IDEN

Detail Berita

Replika Hutan Tropika Indonesia di Kebun Raya Cibinong

Diterbitkan pada 12 Agustus 2022
Kebun Raya Cibinong BRIN

Bogor – Humas BRIN. Indonesia merupakan salah satu negara tropis terkaya akan keanekaragaman hayati, yang meliputi keanekaragaman gen, spesies, maupun ekosistem. Diperkirakan ada 90 tipe ekosistem ditemukan di Indonesia, mulai dari salju di Puncak Jayawijaya, hutan alpin, sub-alpin, hutan pegunungan sampai dataran rendah, hutan pantai, padang rumput, savana, lahan basah, estuaria, mangrove dan pesisir, pantai, mencakup padang lamun dan terumbu karang sampai ekosistem laut dalam (BAPPENAS, 2003). Ekosistem alami daratan terbagi menjadi 74 tipe vegetasi yang tersebar di seluruh bioregion yang ada di Indonesia (Kartawinata, 2013).

Hendra Gunawan, peneliti keanekaragaman hayati Pusat Riset Ekologi dan Etnobiologi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menyatakan bahwa keanekaragaman ekosistem di Indonesia dapat menjadi inspirasi pembangunan kebun raya-kebun raya di Nusantara, sesuai dengan tipe-tipe ekosistem khas daerahnya. Lebih lanjut Hendra menekankan bahwa setiap kebun raya daerah harus dapat menjadi representasi ekosistem wilayahnya (ekoregion).

“Berbagai tipe ekosistem hutan dataran rendah, hutan pegunungan, dan hutan mangrove dilestarikan dengan cara membuat replikanya secara ex situ di kebun raya. Dengan demikian, upaya konservasi in situ dan ex situ dapat berjalan berdampingan untuk mencegah kepunahan spesies”, ujar penulis Buku ‘Ekoregion, Inovasi Konservasi Ex situ Flora Nusantara’ ini.

Kebun Raya Cibinong (KR Cibinong) yang dibangun sejak 2003 dan pernah menyandang nama Ecopark (ecology park) adalah kebun raya ke-5 yang dikelola oleh BRIN, dan menjadi kebun raya pertama yang dibangun dengan konsep bioregion. 

Vegetasi dari Tujuh Bioregion dihadirkan di Kebun Raya Cibinong

Vegetasi merupakan salah satu penciri utama suatu bioregion.  Beragam spesies pohon penyusun vegetasi dari tujuh bioregion telah ditanam sebagai koleksi hidup KR Cibinong.  Jenis-jenis pohon tersebut ditata menurut blok bioregion di atas lahan seluas 32 hektar.  

Ada tujuh bioregion Indonesia, yaitu Sumatra, Jawa-Bali, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara (Kepulauan Sunda Kecil), Maluku, dan Papua. Setiap bioregion terdiri dari beberapa ekoregion yang areanya lebih sempit.

Ekoregion adalah wilayah geografis yang memiliki kesamaan ciri iklim, tanah, air, flora, dan fauna asli, serta pola interaksi manusia dengan alam yang menggambarkan integritas sistem alam dan lingkungan hidup. Ekoregion diwujudkan dengan membuat replika hutan khas untuk setiap bioregion-nya.

Misalnya, Bioregion Kalimantan diwakili dengan replika hutan Dipterocarpaceae, Nusa Tenggara diwakili dengan replika savana, Jawa-Bali dengan replika hutan dataran rendah, dan Sumatra diwakili dengan hutan non Dipterocarpaceae (Gunawan dan Sugiarti, 2022).

Salah satu tipe ekoregion hutan dataran rendah di Jawa Barat ada di Cagar Alam Dungus Iwul di Kabupaten Bogor. Ekoregion ini dihadirkan replikanya di KR Cibinong, yaitu di blok Bioregion Jawa-Bali, dengan menampilkan vegetasi yang didominasi oleh pohon iwul (Orania sylvicola (Griff.) H. E. Moore), yaitu jenis palem asli Indonesia yang keberadaannya mulai langka atau kategori Near Threatened dalam red list (IUCN 2021). 


Ekoregion Jawa-Bali secara keseluruhan memiliki luas 12 hektar, yang mencakup lahan basah buatan, danau. serta replika hutan dataran rendah. Area ini ditanami 149 spesies dari hutan dataran rendah Jawa-Bali, seperti Bischofia javanica, Heritiera javanica, Vatica bantamensis, Bouea macrophylla, Stelechocarpus burahol, Diospyros javanica, dan Dysoxylum densiflorum.

Replika hutan hujan tropis Sumatra dihadirkan di Bioregion Sumatra dengan luas 4 hektar, dan berisi 155 spesies hutan dari berbagai lokasi di Pulau Sumatra, di antaranya Vatica sumatrana, Gymnostoma sumatranum, Magnolia champaca, Cananga odorata, Morus macroura, Oncosperma tigillarium, Cyrtostachys renda, Lansium domesticum dan Palaquium rostratum.

