IDEN

Detail Berita

A.B. Lapian Memorial Lecture 2022 Bangun Gagasan Pengembangan Kajian Maritim Indonesia

Diterbitkan pada 24 September 2022

Jakarta – Humas BRIN. Untuk pertama kalinya, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyelenggarakan A.B. Lapian Memorial Lecture 2022 pada Jumat (23/09) di Jakarta. Kegiatan ini untuk mengenang jasa sosok seorang ilmuwan, sejarawan di bidang kemaritiman yang sudah dikenal di tingkat regional maupun global, Adrian Bernard Lapian. Pada kesempatan ini merilis tema “A.B. Lapian: “Nakhoda Kajian Maritim Indonesia”. Rangkaian acara tersebut sekaligus untuk memperingati Hari Maritim Nasional yang jatuh pada tanggal 23 September.

Kepala BRIN, Laksana Tri Handoko, dalam sambutannya menyampaikan, jasa seorang Lapian sangat besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan bidang kemaritiman. “Beliaulah yang telah membangun pondasi kajian maritim di Indonesia, bahkan Asia Tenggara,” ungkap Handoko. Komitmen besarnya tidak sebatas pada hasil karya ilmiah saja, namun juga kontribusinya pada kebijakan, advokasi, serta perhatiannya terhadap komunitas – komunitas sejarah maritim di Indonesia.

Dalam pidatonya, Handoko juga mengungkap karya besar Lapian yang menyingkap sejarah jalur perdagangan maritim di Maluku pada awal abad 16. “Selain melengkapi isu maritim, perspektif yang dikembangkannya berkontribusi pada orang - orang yang seringkali dianggap marginal, baik pada realitas masa lalu maupun dalam kajian sejarah,” imbuhnya.

Dalam hal ini, karir seorang Lapian sebagai nakhoda kajian maritim, dikembangkan dalam dua ranah kelembagaan baik di lembaga penelitian maupun di perguruan tinggi. Lapian juga tidak hanya bergelut di bidang kemaritiman saja, namun juga memimpin riset - riset yang bersifat multidisiplin, seperti sosiologi, antropologi, dan ilmu lingkungan, bahkan meluas pada disiplin pengembangan ilmu lainnya.

Selaras dengan itu, Kepala Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora (OR – IPSH), Ahmad Najib Burhani menjelaskan bahwa A.B. Lapian adalah seorang sejarawan utama di Indonesia. Jasa Lapian yang harus diingat terus, lantaran kontribusinya yang luar biasa selaku pendiri kelompok kajian maritim sekaligus menghidupkan komunitas – komunitas maritim.

Pengakuan terhadap kepiawaian Lapian, diceritakan Najib, seorang ilmuwan dari University Malaya, Saharil Kholik memberikan gelar kepada Lapian sebagai nakhoda pertama  sejarawan di maritim Asia Tenggara. “Bahkan, pada saat itu, Antonie Ray, seorang ilmuwan dari Australia Nasional University mengatakan, tidak ada sarjana Indonesia yang lebih baik darinya yang telah mendemonstrasikan keahliannya sebagai sejarawan,” ucap Najib.

Indonesia telah diwarisi ilmu di bidang kemaritiman oleh Lapian dan kawan – kawan. Najib mengatakan, secara tidak langsung, Lapian mengajak agar kita menghargai bangsa Indonesia sebagai negara bahari dengan terus berkomitmen melanjutkan kerja Lapian tersebut. Untuk itu, BRIN melalui OR IPSH, menyelenggarakan kegiatan kuliah umum ini sebagai wujud bangsa Indonesia memaknai pentinya kelautan.

Diskusi umum yang dihelat tersebut menghadirkan dua pembicara yang sudah dikenal sebagai sahabat, teman, dan rekan kerja yang erat dengan Lapian, yaitu Taufik Abdullah dan Alex John Ulaen. Diskusi mendalam untuk mengenang Kembali sosok lapian ini dipandu oleh Kepala Pusat Riset Kewilayahan, Fadjar Ibnu Thufail.

Taufik, yang pernah mengampu jabatan Kepala LIPI periode 2000 – 2002, dalam paparannya lebih banyak berkisah tentang perjalanan panjang bersama sahabatnya, Lapian. Ia mengungkap proses pengembangan kajian riset yang dilakukan, dengan bumbu narasi pertemanannya bersama Lapian.

Sementara Alex mengaku sangat terkesan menjadi pembicara kali ini karena sama halnya mendapat kesempatan untuk menghormati sejarawan, sekaligus guru yang berjasa di bidang kemaritiman. “Kkarya dan gagasan beliau banyak menginspirasi bahkan mengalihkan perhatian saya dari seorang pembelajar etnologi ke fenomena sejarah, kebaharian, dan khususnya di kawasan laut Sulawesi serta perbatasan Indonesia dan Pilipina,” ujar Alex.

Pada kesempatan ini, Alex membahas topik “Memulung Kembara Kelana Nakhoda Kajian Maritim Indonesia”. Judul tersebut, baginya, mengandung makna analogis sosio psikologis yang membebaskan pikirannya dari persoalan legalitas. Sehingga ia bisa lebih bebas berpendapat mengagumi sosok Lapian.

Alex menyajikan data karya – karya ilmiah Lapian pada periode 1964 - 2009 dengan penemuan sejumlah 219 karya artikel dan buku khusus bertema maritim. “Tentu saja jumlah itu tidak termasuk karya – karya lainnya lagi yang masih banyak tentunya,” ucapnya dengan bangga. Lapian sangat hangat di dalam mengembangkan ilmunya, di dalam menulis karya ia berkolaborasi dengan berbagai pihak.

Ia juga mengamati dari diri seorang Lapian yang juga melakukan proses alih rupa status yang diberikan untuk orang – orang yang bekerja di dunia kelautan. “Bermula dari istilah yang digunakan seperti orang laut dan raja laut menjadi nelayan dan pengusaha nelayan. Hal ini yang juga menjadi catatan sejarah kehadiran para penguasa baru di Indonesia sebagai nelayan profesional,” tutur Alex. Ia mengakui kehebatan Lapian, dengan hal ini, telah mewariskan Kompas Penanda Kiblat dan semangat bahari bagi bangsa Indonesia.

Pada kesempatan ini, BRIN memberikan apresiasi penghargaan untuk mengenal sosok jasa A.B. Lapian. Kenang – kenangan diberikan secara langsung oleh Kepala OR – IPSH kepada perwakilan keluarga, yang dalam hal ini dihadiri oleh Gideon Lapian.

Kegiatan diakhiri dengan sambutan Kepala Pusat Riset Masyarakat dan Budaya, Lilis Mulyani. Lilis menyampaikan, bahwa kegiatan kuliah umum ini rencananya dihelat setiap tahun sekali ini. “Pak Lapian adalah pelopor, guru, dan mentor kami. Kegiatan ini kami selenggarakan untuk melihat dan mendiskusikan kembali secara lebih hidup gagasan – gagasan Pak lapian. Dengan demikian, kita bisa menghadirkan lagi riset terkait gagasan beliau,” kata Lilis menutup kegiatan. (And)