
Bandung - Humas BRIN. Rumah luluh lantak dan reruntuhan bangunan menjadi sebuah pemandangan yang terhampar di daerah yang terdampak gempa dengan kekuatan Magnitudo 5.6 di Cianjur pada Senin, (21/11). Menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per tanggal 23 November 2022 tercatat 271 warga meninggal dunia pasca gempa dan korban luka tercatat 2.043 orang, mengungsi 61.908 orang, sedangkan kerugian materil sebanyak 56.320 rumah alami kerusakan dengan rincian rusak berat 22.241 unit rumah, rusak sedang 11.641 unit rumah dan rusak ringan 22.090 unit rumah.
Profesor Riset BRIN bidang Ilmu Kebumian, Danny Hilman Natawidjaja dalam wawancaranya dengan Metro TV (22/11/2022) mengatakan, gempa ini terjadi karena sumber gempa di darat dari satu sesar aktif di dekat Cianjur yang belum terpetakan sebelumnya. Jadi ini satu sumber gempa ini belum kita ketahui sebelumnya.
“Memang dekat dengan jalur Sesar Cimandiri yang sudah dikenal sejak lama ya. Tapi itu bukan di Sesar Cimandiri,” jelas Danny.
Menurut Danny, Gempa tidak dapat diprediksi tapi persiapan itu yang harus kita lakukan baik di tata ruang ataupun yang lebih penting lagi adalah di kode bangunan yaitu struktur bangunan yang tahan gempa. “Kebanyakan kerusakan terjadi penyebabnya adalah struktur bangunan yang tidak tahan gempa. Strukturnya tidak baik,” jelas Danny.
Dikatakan Danny, gempa susulan akan terjadi tetapi tidak akan berlangsung lama, diperkirakan hanya beberapa hari karena gempa tidak terlalu besar. Gempa susulan adalah satu proses gempa-gempa kecil yang mengiringi gempa yang besarnya sebagai proses untuk kesetimbangan alam.
“Gempa susulan merupakan sisa-sisa yang belum terlepas. Pergerakan yang selanjutnya untuk menyeimbangkan sampai betul-betul setimbang. Ini adalah proses yang biasa,” ungkap Danny.
Hal senada dikatakan Peneliti dari Pusat Riset Kebencanaan Geologi Mudrik Rahmawan Daryono, dalam wawancara dengan CNN (23/11), gempa bumi di Cianjur pada awal terjadi diperkirakan berasal dari sisi sebelah Selatan yaitu dari sesar Cimandiri. “Tetapi hasil posisi gempa dari kawan-kawan seismologi, dari BMKG, menunjukkan dia berada di arah utaranya, mengindikasikan bahwa bukan bagian dari sesar Cimandiri. Jadi sesuatu sesar yang belum terpetakan,” jelas Mudrik.
Menurut Mudrik, sebuah gempa bumi akan berulang di lokasi yang sama. Gempa bumi akan memiliki periode ulang. BRIN telah melakukan penelitian untuk mencari tahu jejak-jejak yang sebenarnya dari patahan-patahan yang menghasilkan gempa bumi.
“Kami melakukan penelitian dengan melihat kejadian gempa bumi lampau, gempa bumi yang pernah terjadi di wilayah Jawa Barat, bahwa gempa pernah terjadi tahun 1800 an sekian. Jadi kalau kita hitung kemungkinan kalau dia bersumber dari lokasi yang sama dia memiliki periode ulang 180 tahun.Tapi kita harus lebih rinci menunjukkan di mana jelas sesar aktif itu berada,” terang Mudrik.
Menurut Mudrik, hampir seluruh pulau Jawa memiliki sesar yang memiliki potensi gempa yang besar. Menurut Mudrik, sesuatu yang harus selalu diwaspadai dan masyarakat akan selalu hidup dengan ancaman itu. Yang harus dilakukan bersama bagaimana hidup dengan aman dengan ancaman gempa bumi.
“Menurut saya semua ini adalah tanggung jawab kita semua, jadi kita bergerak sedikit demi sedikit untuk memperbaiki dan memitigasi permasalahan kita ini. Menurut saya apa yang dilakukan oleh pemerintah daerah, pemerintah daerah pun juga sudah mengadopsi dan lain sebagainya, tetapi proses mengubah dengan drastis itu tidak bisa terjadi secara instan itu memang perlu waktu, menjelaskan ke masyarakat pelan-pelan untuk memerlukan waktu untuk proses semuanya tuh bisa serentak untuk lebih baik. Mungkin ini adalah pelajaran kita bersama bahwa jelas bangunan itu perlu bangunan tahan gempa dan kita semua pun harus melakukan kesiapsiagaan ini. Termasuk Jakarta, Bandung, Cirebon, di wilayah seluruh pulau Jawa dan Sumatera itu sesuatu yang harus kita lakukan,” jelas Mudrik.
Pentingnya Pemahaman Sumber Gempa
Peneliti BRIN di Pusat Riset Kebencanaan Geologi Nuraini Rahma Hanifa, memberikan penjelasan mengenai gempa yang terjadi di Cianjur dalam rubrik Opini di HU. Media Indonesia (23/11/2022) bahwa banyaknya kerusakan dan kematian akibat gempa Cianjur diakibatkan tiga hal. Pertama, kondisi geologi yang berada pada lapisan tanah breksi yang meningkatkan kerentanan terhadap gempa. Kedua, kedalaman episentrum gempa, dan ketiga, rentannya bangunan yang berada di wilayah Cianjur.
Rahma mengatakan, bangunan tahan gempa tidak mesti dibangun secara tata cara modern, tetapi juga diketahui bahwa rumah dan bangunan tradisional di Indonesia tahan terhadap guncangan gempa.
Menurut Rahma, gempa-gempa masih akan terus terjadi di Indonesia. Karenanya ia menuliskan tujuh kiat sederhana untuk hidup harmonis dengan gempa. Pertama, paham sumber dan bahaya gempa di sekitar, zona aman dan tidak aman di sekitar kita. Sumber dan bahaya gempa dapat diakses di antaranya pada portal Inarisk.bnpb.go.id. Kedua, perkuat bangunan agar tahan gempa. Perlu kita ingat bahwa kematian terbesar akibat gempa diakibatkan oleh keruntuhan bangunan. Namun, disisi lain penting kita ketahui bahwa rumah dapat didesain tahan terhadap guncangan gempa, baik dengan mengikuti kode bangunan maupun dengan menerapkan kearifan lokal.
Ketiga, perkuat furniture yang ada di rumah sehingga tidak mudah berjatuhan dan pecah. Keempat, siapkan peralatan P3K dan tas darurat untuk dapat bertahan hidup secara mandiri selama 36 jam pertama setelah gempa. Kelima, pasca gempa utama, waspadai gempa susulan. Periksa kondisi rumah, jika berubah menjadi miring, jangan ditempati sebelum diperbaiki. Keenam, waspadai bahaya ikutan. Jika berada di daerah berbukit dan berlereng, waspadai longsor yang dapat terjadi. Jika berada di wilayah pantai, waspadai tsunami yang dapat terjadi, segera evakuasi menjauh dari pantai atau ke tempat yang lebih tinggi.
Ketujuh, berlatihlah bersama keluarga, sekolah, rekan kerja, dan lingkungan sekitar. “Terakhir, ‘bukan gempanya, melainkan bangunannya’. Jika gempa kembali terjadi dalam hidup kita, semoga kita semua dapat selamat,” tutup Rahma dalam tulisannya. (NU/ed:pur)