
Jakarta - Humas BRIN. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Yayasan SDM Iptek kembali menggelar Habibie Prize 2022, sebagai penghargaan tertinggi bagi para periset di Indonesia. Kepala BRIN Laksana Tri Handoko mengatakan bahwa ini menjadi komitmen BRIN untuk terus melanjutkan penyelenggaraan Habibie Prize setiap tahunnya.
"Ini juga menjadi bagian dari program manajamen talenta nasional BRIN untuk bidang riset dan inovasi, BRIN menyiapkan skema bagi periset masa depan Indonesia mulai dari S1, S2, S3 dan Post Doct. Habibie Prize ini menjadi penghargaan ultimate bagi periset yang sudah malang melintang dan memiliki rekam jejak yang baik," ujarnya dalam konferensi pers Habibie Prize 2022, Kamis (10/11).
Handoko berharap, kepada para empat peraih Habibie Prize agar terus berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan. "Tentu ini bukan akhir, justru ini menjadi awal untuk membentuk yang muda-muda. Sehingga kita akan terus memiliki generasi periset unggul di negara kita," harapnya.
Ketua Yayasan SDM Iptek, Wardiman Djojonegoro menyampaikan sejarah singkat diselenggarakannya Habibie Prize. Pada tahun 1999, Almarhum BJ Habibie mendirikan Yayasan SDM Iptek untuk mengembangkan iptek nasional. Salah satu programnya ialah Habibie Award.
"Yang unik dari Habibie Award (Habibie Prize sekarang), ini penghargaan tidak hanya untuk satu bidang tapi lima bidang. Kedua yang unik hadiahnya 25ribu dolar. Waktu itu, banyak yang kritik hadiahnya terlalu banyak. Namun pak Habibie mengatakan tidak, karena hadiah ini untuk apresiasi bagi para peneliti," ungkap Wardiman.
Tema dari Habibie Prize ini, kata Wardiman, adalah keungguluan dari lima bidang iptek tersebut. Dia pun mengaku berterimakasih karena pada tahun 2021, Habibie Award kemudian naik tingkat menjadi Habibibe Prize. Di mana penyelenggaranya dilakukan oleh pemerintah dalam hal ini BRIN. Sedangkan, Yayasan SDM Iptek hanya menjadi semacam peer grup yang memberikan saran dalam memilih pemenang.
"Kami harapkan kerja sama ini terus berlanjut, kami sangat menghargai karya dari Pak Habibie ini dilanjutkan dan naik menjadi level internasional," ucapnya.
Anggota Dewan Pembina Yayasan SDM Iptek yang juga Perwakilan Keluarga BJ Habibie, Ilham Akbar Habibie juga menyampaikan terima kasih kepada BRIN dan menyampaikan selamat kepada para peraih Habibie Prize 2022. Dia berharap para peraih Habibie Prize 2022, dapat memberikan contoh kepada yang lainnya.
"Kalau kita lihat masa depan, banyak yang akan bertumpu pada kemampuan kita melakukan riset dan inovasi serta juga kewirausahaan kita. Kalau kita tidak melakukan itu, maka kita akan susah mewujudkan Indonesia Emas. Pondasi dari indonesia emas itu adalah keunggulan Iptek Nasional. Berdasarkan itulah ekonomi dan masyarakat kita akan bisa maju dan sejahtera," kata Ilham.
Pada Habibie Prize 2022, empat orang ilmuwan mendapatkan penghargaan, yaitu Ocky Karna Radjasa (Ilmu Pengetahuan Dasar), Ika Dewi Ana (Ilmu Kedokteran dan Bioteknologi), Riri Fitri Sari (Ilmu Rekayasa) dan Naufan Noordyanto (Ilmu Kebudayaan). Saat memberikan testimoni dalam konferensi pers, Ocky menyampaikan penghargaan Habibie Prize diberikan kepadanya dalam bidang ilmu dasar.
"Saya mendapatkan anugerah di bidang ilmu dasar, khususnya pengembangan yang langka di Indonesia yaitu mikrobiologi laut dalam. Saya berharap ini akan menjadi kekuatan baru di pusat riset laut dalam dan juga BRIN. Paling tidak dengan pengakuan ini menunjukan bahwa mikrobiologi laut dalam itu penting. Sekali lagi dengan penghargaan ini saya harapkan akan lebih banyak lagi kegiatan riset laut dalam di indonesia," ucap pria yang juga Kepala Organisasi Riset Kebumian dan Maritim BRIN itu.
Sementara itu, Ika Dewi Ana yang mendapatkan Habibie Prize bidang Ilmu Kedokteran dan Bioteknologi. Dia menyampaikan terima kasih atas penghargaan yang diberikan. Fokus penelitiannya adalah regenerasi untuk masa depan melalui rekayasa jaringan.
"Kalau kita bicara tubuh manusia itu terdapat jaringan yang terdiri atas dua, yaitu sel dan matriks ekstra seluler. Kalau terjadi kerusakan misalnya pada matriks ekstra seluler maka kita harus membuat sesuatu yang harus sama persis identik dengan aslinya matrik ekstra seluler pada tubuh kita. Itulah bidang pekerjaan saya," ungkap Ika.
"Misalnya kita kehilangan tulang, katup jantung, saraf terpotong dan sebagainya, itu jika rusak atau hilang, maka digantikan dengan apa yang disebut dengan perancang biomedis yaitu harus sama persis kondisinya pada tubuh kita," tambah Ika. Dengan ditopang melalui potensi biodiversitas, serta teknologi, dia berharap ke depan penelitiannya ini bisa bermanfaat untuk kesejahteraan manusia di masa depan.
Riri Fitri Sari meraih penghargaan Habibie Prize bidang ilmu rekayasa. Riri mengatakan dia banyak terlibat dalam mengembangkan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi, teknologi pengembangan network protocol, system block chain dan IoT untuk berbagai sistem.
"Saya yakin ke depan diperlukan cara kita bersama untuk menemukan talenta muda yang berberbakat dan memiliki kemauan untuk mau mengembangkan computer of chain sehingga pengembangan teknologio informasi tidak akan kalah robot yang kita buat tetapi etika yang kita harapkan ke depan akan diterapkan juga. Sehingga mechine learning saat ini, tetapi manusia juga tetap belajar," jelasnya.
Riri mengaku terharu dengan penganugerahan Habibie Prize. Menurutnya, alm eyang Habibie telah menjadi panutan sejak SMA dulu. "Saya ucapkan terima kasih kepada keluarga besar Pak Habibie. Mungkin saya adalah contoh dari anak-anak intelektual Habibie. Kami sangat tersanjung," ungkapnya. (jml)