Jakarta – Humas BRIN. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menggelar Sarwono Prawirohardjo Memorial Lecture 2024, yang kali ini diisi oleh Prof. Dr. Trina Ekawati Tallei dari Universitas Sam Ratulangi. Dalam orasinya yang bertema “Mengungkap Manfaat Kesehatan Pangan Fungsional melalui Kajian Omics dan Bioinformatika,” Prof. Trina menyoroti peran penting bioinformatika dan studi omics dalam memahami potensi pangan fungsional, khususnya dalam konteks kesehatan manusia.
Prof. Trina menjelaskan bahwa penelitian awalnya berfokus pada nanas sebagai sumber probiotik, yang mengungkapkan potensi besar nanas dalam memperkaya kandungan probiotik serta menunjukkan aktivitas imunomodulator dan antivirus. Penelitian ini dilakukan menggunakan pendekatan metagenomik dan metabolomik yang memungkinkan identifikasi mikroorganisme probiotik dan senyawa bioaktif dalam hasil fermentasi nanas.
Seiring perkembangan penelitian, fokus Prof. Trina beralih ke microgreens, khususnya dari keluarga Brassicaceae seperti brokoli, kale, dan mustard. Microgreens dipilih karena mudah dikultivasi dan kaya akan nutrisi. Penelitian menunjukkan bahwa microgreens mengandung konsentrasi tinggi senyawa bioaktif yang berpotensi sebagai antioksidan, antiinflamasi, dan antikanker.
“Microgreens memiliki potensi besar sebagai pangan fungsional yang tidak hanya bergizi tinggi tetapi juga dapat berperan dalam pencegahan penyakit kronis,” ujar Prof. Trina di Auditorium Gd. BJ. Habibie Jakarta, Jumat (23/08). Ia menambahkan bahwa penelitian ini melibatkan studi multiomics dan bioinformatika untuk mengidentifikasi metode pengolahan terbaik yang dapat mempertahankan atau bahkan meningkatkan kandungan senyawa bioaktif.
Lebih lanjut, Prof. Trina memaparkan penelitian terbaru yang berfokus pada proses pengeringan microgreens. Meskipun proses pengeringan seringkali dapat merusak nutrisi, metode yang tepat dapat meningkatkan aktivitas antioksidan dan senyawa bioaktif lainnya. Melalui pendekatan multiomics, tim penelitiannya berhasil mengidentifikasi metode pengeringan yang optimal.
Menurut Prof. Trina, bioinformatika memainkan peran kunci dalam penelitian ini dengan memungkinkan integrasi data omics dari berbagai disiplin ilmu. "Dengan dukungan teknologi kecerdasan buatan, analisis data besar dapat dilakukan secara efektif, membuka wawasan baru dalam pemanfaatan pangan fungsional," tambahnya.
Selain itu, Prof. Trina juga menyoroti pentingnya metagenomik dalam studi fermentasi pangan. Metagenomik membantu mengidentifikasi komunitas mikroba yang terlibat dalam fermentasi, yang berkontribusi pada kualitas dan keamanan produk pangan fungsional. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa proses fermentasi dapat menghasilkan senyawa bioaktif yang meningkatkan nilai gizi produk.
"Metabolomik, sebagai bagian dari studi omics, juga berperan penting dalam memahami senyawa bioaktif yang dihasilkan oleh microgreens selama proses pengeringan. Dengan menggunakan bioinformatika, tim peneliti dapat menganalisis dampak pengeringan pada aktivitas biologis senyawa tersebut," jelasnya.
Prof. Trina juga menekankan bahwa tantangan utama dalam penelitian omics adalah integrasi data dari berbagai disiplin ilmu. Bioinformatika menyediakan alat untuk mengintegrasikan data ini, memungkinkan pemahaman yang lebih holistik tentang bagaimana pangan fungsional mempengaruhi kesehatan manusia.
Meskipun bioinformatika telah memberikan kontribusi besar dalam penelitian omics dan pangan fungsional, Prof. Trina mengakui bahwa masih ada tantangan yang perlu diatasi, seperti pengelolaan dan analisis data yang sangat besar dan kompleks. Diperlukan metode yang lebih efisien dan algoritma yang lebih canggih untuk menangani tantangan ini.
Di masa depan, Prof. Trina berharap bioinformatika akan terus memainkan peran kunci dalam penelitian omics dan pangan fungsional. "Dengan kemajuan teknologi dan metode analisis, diharapkan akan ada penemuan-penemuan baru yang dapat meningkatkan kualitas dan manfaat kesehatan dari pangan yang dikonsumsi," harapnya.
Prof. Trina juga menyampaikan bahwa penelitian mengenai functional foods ini memiliki implikasi luas bagi kesehatan masyarakat. Dengan mempromosikan microgreens dan teknik pengolahan yang tepat, asupan senyawa bioaktif yang bermanfaat dapat ditingkatkan, berkontribusi pada pencegahan penyakit kronis seperti kanker dan penyakit kardiovaskular.
Di akhir orasinya, Prof. Trina menegaskan komitmennya untuk melanjutkan penelitian di bidang omics dan functional foods, serta berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk mengembangkan solusi inovatif dalam bidang pangan dan kesehatan. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada BRIN atas penghargaan dan dukungan yang diberikan.
Sarwono Prawirohardjo Memorial Lecture 2024 menjadi momen penting untuk mengapresiasi kontribusi Prof. Trina dalam ilmu pengetahuan, sekaligus menginspirasi generasi muda untuk terus berinovasi demi kesejahteraan masyarakat. (ade/ed:pur)