IDEN

Detail Berita

Konsisten Dalam Pengembangan Sastra dan Budaya, Prof Melani Terima Sarwono Award

Diterbitkan pada 24 Agustus 2023

Jakarta - Humas BRIN. Konsistensi Professor Melani Budianta dalam melakukan pengembangan kajian sastra dan budaya, membawanya diganjar dengan penghargaan Sarwono Award. Penghargaan itu tertuang dalam Surat Keputusan Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) No 245/I/HK/2023 tentang penerima sarwono award 2023 kepada Prof Melani Budianta atas jasanya dalam pengembangan iptek khususnya ilmu budaya.

Hidup dalam keluarga pencinta sastra dan buku. Melani mengaku saat kecil ada aturan tidak tertulis, ketika ada yang ulang tahun hanya diberi hadiah buku atau karya kreasi sendiri. Jadi tidak heran, setelah SMA dia memilih Jurusan Sastra Inggris di Universitas Indonesia (UI).

"Tahun 1979 saya menerima beasiswa S2 di Amerika dan pulang mengajar. Lalu kemudian melanjutkan S3. Ketika pulang saya mengembangkan kajian sastra dan culture studies di UI," ungkap Melani saat memberikan sambutan penerima Sarwono Award yang diberikan oleh Kepala BRIN, Laksana Tri Handoko di Auditorium Soemitro Djojohadikoesoemo, Gedung BJ Habibie, Jakarta, Rabu (23/8).

Menurutnya, perkembangan sastra tidak lepas dari masyarakatnya. Walaupun sekarang pengembangannya terkoneksi secara digital. Misalnya saja, saat ini berkembang sastra dari game, di mana ada buku sastra yang dialihmediakan ke dalam game. "Jadi mula-mula mereka mempelajari sastra dari game dulu, setelah itu mereka nonton filmnya, baru mereka tahu bukunya. Jadi sekarang anak-anak banyak belajar sastra dari game," ulasnya. 

Selain aktivitasnya sebagai guru besar FIBUI, dengan kepakaran di bidang sastra dan budaya, Prof Melani terus aktif mengembangkan kajian budaya di Indonesia dengan menjadi anggota jejaring digital aktivitas kampung yaitu jaringan kampung nusantara (Japung Nusantara) dan mengembangkan kajian transdisiplin untuk membangun pengetahuan budaya bersama aktivis lokal. 

Dia pun mengapresiasi atas penghargaan Sarwono Award yang diberikannya, sebagai bentuk dukungan dalam membangun ketangguhan budaya. "Sekalipun negara kita mengembangkan teknologi canggih tetapi tanpa membangun budayanya, maka Indonesia akan menjadi negara yang kehilangan rohnya," tukasnya.

Maka dari itu, tantangan saat ini, lanjut Melani, adalah bagaimana mengembangkan akses sastra dan budaya ke masyarakat. Itu dibangun dengan cara membaca buku secara lebih luas. Dikatakannya peran sastra sangat strategis dalam membangun identitas bangsa. Hal ini penting untuk bisa menyikapi diri dan mengetahui arah dan tujuan. Hal itu dilakukan dengan cara membangun literasi budaya dan sastra.

Baginya kesusatraan bukan hanya mencerminkan ke Indonesia-an, tetapi berperan penting membentuk ke Indonesia-an dengan berbagai cara, lewat bangunan estetik, simbol-simbol, stereotipe, wawasan dan ideologi. "Karya sastra bukan hanya memungkinkan kita membacanya tapi membawa pembaca masuk dan ikut merasakan. Ia juga mengasah daya nalar kritis, membongkar retorika, mengungkap konstruksi ideologis dan pemaknaan yang kompleks," jelasnya. (jml)