sintesis (biosintesis) dari senyawa aktif/penuntun. Keempat, pengujian aktivitas senyawa aktif secara in vitro.

Harto Widodo yang berasal dari Kelompok Riset Standarisasi Bahan Baku Obat Tradisional menjelaskan obat bahan alam ada tiga jenis, yaitu pertama jamu. “Khasiat jamu berdasarkan empiris, tradisional, dan turun temurun serta standarisasi kandungan kimia belum disyaratkan. Kedua, obat herbal yaitu  khasiat berdasarkan uji farmakologi dan uji toksisitas pada hewan untuk standarisasi kandungan bahan baku penyusun formula. Ketiga, fitofarmaka : khasiat berdasarkan uji farmakologi dan uji toksisitas pada hewan serta uji klinis pada manusia dan standarisasi kandungan kimia bahan baku sediaan,” paparnya.

Narasumber selanjutnya, Kelompok Riset Farmakologi dan Toksikologi, Kurnia Agustini, mengatakan tentang ruang lingkup kelompok risetnya mengenai uji praklinik dan uji klinik yang bertujuan untuk mendukung penemuan obat baru, melibatkan pengujian farmakologi dan toksikologi juga berperan untuk skrining aktifitas.

Berlanjut pada Kelompok Riset Produk Bahan Alam, yakni Agung Eru Wibowo yang mengutarakan tahapan kegiatan kelompok risetnya. Pertama, desain dengan sumber pertama hasil-hasil riset oleh kelompok-kelompok riset yang lain bisa menjadi rancangan sebuah desain produk. Kedua, prototaping. Ketiga, optimasi  validasi dan analisis kelayakan. Keempat, kemitraan, inkubasi teknologi.

Lucie Widowati dari Kelompok Etnofarmakologi dan Saintifikasi Jamu mendapatkan kesempatan terakhir paparan. Dirinya menjelaskan ruang lingkup kelompok risetnya yaitu riset perilaku masyarakat terhadap pemanfaatan dan pelestarian tanaman obat dan obat tradisional, observasi  klinik penggunaan obat tradisional dalam pelayanan kesehatan di fayankes, studi penggunaan jamu berbasis pelayanan dalam upaya preventif dan kuratif  untuk indikasi penyakit sindrom metabolik dan degeneratife, riset dan pengembangan sistem rantai pasok bahan baku obat tradisional dan riset farmakoekonomi bahan baku obat dan obat tradisional. (shf/ ed. sl)

Sebarkan