IDEN

Detail Berita

Pakar Radar Penginderaan Jauh Berikan Nurtanio Memorial Lecture, Sebut Langkah Indonesia Menuju Kancah Global

Diterbitkan pada 27 November 2024

Jakarta – Humas BRIN. Nurtanio Pringgoadisuryo Memorial Lecture 2024 menghadirkan sosok visioner dalam bidang teknologi radar dan penginderaan jauh, Prof. Josaphat Tetuko Sri Sumantyo. Dia menyampaikan kuliah ilmiah dengan tema "Inovasi Teknologi Penginderaan Jauh: Kunci Indonesia untuk Memimpin Dunia” di Gedung BJ Habibie, Jakarta, Selasa (26/11). Kuliah ini menjadi ajang eksplorasi masa depan teknologi strategis yang mampu membawa Indonesia ke panggung global.

"Indonesia sangat luas sekali dan jumlah penduduk yang sangat besar, sehingga inovasi teknologi penginderaan jauh menjadi kunci untuk mengefisiensikan pengelolaan bangsa dan negara ini," ucap pria kelahiran Bandung 25 Juni 1970.

Prof. Josaphat merupakan ilmuwan Indonesia dengan rekam jejak yang panjang. Gelar sarjana dan magister teknik diraihnya dari Universitas Kanazawa, Jepang, sebelum melanjutkan studi doktoralnya di Universitas Chiba dalam bidang Applied Radio Wave and Radar Systems. 

Selama hampir tiga dekade, ia merintis inovasi di berbagai institusi. Dari tahun 1990 hingga 1999, Prof. Josh bekerja sebagai peneliti di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Setelah itu, ia kembali ke Jepang berkarir menjadi dosen dan peneliti pasca doktoral di Universitas Chiba. Pada saat itu, Prof. Josh menciptakan banyak antena dengan polarisasi melingkar untuk radar hingga engineering test satellite milik Jepang. 

Karirnya terus berkembang hingga menjadi asosiateprofesor termuda saat itu di Center for Environmental Remote Sensing di Universitas Chiba. Di sana, ia mendirikan Josaphat Laboratory, laboratorium unggulan untuk teknologi radar berbasis microwave remote sensing, khususnya sintetik aperture radar untuk drone, pesawat, high altitude platform system hingga satelit untuk penginderaan jauh dan aplikasinya di bidang kebencanaan dan lingkungan hidup.

Prof. Josh-begitu dia disapa- juga dikenal menjadi peletak dasar pertama di dunia untuk pengembangan mikrosatelit yang membawa sensor sintetik aperture radar. Inovasi dan paten miliknya diadopsi oleh perusahaan Jepang dan membuatnya terpilih menjadi perwakilan peneliti Jepang bidang ruang angkasa dan dimuat di Japan Journal. 

Realisasikan Radar Circularly Polarized Synthetic Aperture untuk Sang Ayah

Pencapaian Prof. Josaphat yang mendunia ialah inovasi Radar Circularly Polarized Synthetic Aperture (CP-SAR). Ia menceritakan bahwa pencapaian ini merupakan jalan hidupnya selama ini untuk merealisasikan janji kepada ayahnya, pada saat dirinya berumur 5 tahun yaitu tahun 1975 untuk membuatkan radar agar dapat melindungi ayahnya saat tugas tempur sebagai anggota Komando Pasukan Gerak Cepat atau Kopaskat TNI Angkatan Udara, dulu adalah AURI. 

"Hingga kemudian saya merealisasikannya radar yang original dan only one di dunia pada tahun 2018. Di mana radar saya ini dikenal di bidang penginderaan jauh atau remote sensing dunia saat ini sebagai Circularly Polarized Synthetic Aperture Radar atau CPSAR," ungkapnya.

CP-SAR sendiri merupakan sebuah teknologi radar mutakhir yang mampu mengamati permukaan bumi secara real-time dalam kondisi cuaca apapun, termasuk area yang tertutup awan tebal seperti Indonesia. Radar ini tidak hanya berfungsi untuk pemantauan lingkungan dan kebencanaan, tetapi juga aplikasi strategis di sektor keamanan, pertanian, dan infrastruktur. CP-SAR telah dipatenkan dan diadopsi oleh berbagai institusi ruang angkasa global, seperti JAXA, ESA, dan LAPAN (kini BRIN).  

“Sensor ini memungkinkan monitoring 24/7 sepanjang tahun. Kemampuannya mendeteksi perubahan fase hingga akurasi milimeter per tahun membuatnya sangat vital untuk pengawasan infrastruktur, seperti jembatan dan bendungan,” ujar Guru Besar Universitas Chiba, Jepang tersebut.

Dalam kuliah ini, Prof. Josaphat juga membahas pentingnya pengembangan SDM dan ekosistem riset di Indonesia. Sejak 1997, ia pun aktif menjalin kerja sama dengan universitas-universitas di tanah air untuk program penelitian bersama, pertukaran pelajar, dan publikasi internasional. Ia juga berperan dalam inisiasi industri radar swasta di Indonesia, mempertegas tekadnya untuk mencetak generasi peneliti muda yang mampu mempertahankan posisi Indonesia di garis depan teknologi global.

“Indonesia memiliki potensi luar biasa. Dengan inovasi teknologi penginderaan jauh, kita tidak hanya mengejar ketertinggalan, tetapi memimpin dunia,” tegasnya.

Prof. Josaphat mengajak agar BRIN dan institusi nasional lainnya terus mendukung inovasi berbasis penelitian strategis. Ia optimistis bahwa teknologi penginderaan jauh adalah kunci utama untuk menghadapi tantangan global, mulai dari perubahan iklim hingga keamanan pangan.

“Bangsa kita, dengan sumber daya manusianya yang luar biasa, harus menjadi penentu arah global. Tidak hanya menjadi pengguna, tetapi pencipta teknologi yang hanya satu di dunia,” katanya, penuh semangat.

Maka dari itu, Prof Josh berharap Inovasi teknologi yang telah dikembangkan dan dikenal di dunia selama ini, diharapkan dapat dikembanglanjutkan oleh para peneliti muda di Indonesia. Menurutnya, masih banyak isu inovasi dan teknologi yang perlu dikembanglanjutkan agar tetap bertahan menjadi leader di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi sintetik radar di dunia. 

Kuliah ini menjadi bukti bahwa dedikasi dan inovasi Prof. Josaphat Tetuko Sri Sumantyo telah dan akan terus membawa kebanggaan serta kontribusi nyata bagi Indonesia di kancah dunia. "Hasil karya orang Indonesia ini diharapkan dapat berkontribusi bagi dunia untuk menjaga lingkungan dan keamanan global, sehingga inovasi dan teknologi penginderaan jauh Indonesia ini dapat menjadi kunci Indonesia untuk memimpin dunia," pungkasnya. (jml)