
Cibinong - Humas BRIN. Bunuh diri adalah fenomena kompleks yang menarik untuk dikaji karena akar permasalahannya belum dapat ditentukan secara spesifik.
Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Yurika Fauzia Wardhani mengungkapkan, angka bunuh diri menurut WHO lebih dari 800 ribu per tahun. Tertinggi yaitu di usia muda. Sedangkan menurut data box terdapat 921 kasus, tertinggi adalah dengan usia muda/produktif.
“Pada masa pandemi, ternyata banyak sekali kasus bunuh diri yang muncul di medsos. Saya mengumpulkan informasi kasus bunuh diri dari 2012 sampai 2023, tertinggi di usia produktif/remaja dan dewasa,” kata Yurika, dalam webinar bertajuk "Fenomena Banyaknya Kasus Bunuh Diri pada Usia Produktif, Apa yang Terjadi?", Kamis (25/7).
Untuk usia remaja, jelas Yurika, kasus bunuh diri terjadi karena tekanan akademis, sosial, harapan-harapan tinggi untuk lebih berprestasi dan berkompeten di bidang akademi, perubahan hormon, emosi, permasalahan keluarga, makin banyak bullying, cyber bullying, pengaruh media informasi bebas, masalah identitas diri, dan kurangnya akses sumber dukungan kepada para remaja.
Begitu pula dengan usia dewasa yang tidak berbeda penyebabnya dengan remaja.
Kelompok usia lain yang sedikit terabaikan, namun angkanya tinggi adalah lansia dan manula. Angka bunuh diri yang tinggi ini menjadi bahan perhatian seperti ada kasus bunuh diri pada usia 90 tahun.
“Ada beberapa hal yang mendorong untuk melakukan bunuh diri di usia lansia dan manula, yaitu kesehatan mental, rasa kesepian, penyakit menahun, dan akses meminta pertolongan terhambat,” ungkap Yurika.
Dia juga menguraikan, berdasarkan jenis kelamin, laki-laki mempunyai angka bunuh diri yang tinggi. Karena norma sosial terhadap gender laki-laki sangat memengaruhi budaya Indonesia adalah budaya patriaki “laki-laki lebih tegar”. Akibatnya, tidak bisa berbagi.
Cara bunuh diri yang dilakukan antara lain minum racun, menembak diri, menabrakkan diri ke kendaraan, membakar diri, melukai diri dengan alat, meledakkan bom, lompat ke daerah air, lompat di daratan, dan gantung diri.
“Solusi agar terhindar dari bunuh diri yaitu meningkatkan kesadaran dan pendidikan, pelayanan kesehatan mental yang lebih baik, pelatihan dan dukungan untuk keluarga dan komunitas, bekerja sama dengan instansi-instansi terkait untuk membuat suatu program pencegahan bunuh diri, penelitian dan data serta pencatatan yang rapi dan tersentral yang bisa di akses oleh lembaga yang berkepentingan,” tuturnya.
Kepala Organisasi Riset Kesehatan BRIN NLP Indi Dharmayanti mengungkapkan, bunuh diri tidak hanya memengaruhi individu, tetapi juga keluarga, lingkungan kerja, dan masyarakat luas.
“Kehilangan seseorang di usia produktif berarti kehilangan potensi dan kontribusi bagi pembangunan bangsa. Oleh karena itu, pencegahan bunuh diri adalah tanggung jawab bersama,” tegas Indi.
Menurutnya, penting untuk memahami faktor-faktor penyebab bunuh diri, mulai dari tekanan ekonomi, masalah kesehatan mental, hingga kurangnya dukungan sosial. Pemahaman yang lebih baik dapat mengembangkan strategi pencegahan yang efektif.
“Selain intervensi medis dan psikologis, pendekatan holistik yang mencakup pendidikan, kampanye kesadaran, dan kebijakan pendukung kesehatan mental sangat penting,” tandas Indi. (shf, sh/ed: sl, tnt)