SIARAN PERS
BADAN RISET DAN INOVASI NASIONAL
NO: 189/SP/HM/BKPUK/XI/2021

Pemerintah Indonesia tengah serius mewujudkan komitmen net zero emission (NZE) pada tahun 2060 atau lebih cepat dan mewacanakan pula pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) pertama yang dimulai dengan commercial operation date (COD) pada 2045. Lantas sejauh mana kesiapan Indonesia menyongsong era nuklir di masa depan dan sejauh mana pula pemanfaatan energi nuklir untuk mendukung pencapaian target net zero emission tersebut? Apakah SDM Indonesia siap mengelola teknologi berisiko tinggi seperti PLTN? Lantas sejauh mana kesiapan Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) dalam program PLTN tersebut? Serangkaian pertanyaan tersebut melatarbelakangi diskusi ilmiah gagasan Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) dalam Webinar Nasional ‘Prof Talk: Siapkah Energi Nuklir Mendukung Net Zero Emission Indonesia?‘, pada Selasa, 16 November 2021.

Jakarta, 16 November 2021 – Terkait NZE, Kepala Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN), Dr. Laksana Tri Handoko mengatakan bahwa dalam skenario umum transisi energi di Indonesia, saat ini sebesar 75% emisi yang dihasilkan berasal dari penggunaan energi fosil. “Skenario transisi energi menuju NZE ke depan bertumpu pada pembangkitan listrik energi terbarukan yang akan membawa perubahan besar dalam ketenagalistrikan, dan listrik akan menjadi pusat transisi tersebut,” ucapnya.

Sementara itu Djarot S. Wisnubroto, Profesor Riset sekaligus Peneliti Ahli Utama pada Organisasi Riset Tenaga Nuklir BRIN mengungkapkan selama lebih dari dua dekade, topik energi nuklir tidak masuk dalam agenda konferensi perubahan iklim yang dikoordinasikan oleh PBB. Namun, pada KTT COP26 yang berlangsung di Glasgow, energi nuklir mulai menjadi perhatian. “Dengan karakteristik yang hampir bebas karbon, dan mampu menghasilkan daya besar terus menerus maka PLTN merupakan salah satu solusi mengatasi pemanasan global. Memang momok Chernobyl dan Fukushima masih ada. Tetapi ketika krisis iklim semakin dalam dan kebutuhan untuk beralih dari bahan bakar fosil menjadi mendesak, sikap banyak negara mulai berubah,” terangnya.

“Di sisi lain, untuk menuju NZE Indonesia 2060, Pemerintah Indonesia menyatakan bahwa disamping mentargetkan untuk secara bertahap menghentikan operasi pembangkit listrik yang sumber energinya dari batu bara, juga memaksimalkan pemanfaatan energi baru dan terbarukan (EBT). Bahkan Pemerintah Indonesia menyatakan bahwa opsi penggunaan nuklir direncanakan akan dimulai di 2045 dengan kapasitas hingga mencapai 35 Giga Watt (GW) di 2060. Apakah para periset nuklir BRIN siap mengantisipasi peta jalan NEZ ini? Apa kesiapan yang selama ini sudah dilakukan?” tutur Djarot.

Deendarlianto, Profesor yang juga akan hadir sebagai pembicara mengatakan, Pusat Studi Energi Teknologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta telah meneliti bahwa energi nuklir mampu memenuhi kebutuhan energi secara masif dan sesuai untuk peningkatan kemampuan industrialisasi Indonesia di masa depan. Dengan demikian, untuk memenuhi kebutuhan energi yang bersifat masif dan berkesinambungan, maka tidak ada pilihan lain untuk menggantikan peran penggunaan sumber daya energi konvensional kecuali penggunaan energi nuklir.

Lebih lanjut dalam penjelasannya disebutkan teknologi reaktor nuklir telah mencapai pencapaian teknologi yang lebih unggul dibanding dengan teknologi pembangkit lainnya. Tiga keunggulan teknologi energi nuklir adalah: 1) Tidak menghasilkan limbah yang dilepaskan ke lingkungan. Semua limbah terkait dengan pengunaan material nuklir dikelola dengan sistem pengelolaan limbah nuklir yang pada akhirnya disimpan, diimobilisasi dan dikungkung; 2) mengaplikasikan sistem keselamatan komprehensif (defense in depth atau sistem pertahanan berlapis) yang terdiri dari keselamatan melekat (inherent safety), redundansi, interlock, reliability, hambatan ganda (multiple barrier), dan prosedur operasi terstandarisasi.

Selain dibuka oleh Kepala BRIN, sambutan disampaikan pula oleh Ketua Majelis Profesor Riset (MPR) BRIN: Prof. Dr. Ir. Bambang Subiyanto, M.Agr. Dua orang penanggap turut memperkaya topik bahasan, yakni Dr. Ir. As Natio Lasman (Anggota Dewan Energi Nasional, Ka. Bapeten 2008-2014), dan Dr. Ir. Unggul Priyanto (Perekayasa Ahli Utama OR-PPT, Ka. BPPT 2014-2018) serta moderator Prof. Dr. Ridwan, Peneliti Ahli Utama OR-TN BRIN.

Keterangan Lebih Lanjut:
Prof. Dr. Djarot S. Wisnubroto (Peneliti Ahli Utama pada OR Tenaga Nuklir BRIN): 0813-2104-6195
Suzan Lesmana (Humas BRIN): 0852-1888-3088