IDEN

Detail Berita

Hilirisasi Sumber Daya Alam Untuk Mewujudkan Transformasi Ekonomi Bagi Indonesia

Diterbitkan pada 10 Desember 2023

Jakarta - Humas BRIN. Pada hari kedua, Kamis (07/12) penyelenggaraan Simposium Praktisi dan Periset Ekonomi (PARETO) mengusung tema “Downstream Industrialization of Natural Resources”. Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bekerja sama dengan Perhimpunan Periset Indonesia (PPI).

Kepala Organisasi Riset Tata Kelola Pemerintahan, Ekonomi, dan Kesejahteraan Masyarakat (OR TKPEKM) Agus Eko Nugroho mengatakan, BRIN melalui OR TKPEKM harus terus memberikan sumbangsih pemikiran dan juga media untuk bertemunya para praktisi, peneliti, dan juga pembuat kebijakan pada isu-isu terkait tata kelola pemerintahan, ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat.

Pada penyelenggaraan hari kedua ini menghadirkan tiga sesi acara. Yaitu 8th Thee Kian Wee Lecture Series, Outlook Perekonomian Indonesia, dan Kaleidoskop Tata Kelola Pemerintahan Tahun 2023.

Isa Rachmatarwata, Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan Republik Indonesia hadir dan mengapresiasi penyelenggaraan PARETO BRIN 2023. Menurutnya, kegiatan itu sebagai salah satu langkah atau upaya yang terus dilakukan oleh para peneliti BRIN untuk bertukar pikiran mengembangkan beberapa kebijakan dan inovasi di bidang ekonomi, industrialisasi, dan beberapa hal seperti yang disampaikan Agus.

“Tema acara ini sangat relevan dengan apa yang sedang kita tangani, kita upayakan, dan kita dorong dengan sungguh-sungguh untuk membuat transformasi ekonomi di negara kita ini. Saya sungguh berharap dari acara ini kita menemukan pemikiran-pemikiran baru terobosan-terobosan baru untuk kita bisa menerapkan pasal 33 ayat 3 dari UUD 1945,” ujarnya.

“Sebagaimana kita tahu transformasi ekonomi menjadi kunci untuk kita, meninggalkan middle income, juga lepas dari middle income trap. Hal ini sebagai salah satu strategi dari transformasi ekonomi yang ditempuh oleh pemerintah adalah hilirisasi Sumber Daya Alam (SDA),” ungkapnya.

Isa mengatakan bahwa hilirisai SDA perlu terus dilakukan melalui revitalisasi industri, juga reorientasi industri untuk memicu tren pertumbuhan ke arah yang lebih positif. Manufaktur sebagai sektor terbesar dalam perekonomian juga harus terus dibenahi dan diperkuat.

Menurutnya, kebijakan hilirisasi SDA juga relevan diterapkan dengan kondisi Indonesia yang memiliki kekayaan hayati dan mineral yang melimpah. Selama ini komoditas strategis memberikan kontribusi signifikan terhadap penerima negara. “Kita ingin ini menjadi lebih besar lagi, lebih signifikan lagi. Tetapi tidak dengan melakukan eksploitasi yang lebih besar melainkan kita ingin meningkatkan valuenya dengan melakukan hilirisasi SDA,” katanya.

Ia pun mengungkapkan bahwa pengembangan hilirisasi SDA dalam rangka peningkatan nilai tambah telah dimulai dan terus akan ditingkatkan pada beberapa komoditas seperti kelapa sawit. Komoditas kelapa sawit telah memiliki perkembangan peningkatan nilai tambah yang sudah cukup menggembirakan.

“Dari kelapa sawit mungkin peningkatan nilai tambahnya relatif sudah lebih jauh, sudah lebih besar daripada batubara ataupun mineral yang lain. Jenis komoditas hilirisasi kelapa sawit telah berkembang dari 54 jenis di tahun 2011 menjadi 168 jenis di tahun 2021,” jelasnya.

Upaya hilirisasi juga dilakukan pemerintah di bidang rumput laut dengan tujuan untuk meningkatkan nilai tambah. Upaya hilirisasi rumput laut ini akan memiliki dampak positif terhadap perekonomian nasional yang sangat didominasi oleh perairan laut. Masih banyak pula masyarakat di pesisir yang belum atau masih bisa ditingkatkan kesejahteraannya melalui kegiatan-kegiatan seperti budidaya rumput laut.

