
Jakarta-Humas BRIN. Indonesia memiliki peluang menjadi negara terkemuka dengan memanfaatkan bonus demografi dan meningkatkan rasio SDM iptek per 1 juta penduduk, yang saat ini sekitar 1.150 dengan 17% berkualifikasi S3. Meningkatkan engagement hingga mencapai rasio SDM iptek per 1 juta penduduk sebesar 5.000 dengan 30% berkualifikasi S3.
Menurut Indeks Inovasi Global (GII) kelemahan ekosistem riset Indonesia masih berada di peringkat ke-61 GII 2023, dengan tantangan besar pada pilar-pilar utama seperti belanja riset oleh swasta, pemerintah, dan output ilmiah.
Pemaparan tersebut disampaikan Agus Haryono Deputi Bidang Fasilitasi Riset dan Inovasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) saat didapuk oleh Sekretariat Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kemenkeu RI menjadi narasumber pada Persiapan Keberangkatan Angkatan 238 bagi penerima beasiswa program Magister (S2) dan Doktor (S3) dengan tujuan universitas dalam dan luar negeri, di Jakarta pada Rabu (07/08).
“Berbagai komponen anggaran riset diperuntukkan untuk pembiayaan kegiatan riset, yaitu kegiatan kreatif yang dilakukan dengan sistematis untuk menambah stok pengetahuan, termasuk pengetahuan sosial dan humaniora. Pemanfaatan pengetahuan ini untuk merancang penerapan baru dengan tujuan menghasilkan kebaruan (novelty), bersifat kreatif, tidak pasti, sistematis, dan dapat diulang (reproduceable),” tambahnya.
Komponen berikutnya yaitu operasional sebagai pembelian barang dan/atau jasa yang habis pakai yang dipergunakan dalam rangka pemenuhan kebutuhan kegiatan riset. Selanjutnya modal, adalah belanja pengadaan barang modal yang dapat digunakan berulang kali atau terus menerus untuk kegiatan riset.
“Alokasi anggaran riset pemerintah terbesar ada pada pembiayaan operasional. Pembiayaan modal dan operasional untuk kegiatan riset terus meningkat tiap tahun, sedangkan anggaran kegiatan riset sempat mengalami penurunan pada 2019 dan 2020,” ujarnya.
Menurutnya, posisi belanja riset Indonesia masih rendah dibandingkan dengan kawasan atau negara lain di Asia. Nilai rasio GERD/PDB Indonesia masih di bawah Vietnam yang pada 2017 telah memiliki rasio 0,53%. Korea Selatan memiliki GERD/PDB tertinggi, disusul Kawasan Taiwan dan Jepang.
“Masalah ekosistem riset dan inovasi, rendahnya belanja riset oleh swasta (16% dari total belanja riset) dan rendahnya kompetensi SDM Iptek. Ada 5 masalah utama dalam ekosistem riset dan inovasi ini, yaitu belanja riset swasta belum tinggi (16%), rendahnya kompetensi SDM Iptek, pendanaan/fasilitasi riset tidak tepat sasaran, dan sebagainya,” urainya.
Ada 3 arahan presiden kepada BRIN berdasarkan Perpres 78/2021, yaitu pertama konsolidasi sumber daya iptek meliputi konsolidasi SDM, infrastruktur, dan anggaran untuk meningkatkan critical mass, kapasitas dan kompetensi riset Indonesia.
“Kedua, ekosistem riset dan inovasi berstandar global bersifat terbuka atau inklusif dan kolaboratif bagi semua pihak seperti akademisi, industri, komunitas dan pemerintah. Ketiga, fondasi ekonomi berbasis riset yang kuat dan berkesinambungan, fokus pada digital, green & blue economy,” rincinya.
Agus juga membeberkan, bahwa BRIN memiliki 6 strategi terdiri dari, pertama, transformasi manajemen fasilitasi, merupakan fasilitasi terpadu dari pendanaan, perijinan, manajemen Kekayaan Intelektual (KI) dan repositori & penerbitan ilmiah. Kedua, refocusing riset sebagai fasilitasi fokus pada digital, green & blue economy, terutama untuk kemandirian pangan, energi dan Kesehatan.
“Strategi ketiga, magnet riset internasional yaitu fasilitasi berbasis pada pemanfaatan sumber daya alam dan keanekaragaman hayati, geografi dan budaya lokal. Keempat, fasilitasi industri nasional yang menciptakan ekosistem industri berbasis riset yang kuat dalam jangka Panjang,” imbuhnya.
Dia melanjutkan, strategi kelima yaitu fasilitasi SDM unggul di semua bidang, dan entrepreneur berbasis riset dan inovasi. “Keenam, dampak ekonomi langsung dan jangka Panjang. Sektor iptek sebagai pencipta, pendorong dan penarik devisa negara,” tuturnya.
Pada akhir paparannya Agus berharap, dengan adanya pembekalan ini para penerima beasiswa LPDP Angkatan 238 dapat lebih memahami peran dan tanggung jawab mereka dalam mendorong inovasi dan riset di Indonesia. Diharapkan pula mereka dapat menjadi agen perubahan yang mampu menghadapi tantangan global, dan berkontribusi nyata dalam pembangunan bangsa. (DA, ns/ed. ns)
