
Jakarta-Humas BRIN. Habibie Prize sebagai kegiatan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk melanjutkan legacy dari alm. BJ Habibie yang sudah dimulai sejak 1999, bekerja sama dengan Yayasan SDMI. Penghargaan Habibie Prize difokuskan pada capaian scientific excellence, untuk membedakan dengan penghargaan lainnya, seperti Sarwono Award yang ditujukan untuk a life time achievement di semua bidang. Pernyataan tersebut disampaikan Laksana Tri Handoko selaku Kepala BRIN saat membuka acara Habibie Prize 2023 di Gedung BJ Habibie Jakarta, pada Jumat (10/11).
Tahun ini adalah tahun awal dimulainya penyelenggaraan 4 penghargaan utama plus Indonesia Inovator Award untuk para innovator diselenggarakan saat Hakteknas pada tiap bulan Agustus. “Pada Habibie Prize ini kami melakukan penjaringan berbasis hunting, baru kami minta dari tim kami daftar riwayat hidup yangbersangkutan, dan kami lakukan sepanjang tahun. Apabila bapak ibu memiliki atau mengetahui ada kandidat yang bagus dan layak, silakan disampaikan kepada tim SDM Iptek dan bisa dilakukan juga secara online melalui website BRIN,” ujarnya.
Pada tahun ini baru pertama kali hanya 1 orang penerima penghargaan tersebut, sebagai hasil rekomendasi dari juri. “Kami tidak akan menetapkan di luar yang direkomendasikan oleh para juri. Bukan karena tidak baik atau kurang baik, tetapi karena ada ketidaksesuaian,” jelasnya.
Misalnya, tambah Handoko, untuk yang sifatnya inovatif itu akan dimasukkan ke Indonesia Innovator award. “Kami ingin menjaga supaya tidak terjadi tumpang tindih dengan penghargaan yang lainnya, sehingga dewan juri juga bisa menilai dengan lebih mudah,” rincinya.
Dirinya membeberkan, BRIN memakai standar yang sama untuk seluruh prize dan award tersebut, seperti jumlah dewan juri supaya tidak ada disparitas. “Hadiahnya juga disamakan, standarnya, dan proses penjurian juga dilakukan secara berkelanjutan. Jumlah dewan juri maksimal 3 atau 5, dan ada proses penggantian setiap tahun. Jadi kita menjamin keberlanjutan dari standar yang dipegang untuk setiap award tersebut,” tegasnya.
Dia memaparkan, BRIN menyediakan ekosistem sampai pada pemberian berbagai penghargaan sampai ke super advance. “Di program kami ada S1 untuk tugas akhir, S2 dan S3 untuk post doc, visiting reaseacher, sampai ke pemberian penghargaan untuk talenta berprestasi di bidangnya masing-masing. Kita ingin menunjukkan bahwa pemerintah mendukung penuh, bahkan mendorong talenta-talenta muda kita,” katanya penuh semangat.
Apalagi setiap tahun, lanjutnya, BRIN menerima 500 PhD holders di semua bidang, dan itu tidak mudah. “Termasuk para diaspora yang masih berada di luar negeri untuk bisa berkarirer, dan berkarya di Indonesia meskipun kita tidak memaksa untuk kembali. Kalau memang bisa berkarier bagus di luar negeri silakan, tapi negara ini harus memberikan opsi bahwa tetap ada pilihan untuk bisa berkarier. Mematangkan kemampuannya sesuai passion dan bidang kepakarannya di Indonesia,” lanjutnya.
Dia berharap, semoga upaya pemerintah dalam membangun ekosistem yang semakin kondusif untuk perkembangan iptek, riset dan inovasi secara nasional di masyarakat itu bisa memberikan dampak yang nyata. Bisa berkontribusi positif bagi kemajuan bangsa, negara, dan masyarakat.
Wardiman Djojonegoro selaku Ketua Pengurus Yayasan SDM IPTEK menjelaskan, pemberian Penghargaan Habibie Prize periode 2023 dilaksanakan oleh BRIN, dan didukung penuh melalui Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Namanya menjadi Habibie Prize sejak periode 2021.
“Kami keluarga Besar Almarhum Bapak B.J. Habibie, Yayasan The Habibie Center dan Yayasan SDM IPTEK sangat menghargai. Merasa senang dan bersukacita atas pengambilalihan pemberian penghargaan tersebut oleh pemerintah melalui BRIN dengan skala yang lebih bersifat nasional untuk penghargaan kepada Bapak Presiden ke 3 RI, yang sekaligus merupakan Bapak Teknologi Nasional,” ucapnya penuh haru.
Dia juga bersyukur, pada masa mendatang BRIN akan tetap melanjutkan pemberian Habibie Prize dengan nilai dan kriteria yang sama, ditentukan secara independen seperti yang telah dilaksanakan lebih dari 24 tahun.
Oman Fathurahman sebagai penerima Habibie Prize 2023 di bidang Agama, Filsafat, dan Kebudayaan adalah Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Teori filologi interdisiplin yang digagasnya memberikan kontribusi besar pada arah kajian Islam Indonesia berbasis analisis teks.
Teori ini banyak dijadikan acuan oleh peneliti, dengan menjadikan manuskrip sebagai sumber primer penelitian. Selain itu, Oman bersama timnya berinovasi melestarikan manuskrip Nusantara, dengan alih media digital melalui DREAMSEA project.
Penganugerahan Habibie Prize 2023 diberikan pada 10 Nopember bertepatan dengan Hari Pahlawan. Hal ini untuk menunjukkan bahwa para penerima Habibie Prize juga merupakan pahlawan yang memiliki kontribusi di bidang iptek, serta bermanfaat secara signifikan bagi peningkatan kesejahteraan, keadilan, dan perdamaian. (ns)