“Hilirisasi rumput laut dipercayai memberikan peluang bagi komoditas yang awalnya dalam bentuk bahan mentah, kemudian akan kita mulai ekspor sebagai barang setengah jadi dan bahkan produk jadi yang mempunyai nilai jual jauh lebih besar daripada bahan mentah,” ujar Isa.

Maka, hilirisasi SDA selain mendukung pertumbuhan ekonomi tetapi juga menjadi salah satu langkah untuk meningkatkan peran Indonesia dalam rantai pasok global. Saat ini kinerja hasil hilirisasi telah menunjukkan peningkatan ekspor industri pengolahan non migas sebesar 16,5% di tahun 2022.

Lebih lanjut, Isa mengatakan, melalui hilirisasi industri diharapkan akan memberikan nilai tambah dan diversifikasi produk unggulan ekspor Indonesia. Hilirisasi berbagai komoditas juga mendukung Green Economy di Indonesia.

Namun, upaya pengembangan hilirisasi komoditas SDA masih menghadapi sejumlah tantangan apalagi untuk bersaing secara global. Tantangan tersebut berasal dari keterbatasan infrastruktur dan energi, keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM), keterbatasan teknologi dan barang modal, serta keterbatasan pembinaan dan pengendalian dalam tata kelola kebutuhan produk hilir.

“Tanpa penelitian memadai, tentu akan sulit bagi kita berinvestasi selanjutnya di bidang industri ini dan termasuk hilirisasi SDA. Maka, di sinilah peran penting penelitian dan pengembangan yang dimotori oleh BRIN yang kami rasakan mutlak untuk terus didorong, ditingkatkan, dan diperkuat,” pungkas Isa.

Sumber daya yang dimiliki oleh BRIN terutama adalah peneliti perlu mendapat peran yang semakin sentral supaya dapat mengakselerasi pemanfaatan teknologi dan mendorong hilirisasi SDA. Peneliti diharapkan mampu berkontribusi semakin signifikan dalam mengembangkan teknologi dan dapat meningkatkan efisiensi dan nilai tambah dalam proses hilirisasi SDA.

Isa mengatakan, “Peneliti diharapkan menyumbangkan pengetahuan mereka untuk memahami ketrampilan yang diperlukan dalam penggunaan teknologi tertentu. Termasuk dalam merancang pelatihan yang efektif untuk tenaga kerja. Hal ini akan membantu mengatasi keterbatasan keterampilan SDA yang menjadi salah satu hambatan dalam hilirisasi SDA,” pungkasnya.

Dia mengungkapkan bahwa peneliti, inovator, dan periset dapat melakukan survei dampak lingkungan dan sosial dari beberapa teknologi dalam proses hilirisasi. Hal ini akan membantu memastikan penggunaan teknologi tidak merugikan lingkungan atau masyarakat setempat.

“Kita berharap para peneliti terus bekerja sama dengan perusahaan dan industri untuk memahami kebutuhan mereka dan merancang solusi teknologi yang lebih sesuai. Peneliti, periset, dan inovator, diharapkan juga bisa memberikan advokasi untuk perubahan kebijakan yang mendukung pemanfaatan teknologi di dalam hilirisasi SDA,” harap Isa.

“Kita mengharapkan kontribusi yang semakin besar dari mereka dalam hal mengedukasi, juga menyebarkan informasi mengenai teknologi dan inovasi yang perlu diadopsi dan digunakan dalam berbagai upaya melakukan hilirisasi SDA ini,” lanjutnya.

Dengan peran yang proaktif dalam berbagai aspek di atas pemanfaatan teknologi dalam mendukung hilirisasi SDA, akan lebih cepat diwujudkan dan akan memberikan manfaat yang lebih besar untuk pembangunan industri yang berkelanjutan dan berdaya saing.

Isa melanjutkan, hilirisasi industri dan SDA merupakan landasan penting untuk memajukan perekonomian Indonesia dalam membuat lompatan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Upaya kolaboratif menjadi salah satu strategi untuk menghadapi tantangan global.

“Pemerintah berkomitmen untuk mendukung, memfasilitasi inovasi dan penelitian yang mendalam untuk mewujudkan perubahan-perubahan tersebut. Mari kita bersama-sama bersinergi antara peneliti, pembuat kebijakan, dan pelaku industri, untuk menghasilkan transformasi di bidang ekonomi yang akan membuat lompatan dalam pertumbuhan ekonomi kita,” tutupnya. (RPS/ed:And)