Replika hutan Dipterocarpaceae terdapat di Bioregion Kalimantan, yang menempati area seluas 3 hektar, dengan koleksi tanaman 144 spesies. Pohon-pohon penciri hutan Dipterocarpaceae, antara lain Eusideroxylon zwageri, Shorea spp., Dipterocarpus spp., Hopea spp., dan Vatica spp. Di blok Bioregion Kalimantan juga ditanam Mangifera casturi, yaitu jenis mangga endemik Kalimantan yang di habitat asalnya sudah dinyatakan punah.

Bioregion Sulawesi seluas 2 hektar ditanami 131 spesies pohon hutan Sulawesi, dengan penciri khasnya antara lain Diospyros celebica, Hopea celebica, Vatica rassak, Intsia bijuga, dan Dacrycarpus imbricatus. Sedangkan Bioregion Maluku menempati area seluas 2 hektar, dengan 33 spesies, dengan pencirinya, yaitu pohon Aleurites moluccana, dan Canarium indicum yang tampak menonjol dilihat dari kejauhan dibandingkan jenis pohon lain di sekitarnya.

Memasuki Bioregion Nusa Tenggara, pengunjung akan disuguhi pemandangan savana mini pada hamparan 2 hektar dengan beberapa jenis pohon khas ekoregion yang memiliki iklim kering itu, seperti cendana (Santalum album), lontar (Borassus flabellifer), dan ajang kelicung (Diospyros macrophylla). Pada bioregion ini terdapat 92 spesies tanaman koleksi. Lain lagi dengan Bioregion Papua menempati lahan seluas 2 hektar dan ditanami 135 spesies hutan Papua, dengan pencirinya antara lain Pometia pinnata, Cynometra novoguineensis, dan beberapa jenis palem serta pandan.

Beragam Fungsi, Wahana Penelitian Keanekaragaman Hayati


Selain fungsi konservasi, ekowisata, dan jasa lingkungan, KR Cibinong dibangun untuk kepentingan penelitian. Hendra Gunawan dalam bukunya menjelaskan bahwa setelah hampir 20 tahun, 6000 pohon koleksi dari 733 spesies dengan berbagai kelas umur di KR Cibinong telah membentuk asosiasi vegetasi yang mirip dengan ekosistem hutan alam dengan struktur dan komposisi yang telah memungkinkan terciptanya habitat bagi beraneka satwa. 

“Kondisi yang mirip hutan ini, juga membuat KR Cibinong menjadi tempat wahana penelitian keanekaragaman hayati dan lingkungan yang menarik”, ujar peneliti yang sudah 30 tahun menggeluti konservasi keanekaragaman hayati ini.

Menurutnya, 20 penelitian di KR Cibinong telah menghasilkan karya tulis ilmiah, baik dalam bentuk jurnal, makalah prosiding, maupun skripsi atau tesis.  Keberadaan KR Cibinong juga memiliki fungsi penting sebagai bagian dari Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung bagian tengah yang dapat mengurangi potensi banjir Kota Jakarta, dan menjadi paru-paru Kota Cibinong yang menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Bogor.

Kepala Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan BRIN, Iman Hidayat secara terpisah menyampaikan bahwa Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Soekarno, selain didalamnya terdapat KR Cibinong, juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas riset untuk mendukung konservasi ex situ keanekaragaman hayati dan pemanfaatannya.

“KST Soekarno yang didirikan atas inisiatif Presiden Soekarno pada tahun 1965, dirancang untuk menjadi sumber ilmu pengetahuan, invensi, dan inovasi di Indonesia, khususnya terkait ilmu-ilmu hayati dan pemanfaatan biodiversitas nusantara, yang merupakan kekuatan utama bangsa Indonesia,” katanya.

“KST Soekarno dilengkapi dengan berbagai gedung yang memiliki laboratorium-laboratorium riset yang berstandar internasional, seperti Gedung Genomik yang dilengkapi dengan fasilitas laboratorium untuk mendukung riset-riset pemanfaatan genom untuk pangan, kesehatan dan industri, Gedung Bio Safety Level 3 dan Animal BSL-3 yang sangat strategis untuk pengembangan obat dan vaksin serta pengujian-pengujian pra-klinis, Gedung Zoologi, Botani-Mikrobiologi, dan Indonesian Culture Collection (InaCC) untuk mendukung riset dasar dan konservasi ex situ hewan, tumbuhan dan mikroorganisme, Gedung Bioproduk Terintegrasi yang memiliki fasilitas riset untuk mendukung riset pemanfaatan biomassa, Fasilitas Greenhouse Riset untuk mendukung riset dan invensi di bidang pertanian dan pangan, dan Greenhouse Display untuk edukasi kawasan konservasi bagi masyarakat”, urainya.

Selanjutnya, Iman menyampaikan, BRIN membuka kesempatan bagi seluruh lapisan masyarakat melalui berbagai skema pendanaan tugas akhir untuk mahasiswa S1 (https://manajementalenta.brin.go.id/), program Degree by Research untuk S2 dan S3 (https://byresearch.brin.go.id/) yang pelaksanaan risetnya dapat dilakukan di berbagai Pusat Riset yang berada di KST Soekarno, dan pelaksanaannya melibatkan pembimbingan penelitian oleh para peneliti BRIN. (ugi/ ed: tnt).