
Cibinong - Humas BRIN. Serangga hama merupakan kendala bagi para petani yang
sampai saat ini masih mengandalkan insektisida kimia untuk pengendaliannya.
Untuk itulah teknologi-teknologi alternatif dengan efektivitas yang bersaing
dan lebih ramah lingkungan sangat diperlukan daripada menggunakan insektisida
kimia.
Pernyataan tersebut diungkapkan Peneliti Pusat Riset Zoologi Terapan, Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan (ORHL), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), I Made Samudra dalam paparannya berjudul “Senyawa Semiokimia: Eksplorasi dan Pemanfaatan untuk Pengendalian Serangga Hama” dalam webinar Applied Zoology: Summer School yang dihelat PR Zoologi Terapan, BRIN, Jumat (25/08).
“Salah satu kemungkinan yang bisa kita eksplorasi itu adalah senyawa-senyawa semiokimia yang dapat digunakan untuk memanipulasi perilaku serangga yang kita manfaatkan untuk pengendalian hama. Semiokimia itu sebenarnya senyawa pembawa pesan yang diproduksi oleh organisme tertentu dan diterima oleh organisme lain yang dapat mempengaruhi perilaku tertentu,” jelas Made.
Banyak sekali perilaku serangga yang sangat bergantung pada sinyal senyawa kimia untuk meneruskan kelangsungan hidupnya. Tanpa senyawa ini mereka tidak akan bisa menjadi adaptif, baik dalam menemukan sumber makanan, menemukan inang, dan menemukan pasangannya untuk kawin atau yang lebih sering dinamakan kopulasi.
Lebih lanjut Made menjelaskan bahwa, semiokimia dikelompokkan ke dalam dua kelompok yaitu Feromon dan Alelokemik. Feromon adalah senyawa kimia dalam interaksi intraspesies, individu-individu di dalam satu spesies. Sedangkan alelokemik adalah senyawa kimia dalam interaksi antarspesies, spesies satu dan yang lain, misalnya bau tumbuhan yang direspon oleh serangga dan sebagainya.
Feromon adalah senyawa kimia pembawa pesan yang diproduksi oleh satu individu dan diterima oleh individu lain dalam satu spesies yang sama. Feromon ini akan menimbulkan perubahan perilaku pada individu target.
“Feromon berdasarkan kerjanya yaitu feromon seks, feromon agregasi dan feromon peringatan (alarm). Feromon seks yaitu senyawa kimia yang diproduksi untuk memikat lawan jenis untuk datang dan melakukan kopulasi. Biasanya feromon seks diproduksi oleh betina untuk memikat jantan (contohnya dalam Lepidoptera). Feromon agregasi yaitu senyawa kimia yang diproduksi oleh salah satu atau kedua jenis jantan atau betina, untuk datang berkumpul makan atau kawin. Sedangkan feromon peringatan (alarm) yaitu senyawa yang diproduksi untuk peringatan tanda bahaya. Dari ketiga cara kerja ini yang banyak dikembangkan untuk pengendalian populasi adalah feromon seks,“ ungkap Made.
Feromon yang digunakan dalam pengendalian harus digunakan pada waktu dan fase hidup yang tepat. Pada serangga penggerek padi bergaris, penggerek batang padi kuning, penggerek batang padi putih feromon seks akan aktif pada malam hari. Pada siang hari mereka akan resting, dan ketika malam hari dia keluar untuk beraktivitas.
Made menyebut, feromon yang bersifat spesies spesifik mempunyai rantai karbon tertentu, gugus fungsionalnya bermacam-macam (ada alkohol, aldehyde dan asetat), dan mempunyai ikatan ganda. Selain itu, feromon mempunyai rasio komponen, biasanya serangga memiliki komponen senyawa A dan B. Kedua senyawa tersebut memiliki rasio tertentu, tidak bisa ditukar-tukar. Satu lagi yang menentukan feromon bersifat spesifik yaitu waktu aktifnya. Bila aktif malam hari, dia akan diproduksi malam hari dan pejantan akan merespon di malam hari.
“Terdapat tiga Ulat Grayak (Spodoptera spp.) yang banyak yaitu Spodeptera litura pada kacang-kacangan, Spodeptera exigua pada bawang, dan Spodeptera exempta pada padi. Di lapangan, ketiga ulat ini tidak akan salah pilih trap karena sudah mempunyai feromon masing-masing,” jelas Made
Lebih lanjut Made menjelaskan bahwa, pemanfaatan feromon /atraktan dalam pengendalian secara alami, digunakan sebagi monitoring, pengacau kawin (mating disruption) perangkap masal (mass trapping) dan feromon/atraktan + insektisida.
Monitoring yaitu feromon sebagai alat pemantau ada atau tidaknya serangga di daerah tersebut dan memantau tingkat populasi serangga target untuk melakukan tindakan pengendalian. Mass traping yaitu feromon membantu menurunkan tingkat populasi serangga target sehingga di bawah ambang kendali. Contohnya pada Spodoptera exigua (Ulat Bawang), Cylas formicarius (Lanas Ubi Jlaar), Codling moth di daerah-daerah endemik, dilakukan mass trapping dari awal musim tanam.
Mating disruption yaitu sintetik feromon atau analognya di area pertanaman sehingga jantan gagal menemukan betina virgin untuk dikawini. Dalam beberapa kasus, cara ini efektif untuk pengendalian serangga target. Yang perlu dipertimbangkan adalah harga senyawa aktif feromon/analognya, dispenser, dan luasan area yang diperlakukan.
Dirinya menambahkan bahwa selama ini petani menggunakan insektisida untuk mengendalikan Spodoptera exigua (ulat bawang). Penyemprotan insektisida biasanya dilakukan 2 hari sekali atau kadang setiap hari. Dengan perlakuan tiap 2 hari sekali dengan 1 liter atau lebih insektisida /ha total bisa mencapai 1.500,000 liter per tahun ke lahan pertanian dengan luas 40,000–60,000 ha.
“Selain itu, light trap juga dikembangkan, terlihat seperti lampu-lampu di sawah dibandingkan rumah-rumah penduduk yang gelap. Pada dasarnya ingin memberikan alternatif pengendalian untuk ulat bawang ini, tetapi lebih efisien dan mudah dilakukan oleh petani. Salah satu produk kita bernama Fero Lanas, pengendalian hama boleng dengan feromon -Lanas yang lebih efektif, efisien dan ramah lingkungan,” pungkas Made.
Dalam kesempatan yang sama hadir pula narasumber dari Universitas Bengkulu, Sempurna Ginting yang memberikan materi “Potensi Pemanfaatan Musuh Alami sebagai Pengendali Hama Pertanian.”
Sementara itu, Kepala Pusat Riset Zoologi Terapan BRIN, Delicia Yunita Rahman dalam sambutannya mengatakan bahwa webinar ini bertujuan untuk perkenalan riset yang ada di zoologi terapan untuk kemudian bersama mitra bisa diaplikasikan.
“Saat ini kita fokusnya ke kimia dan serangga untuk pemanfaatan pengendalian serangga hama. Manfaat webinar ini memiliki riset bersama dalam bentuk pembimbingan, pencarian proposal serta lisensi. Saya berharap pertemuan dengan diskusi bisa menjadi cikal bakal kerjasama antara PR Zoologi Terapan dengan Universitas Bengkulu terutama kerja sama riset yang dapat menjadi nilai tambah dari kedua belah pihak,” tutupnya. (nurm, shf/ed: sl, aps)