IDEN

Detail Berita

Waspada Penyakit Parasit Hewan! Begini Cara Mendeteksinya

Diterbitkan pada 2 Juni 2024

Cibinong – Humas BRIN. Penyakit parasit pada hewan merupakan salah satu ancaman yang harus dihadapi oleh peternak. Kondisi cuaca Indonesia yang beriklim tropis dengan kelembaban tinggi merupakan salah satu faktor pendukung timbulnya penyakit parasit di hewan.

“Penyakit pada hewan dapat bersifat infeksius atau non-infeksius. Secara umum, penyakit hewan dapat dikelompokkan berdasarkan jenis organisme penyebabnya, antara lain bakteri, virus, parasit, jamur dan lainnya,” ungkap Indi Dharmayanti, Kepala Organisasi Riset Kesehatan (ORK) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam sambutannya di acara Webinar Series Research Center for Veterinary Science dengan tema “Deteksi Parasit pada hewan” yang dihelat oleh Pusat Riset Veteriner, ORK pada Selasa (28/5) secara daring.

Seperti kita ketahui hewan mempunyai berbagai peran penting termasuk sebagai hewan ternak, hewan kesayangan dan hewan percobaan. Kesehatan hewan sangat penting untuk memastikan manfaat dan peran tersebut dapat tercapai secara optimal. Ketika hewan sakit akan timbul kerugian ekonomi, sosial dan dampak kesehatan bagi manusia.

Penyakit hewan akan sangat merugikan sehingga perlu diatur secara ketat oleh organisasi internasional maupun oleh pemerintah suatu negara. Organisasi Kesehatan Hewan dunia atau World Organization of Animal Health (WOAH) menyusun daftar penyakit infeksi dan infestasi yang wajib dilaporkan oleh negara-negara anggotanya.

“Penyakit parasit biasanya jarang menyebabkan kematian tinggi tetapi tetap menimbulkan kerugian ekonomi cukup besar. Parasit merupakan organisme yang hidupnya menempel pada inangnya. Penyakit parasit pada hewan dapat disebabkan oleh endoparasit dan ektoparasit,” imbuh Indi.

Indi menjelaskan endoparasit adalah parasit yang hidup di dalam tubuh inang, contohnya adalah cacing, protozoa. Sedangkan ektoparasit adalah parasit yang hidup di luar tubuh inang (kulit, rambut, bulu), contohnya adalah kutu, tungau, nyamuk, lalat dan lainnya. Ektoparasit dapat berperan sebagai vektor atau pembawa bibit penyakit, menyebabkan ternak gelisah karena rasa gatal, menyebabkan luka pada ternak, iritasi dan penurunan kualitas kulit, penurunan nafsu makan hingga produktivitas ternak pun menurun, serta mengganggu pekerja dan masyarakat sekitar peternakan.

“Beberapa jenis penyakit parasit yang bersifat zoonosis atau dapat ditularkan ke manusia antara lain scabies, cryptosporidiosis, leishmaniasis, schistosomiasis, filariasis, toxoplasmosis dan lainnya. Penyakit parasit dapat mengakibatkan dampak negatif bagi kesehatan hewan dan manusia, sehingga harus diwaspadai dan diperlukan adanya deteksi cepat dan tepat; pencegahan; dan pengendaliannya,” tutup Indi.

Senada dengan hal tersebut, Kepala Pusat Riset Veteriner, ORK BRIN Harimurti Nuradji menyampaikan,”Kita ketahui bahwa hewan mempunyai banyak peran sehingga membutuhkan Kesehatan hewan untuk meningatkan produktivitas dan performance hewan tersebut. Kesehatan hewan penting dari berbagai aspek kehidupan termasuk Kesehatan masyarakat, ketahanan pangan, kesejahteraan hewan dan ekonomi,” jelasnya.

Dikatakan Harimurti, hewan yang sehat dapat mencegah penyebaran zoonosis yang dapat menular ke manusia, sehingga melindungi Kesehatan manusia. Selain itu, hewan ternak yang sehat dapat menghasilkan produk pangan yang aman dan berkualitas seperti daging, susu dan telur. Hal ini sangat penting untuk ketersediaan pangan Indonesia.

“Deteksi parasit pada hewan sangat penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem, ketahanan pangan dan juga Kesehatan masyarakat. Dengan deteksi secara dini dapat mencegah penyebaran menular yang dapat mengancam populasi hewan dan manusia. Segi ekonomi deteksi penyakit sejak awal pada hewan dapat mengurangi kerugian yang mengakibatkan penurunan produksi dan biaya perawatan yang tinggi. Dengan demikian deteksi kesehatan hewan merupakan langkah krusial dalam upaya Kesehatan hewan, manusia dan lingkungan secara keseluruhan atau yang kita kenal One Health atau One Health Approach,” ungkap Harimurti.

Lebih lanjut, Harimurti menjelaskan parasit yang umum pada hewan di Indonesia yaitu cacing nematoda dan hewan ektoparasit lainnya. Hewan peliharaan seperti anjing dan kucing juga rentan penyakit worm dan kutu. Untuk mengatasi ini diperlukan langkah - langkah pencegahan dan pengendalian yang komprehensif termasuk pemberian obat anti parasit secara rutin dan kebersihan lingkungan, edukasi peternak dan juga deteksi penyakit parasit itu sendiri.

Beberapa peneliti dari PRV ORK BRIN tampil dengan judul-judul terkait dengan tema webinar antara lain: Dyah Haryuningtyas Sawitri dengan paparannya berjudul “Deteksi dan Potensi Zoonosis Cacing Gastrointestinal asal Kucing di Jabodetabek”, Yulvian Sani mengangkat judul “Diagnosa Patologi Penyakit Parasitik pada Hewan” menyampaikan diagnosa patologi berperan penting dalam diagnosa penyakit infeksius” dengan judul “Deteksi Parasit pada hewan”. (nurm,sh/ed:sl,jml)