
Jakarta-Humas BRIN. Ajang G.A. Siwabessy Memorial Lecture 2022 hari ini, adalah momen yang pertama kali diselenggarakan, sebagai rangkaian dari upaya kami di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk memberikan apresiasi yang membawa spirit dari para pendahulu kami, terkait dengan aktivitas riset, iptek dan inovasi. Hal tersebut disampaikan oleh Kepala BRIN Laksana Tri Handoko, saat konferensi pers di Kampus BRIN Gatot Subroto Jakarta, pada Senin (12/12).
Handoko menambahkan, kita punya Habibie Prize, Sarwono Memorial Lecture, Sarwono Award, dan Nuratanio Pringgoadisuryo Lecture. “Mulai tahun depan akan ada tambahan, yaitu Nurtanio Award dan Siwabessy Award. Khusus untuk Siwabessy diperuntukkan bagi para periset dan akademisi, yang memang berkiprah di bidang teknologi nuklir,” ucapnya.
Handoko juga menjelaskan iptek nuklir pada bidang kesehatan, bahwa BRIN membawa ide baru ke Kemenkes RI untuk membuat fasilitas bersama, seperti untuk terapi proton. Terapi ini penting, sebagai salah satu teknologi yang cukup maju, relativ jauh berpotensi merusak sel-sel di sekitar organ tubuh, tidak seperti kemo. “Namun terapi proton itu mahal, dan kalau RS swasta bisa melakukan sendiri. Total investasinya bisa mencapai 1 trilyun, termasuk gedung, penyiapan SDM, dsb nya. Hal itu yang kita tawarkan, untuk Kawasan KST Siwabessy di Pasar Jumat, dan semua RS bisa memakainya,” ungkapnya.
Lebih jauh Handoko menerangkan tentang iptek nuklir, bahwa iptek nuklir itu tidak selalu energi yaitu PLTN. Banyak aplikasinya khususnya di bidang kesehatan, dan sudah pasti setiap RS ada yang berhubungan dengan teknologi nuklir. Itulah sebabnya kita memiliki Politeknik Nuklir juga, karena kebutuhan akan hal tersebut sudah di depan mata. “Iptek nuklir dalam aplikasi kesehatan atau medis sangat urgent, bayangkan kalau kita harus berkutat dengan teknologi jaman dulu. Padahal kita sudah memiliki teknologi yang baru, tetapi hanya karena mahal kita tidak bisa mengaksesnya,” tandasnya.
Selanjutnya Handoko mengutarakan, masalah pembangunan revitalisasi fasilitas riset iptek nuklir, yang akan dilakukan di KST Habibie di Serpong untuk pembangunan akselerator, selain revitalisasi reaktor nuklir Siwabessy yang sudah tua. “Setelah kita perhatikan, kita kekurangan SDM, kalau masalah anggaran masih bisa dicari. Kita tidak mungkin membuat fasilitas yang terkini, tapi tidak ada orang yang paham akan hal itu, yang punya jam terbang dalam pembangunannya. Sekarang kita sedang melakukan percepatan SDM nya dulu, khususnya teknologi akselerator,” bebernya.
Prof Muhayatun Santoso Periset Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN)
BRIN mengaku, sebagai sebuah kehormatan baginya saat mendapatkan G.A. Siwabessy Memorial Lecture 2022.
Dirinya yakin, masih banyak orang lain yang bisa berkiprah sangat baik,
dalam memanfaatkan teknologi nuklir di Indonesia.
“Motivasi saya pada saat pertama kali kerja di BATAN (saat itu), kita mempunyai berbagai fasilitas yang sangat canggih, dan dulunya sangat limited dimiliki oleh institusi di Indonesia. Jangan sampai fasilitas yang canggih ini, tidak mampu menyelesaikan berbagai permasalahan yang ada di masyarakat. Mulai dari membangun laboratorium yang terakreditasi, baik nasional maupun internasional, dan mengikuti ISO,” tegasnya.
Dirinya menambahkan, Indonesia sebagai negara berkembang, tidak bisa
meminta semua fasilitas canggih ada di Indonesia. “Saya harus mempunyai akses, untuk memanfaatkan fasilitas dari negara-negara maju. Jadi tidak ada excuse,
kita tidak bisa maju. Pintu terbuka sangat lebar, kolaborasi bisa kita lakukan.
