
Cibinong - Humas BRIN. Suhu global diperkirakan akan melonjak dalam lima tahun ke depan karena dipicu oleh efek gas rumah kaca dan El Nino yang terjadi secara alami (Organisasi Meteorologi Dunia). El Nino merupakan fenomena pemanasan muka air laut di Samudera Pasifik yang berdampak pada penurunan curah hujan termasuk di Indonesia.
Dampak El Nino terhadap sektor pertanian terasa sangat signifikan terutama pada penurunan produksi dan kualitas hasil pertanian, berkembangnya hama penyakit tanaman, penyerbukan tidak sempurna sehingga hasil tidak maksimal, dan musim tanam akan bergeser dengan risiko kekeringan.
Sejalan dengan hal tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional melalui Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP) menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) ROAFERIAN #2 secara luring di Gedung Teratai KST Soekarno, Cibinong bertajuk "Strategi Riset dan Inovasi Menghadapi El Nino Menuju Pertanian Modern Berkelanjutan" pada Rabu (9/8). FGD ini salah satu rangkaian kegiatan peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harteknas), BRIN 2023.
Deputi Bidang Kebijakan Riset dan Inovasi BRIN, Boediastoeti Ontowirjo menyampaikan dalam hal pertanian berkelanjutan El Nino dapat menimbulkan gangguan dan tantangan seperti kekeringan, meningkatkan perkembangbiakan hama, kebakaran hutan, degradasi lahan, masalah irigasi, dan peternakan. "Untuk mengatasi hal tersebut khususnya pada sektor pertanian kebijakan riset dan inovasi fokus pada adaptasi, mitigasi, dan ketahanan pertanian terhadap perubahan cuaca dan iklim terkait dengan fenomena El Nino," tuturnya.
Dirinya juga menjelaskan kebijakannya yaitu pertama berkaitan dengan pengembangan varietas tanaman toleran kekeringan dapat berupa riset untuk mengidentifikasi, mengembangkan dan memperkenalkan varietas tanaman tahan kekeringan dan memiliki produktivitas yang tinggi merupakan kunci dalam mengurangi resiko kerugian panen akibat El Nino. Kedua, praktek pertanian berkelanjutan berupa riset-riset mengenai pengelolaan air yang efisien, pupuk, pestisida, rotasi tanaman dapat membantu meningkatkan ketahanan tanaman terhadap perubahan cuaca ekstrim.
"Selain itu, dalam peningkatan produktivitas melalui teknologi pertanian berupa riset-riset dalam penggunaan teknologi pertanian modern seperti pemantauan tanaman berbasis sensor, sistem informasi geografis, teknik pemupukan dan penyiraman yang presisi. Semua itu dapat membantu meningkatkan produktivitas, efisiensi pertanian, dan membutuhkan kolaborasi antar Pusat Riset dan Organisasi Riset," ungkapnya.
Pada kesempatan yang sama Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN, Puji Lestari menuturkan pentingnya dampak spesifik El Nino terhadap pertanian dapat bervariasi tergantung pada wilayah dan intensitas peristiwa El Nino. Kondisi iklim lokal, praktek pertanian, dan kapasitas adaptasi petani juga memainkan peran penting dalam menentukan dampak keseluruhan terhadap pertanian berkelanjutan.
"FGD hari ini diharapkan dapat menghimpun saran dan informasi terkait dampak El Nino dan strategi kongkret antisipasi dampaknya terhadap pertanian berkelanjutan. Membangun kesepahaman peran dalam rangka mitigasi dan antisipasi dampak El Nino dan membuat draf rumusan terkait strategi riset dan inovasi mitigasi dan antisipasi dampak El Nino dari pemangku kepentingan terkait terhadap pertanian berkelanjutan," ucapnya.
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Elza Surmaini menerangkan tentang Riset dan Inovasi untuk Antisipasi dan Mitigasi dampak El Nino. Kajian adaptasi kekeringan banyak difokuskan pada komoditas pangan, terutama padi, namun masih terbatas pada komoditas lain. "El Nino diproyeksikan akan semakin sering dan tinggi intensitasnya di masa datang. Riset berbasis Climate Smart Agriculture untuk adaptasi kekeringan perlu menjadi prioritas," katanya.
Sebagai informasi FGD dihadiri pula oleh Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Hortikultura dan Perkebunan, Muhammad Syakir sebagai moderator dan para narasumber lainnya yaitu Kepala Balai Besar Pengujian Standar Instrumen Sumber Daya Lahan Pertanian (Kementan) yang mewakili Plt. Kepala Badan Standardisasi Instrumen Pertanian, Rahmawati tentang Pertanian Cerdas Iklim Inovatif Menuju Pertanian Modern, Ketua Afiliansi Peneliti Pertanian Indonesia (APPERTANI), Irsal Las tentang Implementasi Riset Menghadapi El Nino untuk Pertanian Berkelanjutan, Wakil Ketua Dewan Pakar Masyarakat Petani dan Pertanian Organik Indonesia (MAPORINA), Bustanul Arifin tentang Spektrum Kebijakan untuk Pembangunan Pertanian Modern Berkelanjutan. FGD juga dihadiri oleh peserta yang berasal dari Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementan, Direktorat Hortikultura Kementan, Direktorat Jenderal Perkebunan Kementan, Institut Pertanian Bogor, Telkom University, PT Planet Net Zero Nusantara, MAPORINA, APPERTANI, KEHATI, dan periset ORPP BRIN.
Rumusan FGD
Kepala Pusat Riset Peternakan, Tri Puji Priyatno memaparkan beberapa rumusan hasil FGD antara lain El Nino memberikan dampak yang luas, baik terhadap klimatologi & meterologi, hidrologi, agronomi, maupun sosial-ekonomi. Meskipun El Nino memberikan dampak yang negatif terhadap sektor pertanian, tapi juga ada potensi yang bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan produksi, seperti lahan rawa yang bisa ditanami.
"Berbagai teknologi untuk mengantisipasi dampak el nino sudah banyak dikembangkan, yang perlu dikemas dalam sistem yang holistik melalui pengembangan sistem pertanian cerdas iklim," jelasnya.
Kemudian Tri juga menekankan sistem pertanian cerdas iklim perlu terus ditingkatkan dan dimutakhirkan dengan perkembangan teknologi dan teknologi pertanian modern dari hasil riset yang komprehensif. El Nino tidak perlu dihadapi dengan kekhawatiran tetapi harus dipandang sebagai anugerah dan rakhmat yang datang Yang Maha Kuasa, sehingga kita mampu mengantisipasi & menanggulanginya dengan baik.
Lebih lanjut Tri menyatakan strategi transfer teknologi hasil riset dan inovasi membutuhkan media, pihak-pihak/institusi/lembaga yang berperan sebagai penghubung yang efektif antara periset atau lembaga riset (BRIN) dengan end user (petani). "Kita harus terus perbaiki national agricultural research system yang ada saat ini untuk membangun ekosistem Inovasi yang akan menjadi kemitraan/jembatan antara lembaga riset dengan pengguna," pungkasnya. (yl)