IDEN

Detail Berita

BRIN Kembangkan Varietas Unggul untuk Pemenuhan Pangan Nasional

Diterbitkan pada 13 Agustus 2024

Cibinong-Humas BRIN. Kepala Pusat Riset Tanaman Pangan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Yudhistira Nugraha memaparkan materi bertajuk “Pengembangan Varietas Unggul dan Praktik Terbaik dalam Pengelolaan Benih Tanaman Pangan”.

Ia menjelaskan, produksi meningkat sesuai dengan ekspektasi, dan kualitasnya baik. Namun, benih tanpa didukung oleh sains dan teknologi tidak akan menghasilkan manfaat maksimal, termasuk dalam ekspor komoditas tertentu. 

Paparan ini disampaikan pada Webinar ROAFERIAN #9 yang dikemas dalam acara Talk Show dengan tema “Bisakah Perbenihan Tanaman Pangan dan Hortikultura Mendukung Pemenuhan Pangan Nasional? Sabtu (10/8).  Acara ini merupakan rangkaian kegiatan Indonesia Research and Innovation Expo (InaRI Expo) 2024, di Kawasan Sains dan Teknologi Soekarno, Cibinong, Bogor.

Yudhistira menyampaikan, varietas unggul yang ada saat ini lebih produktif dibandingkan varietas sebelumnya. Sebagai contoh, varietas IR8 yang dihasilkan pada 1968 dapat mencapai hasil panen hingga 9 ton per hektar. Namun, pada 1998, hasil tersebut menurun menjadi 6–7 ton, yang disebabkan oleh perubahan iklim, terutama suhu malam yang tinggi. Hal ini meningkatkan respirasi tanaman, mengurangi hasil fotosintesis yang seharusnya dialokasikan ke biji.

“Untuk mengatasi masalah ini, varietas unggul baru perlu dikembangkan. Terutama karena ketahanan tanaman terhadap hama dan penyakit, seperti jamur atau bakteri, dapat berubah dengan cepat. Selain itu, kualitas biji dan preferensi konsumen juga mendorong perlunya penggantian varietas unggul”, ujarnya.

Dari sisi riset, produktivitas padi memang menunjukkan stagnasi, dengan rata-rata hasil 5 ton per hektar. Namun, riset pada tanaman padi yang dilakukan dari 1967 hingga 2015 menunjukkan adanya kemajuan genetik pada varietas padi yang dilepas, dengan peningkatan produktivitas sebesar 0,7 ton per hektar per tahun, dan peningkatan kemajuan genetik sebesar 1,45 ton per hektar dibandingkan 20 tahun lalu. Tantangannya adalah bagaimana menanam benih tersebut agar potensi genetiknya dapat dimaksimalkan.

Yudhistira menambahkan, BRIN bersama dengan berbagai stakeholder telah menghasilkan berbagai varietas unggul tanaman pangan, termasuk 34 varietas padi, 15 varietas kedelai, 2 varietas kacang hijau, 1 varietas kacang tanah, 3 varietas sorgum, 1 varietas gandum, 1 varietas pisang, dan 1 varietas kapas.

“BRIN memperkuat basis risetnya dengan pemuliaan presisi melalui integrasi teknologi canggih, pendekatan genomik, transkriptomik, dan metabolomik, untuk memenuhi ekspektasi masyarakat”, jelasnya.

Kualitas varietas unggul berasal dari sumber daya genetik yang kaya. BRIN memanfaatkan sumber daya genetik ini secara maksimal, termasuk dalam merakit varietas yang tahan terhadap berbagai kondisi cekaman, seperti kekeringan, banjir, dan salinitas, serta dengan pendekatan fenotip dan molekuler.

Selain itu, BRIN juga sedang mengembangkan varietas dengan bantuan genom editing yang akan dilepas pada 2025, untuk meningkatkan ketahanan terhadap penyakit padi sebagai upaya pencegahan, sehingga produksinya dapat meningkat.

Di akhir paparannya, Yudhistira Nugraha berharap pentingnya tata kelola BRIN, mulai dari perbenihan hingga produksi, serta kerja sama dengan mitra swasta, kementerian terkait dan perguruan tinggi, memastikan bahwa varietas unggul dari benih sumber dapat diakses oleh para mitra. (wt, sh/ed.sl)