Setidaknya dengan IAEA, yang bisa membawa sebagai jembatan untuk memanfaatkan
berbagai fasilitas yang kita perlukan,” katanya antusias.
“Saya yakin, BRIN punya cita-cita besar untuk mengembangkan semua fasilitas yang ada di Indonesia. Hanya saja memang melakukan kegiatan seperti ini butuh passion, dan melakukannya harus dengan sungguh-sungguh. Generasi muda harus lebih baik, karena BRIN dan Indonesia sedang menyiapkan fasilitas-fasilitas yang lebih baik, untuk pelaksanaan riset ke depan,” akunya.
Muhayatun menjabarkan, terkait dengan kualitas udara di Indonesia, negara kita memang cukup unik. “Kita bisa mengidentifikasi kualitas udara di masing-masing perkotaan, tergantung dari sumber-sumber yang ada di perkotaan tersebut. Saat ini kita sedang concern dengan kota-kota yang memiliki industri yang banyak. Setiap setahun atau dua tahun sekali, kita memberikan laporan ke kota-kota tersebut, mengenai apa yang kita lakukan,” tambahnya.
Ada beberapa kandungan logam berat yang lebih tinggi, ungkapnya, dan kalau kita mengetahui advance material nya lebih awal, itu bisa menjadi early warning. Selanjutnya, jika kita mengetahui siapa yang menjadi sumber, maka hal ini akan sangat bagus bagi pemerintah untuk mereduksinya. Local government bagaimana strateginya, untuk mereduksinya. “Beberapa hal kita lihat, memang tidak menurun, tetapi kalau mereka bisa membuat tidak meningkat, itu sudah cukup baik. Hal ini disebabkan industri yang semakin bertambah, jumlah masyarakat semakin bertambah, otomatis populasinya bertambah, serta aktivitas antropogeniknya juga bertambah,” jelasnya.
Muhayatun menginginkan, semua lini bekerja sama kalau ada hal-hal yang sangat spesifik, kemudian dikomunikasikan dengan Dinas Lingkungan, agar mereka mencari jalan ke luar. Hal yang lebih penting dengan teknologi yang kita kuasai, kita mampu mendeteksinya secara dini. Memastikan masyarakat dan sekitarnya itu, terjaga keselamatannya.
Terkait dengan kandungan logam berat, khususnya timbal (Pb) di udara ambien, maka tentunya kalau ada konsentrasi Pb di udara ambien, yang paling riskan adalah anak-anak. Mereka terus menerus menghirup udara seperti itu, maka kadar darah Pb di dalam tubuh anak-anak yang akan dideteksi. “Jika sudah melebihi baku mutu yang ditetapkan, satu-satunya jalan adalah meminta rekomendasi dari dokter. Kemudian dikasih tablet, untuk mengkompetisi agar Pb yang diserapnya tidak terlalu banyak. Hal ini sebagai pencegahan terhadap anak-anak, agar Pb nya tidak mengendap di dalam terlalu lama,” tuturnya.
Dirinya menyatakan, kita juga mempunyai berbagai industri, dengan harapan negara kita maju dengan industri, tapi industri yang bersih. Kalau kita tahu sumbernya kita sampaikan ke pemerintah, agar pemerintah memberikan berbagai solusi. Salah satunya, dengan cara agar emisi-emisi yang keluar partikulat halusnya atau particulate matter (PM) nya semakin sedikit.
Menurut BMKG Partikulat (PM2.5) adalah Partikel udara yang berukuran lebih kecil dari 2.5 mikron (mikrometer). Sedangkan, Nilai Ambang Batas (NAB) nya adalah Batas konsentrasi polusi udara yang diperbolehkan berada dalam udara ambien. NAB PM2.5 = 65 µgram/m3.
Muhayatun mempresentasikan, kalau yang biasa dilakukan di monitoring,
itu hanya PM2.5 dan
jumlah konsentrasinya. Sedangkan yang kami lakukan dengan teknologi nuklir, di
dalam PM2.5 itu,
ada komposisi kimianya, ada Pb, Zn, Fe dsb nya. “Kita akan mengetahui lebih
detail, itulah kuncinya untuk menentukan sumber pencemar. Jadi, sumber pencemar emisi
dari masing-masing industri itu, ada key element nya. Kalau ada korelasi elemen
yang satu dengan lainnya, itu kemungkinan berasal dari aktivitas industri.
Tentunya dengan pengaruh arah angin, dan kecepatan angin juga,” pungkasnya.
(ns)