IDEN

Detail Berita

Tri Mumpuni: Banyak Peneliti Hebat di BRIN, Tapi Mereka "Bekerja dalam Sunyi"

Diterbitkan pada 12 Desember 2022

Jakarta - Humas BRIN. Anggota Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Tri Mumpuni menyampaikan apresiasi kepada Prof Muhayatun Santoso yang mendapatkan kesempatan memberikan G.A. Siwabessy Memorial Lecture, Senin (12/12) di Kampus BRIN Gatot Subroto Jakarta. Bahkan, dia menyebutkan sebenarnya banyak peneliti-peneliti hebat yang ada di BRIN. Namun masih belum terlihat dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat secara langsung.

"Saya sebut peneliti-peneliti ini mereka bekerja dalam sunyi, karena sebetulnya di BRIN ini banyak orang hebat dan karya hebat. Tapi belum terlihat dan dirasakan masyarakat luas. Karena belum terkomunikasikan dengan baik. Harapan saya BRIN dapat memberikan penghargaan kepada siapa pun yang mampu berbuat sesuatu untuk menyumbangkan ide bagi dunia riset sehingga masyarakat tersadar banyak riset yang telah kita capai," ungkap perempuan penggagas Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) itu.

Tri juga mengapresiasi atas terselenggaranya acara G.A. Siwabessy Memorial Lecture. Dia berharap kegiatan seperti ini bisa memberikan inspirasi tidak hanya bagi peneliti, tapi juga bagi masyarakat. "Terlebih bila kita bicara Nuklir, yang sampai saat ini menjadi perdebatan yang luar biasa, dari tahun 90 sampai sekarang, namun Indonesia belum tahu kita harus berbuat apa dengan nuklir ini," ucapnya.

Selain itu, Tri juga merasa program yang digelar oleh BRIN untuk memberikan penghormatan kepada GA Siwabessy ini sangat luar biasa. Hal ini mengingat G.A. Siwabessy sangat dekat dengan keluarganya. "GA Siwabessy merupakan orang pertama yang menjadi Kepala Batan dan mertua saya merupakan sekjen pertama Batan," katanya. 

Di sisi lain, Tri berpendapat bahwa nuklir bisa menjadi jawaban untuk kebutuhan energi bersih masa depan. Hal ini mengingat kebutuhan energi pada 2060, diperkirakan akan mencapai 600ribu megawatt. Sedangkan, penghasil energi bersih baik yang bersumber dari air, panas bumi, hingga angin diperkirakan baru bisa menghasilkan 220 ribu megawatt. 

"Di sini ada sisa gap 300-400ribu megawatt yang perlu dipenuhi. Dan mungkin nuklir merupakan jawaban. Apalagi kita menargetkan net zero emissin tahun 2060, sehingga kebutuhan energi bersih dari energi nuklir akan sangat dibutuhkan," jelasnya.

Namun demikian, Tri menyebutkan terdapat beberapa tantangan dalam pengembangan energi nuklir di Indonesia. Salah satunya, seperti persoalan penanganan sampah nuklir. Selain itu, pemahaman masyarakat yang juga masih sangat khawatir dalam pengembangan energi nuklir. 

"PR kita yaitu menjawab bagaimana sampah nuklir ini dibuang, ini yang menjadi konsern dan perhatikan saat ini. Saya harap ada riset-riset yang dapat diaplikasikan dengan baik untuk membantu persoalan-persoalan yang dihadapi di Indonesia khususnya energi nuklir. Saya pikir nuklir ini akan mendapat apresiasi dari masyarakat sekaligus juga menjawab dan membuktikan ketakutan masyarakat sejauh ini," pungkasnya. (jml)