IDEN

Detail Berita

Guru Besar Teknik Komputer UI Raih Habibie Prize 2022

Diterbitkan pada 10 November 2022

Jakarta - Humas BRIN, Habibie Prize 2022 merupakan ajang pemberian penghargaan kepada mereka secara perorangan yang mempunyai kontribusi aktif di bidang iptek dan inovasi yang diselenggarakan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bekerja sama dengan Yayasan Sumber Daya Manusia Iptek (SDM IPTEK). Salah satu peraih penghargaan ini adalah seorang Guru Besar Teknik Komputer di Departemen Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia yakni Riri Fitri Sari untuk bidang ilmu rekayasa.

Sebagai seorang ilmuwan di bidang teknologi informasi, Riri berpendapat bahwa perkembangan teknologi komputer telah mentransformasi masyarakat yang memungkinkan terhubung satu dengan yang lain melalui sistem siber fisikal. Dengan begitu, tidak ada lagi sekat yang membatasi ruang dan waktu untuk dapat terhubung antara satu individu dengan lainnya.

Diungkapkan Riri, pada 2022 terdapat 4.62 miliar (58.4%)  pemakai media sosial aktif. Di Indonesia secara berurutan berdasar popularitasnya banyak digunakan WhatsApp, Instagram, Facebook, TikTok, Telegram, Twitter, Facebook Messenger, Line, Pinterest, Kuaishou dan Linkedin untuk berkomunikasi dan menjalankan kehidupan sehari-hari.

Bagi Riri yang telah memperoleh gelar doktor dari School of Computing, University of Leeds, Inggris pada 2004, bidang komputer menjadi tantangan untuk terus dikembangkan. “Bidang computer engineering adalah bidang yang sangat menantang yang memungkinkan dunia kita menjadi dunia baru yang berbasiskan pada revolusi industri 4.0,” kata Riri pada penerimaan Habibie Prize 2022 di Jakarta, Kamis (10/11).

Menurutnya, transformasi Industri 4.0  banyak difasilitasi dengan teknologi baru seperti  Internet of Things, cloud computing, sistem fisikal, big data, robot otonom,  simulasi, integrasi horizontal dan vertikal, augmented reality, dan blockchain. Semua teknologi ini selalu berada di titik puncak kurva Gartner yang merupakan patokan tren teknologi di dunia, yaitu perkembangan dalam mencapai puncak kurva, memasuki lembah kematian teknologi, dan kemudian teknologi tersebut digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Berdasarkan perkembangan tersebut, Riri yang meraih gelar profesor di usianya yang ke-39 tahun dan merupakan profesor perempuan termuda di Universitas Indonesia, bersama timnya melakukan penelitian di bidang protokol engineering. “Kemudian saya pelajari dan penelitian-penelitian di bidang protokol engineering, di bidang paralel processing cloud computing, internet of things (IOT), teknologi blockchain, dan berbagai pengembangan software engineering dan rekayasa yang memungkinkan kita mengimplementasikan berbagai hal baru,” sambungnya.

Namun, menurut Riri, yang tidak kalah pentingnya untuk mendapat perhatian khusus dari perkembangan teknologi komputer adalah mengantisipasi pengamanan sistem fisikal siber kedepannya dan pengelolaan data yang canggih berbasis kecerdasan buatan, yang dapat melindungi keamanan dan kemaslahatan umat manusia di masa depan.

Keamanan Sistem Fisikal Siber yang dikenal dengan keamanan jaringan (network security) sangat dibutuhkan agar infrastruktur komputasi, komunikasi dan penyiaran dapat memberikan koneksi yang inklusif di seluruh Nusantara. Masalah keamanan privasi data, penghindaran terjadinya akses dari pihak yang tidak berhak, otentikasi dan otorisasi untuk mengakses sistem, dan masalah keamanan lainnya harus dapat dihindari. Berbagai protokol dan pendekatan baru dilakukan secara terus menerus di seluruh dunia.

Kedepannya, konsep sistem fisikal siber yang  diterapkan dengan  Autonomous Artificial Intelligence (AAI) akan mewujudkan dunia yang dapat diprediksi. Walaupun demikian, pada kenyataanya manusia dan semesta akan selalu asimetris dan senantiasa menyediakan ruang bagi ketidaksetimbangan. Sifat dinamis alam, akan memunculkan berbagai kejutan.

“Keamanan jaringan komputer  yang berupa sistem fisikal siber, adalah hal yang saya tekuni dari awal karir sebagai computer scientist by training. Dari ratusan Data Center yang sudah saya kunjungi di  berbagai Universitas-universitas dan Perusahaan di dunia, saya melihat perkembangan teknologi dari mekanisme congestion control dengan active network, virtualisasi server dan cloud computing (komputasi awan) yang menyediakan layanan perangkat keras dengan berbagai metodologi atau teknik pengumpulan data,” tuturnya.

Selain itu, Riri bersama timnya membuat inisiatif besar yang diakui di seluruh dunia yakni UI Green Metric World University Rankings, sebuah sistem yang menyimpan Big Data di bidang keberlanjutan untuk 956 universitas di seluruh dunia dari 80 negara. Inisiatif ini merupakan flagship Universitas Indonesia yang dimulai pada tahun 2010 untuk memberikan hasil survei daring mengenai kondisi terkini dan kebijakan terkait green campus serta keberlanjutan di universitas seluruh dunia.

Selama pandemi Covid-19, Riri terus berbagi menyebarkan ilmu-ilmu yang telah ditekuninya dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi, diantaranya dengan membangun komunitas Poetry Reading Society of Indonesia (https://puisi.art) yang memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk membangun komunitas preservasi budaya literasi berbasis teknologi. 

Menurutnya, teknologi menyebabkan lingkungan kita berubah secara radikal. Komputasi tidak lagi mahal dan dapat dibagi pakai. Dengan komputasi awan (Cloud Computing) vendor dapat melayani dan menyediakan infrastruktur yang dibutuhkan pengguna. 

Infrastruktur untuk mendukung operasi bisnis, yaitu perangkat keras, server, sistem operasi, media penyimpanan (storage) data, dan peralatan jaringan dapat menggunakan Data Center terdistribusi. “Cloud computing yang canggih dan biaya lebih rendah dapat disediakan bagi masyarakat. Bidang Internet of Things dan Teknologi Blockchain serta implementasi machine learning dan kecerdasan artifisial sangat menentukan konstelasi platform yang akan digunakan untuk menjadi niche dari pengolahan data di dunia,” ungkapnya.

Teknologi Blockchain kata Riri, sedang diupayakan untuk diimplementasikan pada berbagai ekosistem yang memungkinkan terwujudnya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Implementasi teknologi blockchain untuk berbagai masalah kemanusiaan dapat dilakukan dengan sistem yang terdesentralisasi dan berbasis kepercayaan. 

Kemudahan untuk melakukan tracing pada data di blockchain akan membentuk keteraturan dan cara-cara demokratis baru di berbagai sendi kehidupan. Optimisme pengelolaan infrastruktur yang baik di masa depan akan memungkinkan dunia yang lebih baik jika di bangun dari sistem yang mempertimbangkan masalah etika. 

“Dunia komputasi dan intelegensi masa depan adalah dunia yang terbuka luas untuk dibangun secara kolaboratif, demi peradaban yang memberi tempat bagi kesejahteraan semua orang,” pungkasnya. (Pur)