
“Di era krisis iklim dan geopolitik pangan dan energi, benih adalah awal dari segalanya,” kata Dwi, di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Senin (11/8). Kegiatan ini merupakan rangkaian dari Indonesia Innovator Award (IIA) 2025 yang digelar Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
“Benih itu kecil, tapi memberi harapan besar,” ucapnya.
Dwi membuka kuliah ilmiahnya dengan kisah enam butir benih kelapa sawit yang dibawa oleh Belanda dan ditanam di Kebun Raya Bogor pada 1848. Enam butir benih itu yang kemudian didistribusikan ke Sumatra Utara, awalnya hanya menjadi tanaman pagar. Siapa sangka, ini menjadi cikal bakal industri sawit Indonesia.
“Ini bukan kebetulan,” ujar Dwi. Dia menekankan bahwa perjalanan panjang sawit di Indonesia penuh momen strategis. Dari pendirian stasiun penelitian sawit pada 1916, transformasi industri di era Presiden Soeharto pada 1980-an, hingga inovasi genetik modern yang kini memanfaatkan teknologi genom.
Bagi Dwi, yang lebih dari 35 tahun berkecimpung di riset dan industri sawit, benih bukan sekadar input produksi. “Benih adalah infrastruktur strategis ketahanan nasional,” tegasnya.
Produktivitas sawit Indonesia menopang 40 persen pasokan minyak nabati dunia. Namun, potensi genetik varietas unggul yang mencapai 8–9 ton CPO per hektare per tahun belum terwujud di lapangan. Rata-rata nasional masih di bawah 4 ton, dengan gap produktivitas 37 persen di perkebunan besar dan 47 persen di perkebunan rakyat.
“Kita tidak bisa hanya menghasilkan benih yang cocok di satu wilayah. Indonesia punya agroklimat beragam, varietas harus adaptif,” ujarnya.
“Dalam kondisi normal, 50 persen wilayah Indonesia cocok untuk sawit. Namun, saat El Niño, turun menjadi 29 persen,” sebutnya.
Dwi memimpin pengembangan varietas seperti DxP Simalungun, DxP Langkat, dan DxP Sriwijaya—adaptif di lahan kering, produktivitas tinggi, dan kontaminasi non-tenera rendah. Benih ini telah ditanam di 25 provinsi dan diekspor ke Nigeria, India, Peru, serta Honduras.
Dia menceritakan pergeseran strategi dari modified recurrent selection ke genomic selection, yang mempersingkat siklus pemuliaan dan memperkuat seleksi pada populasi besar. Teknologi seperti marker-assisted selection, pengeditan genom, analisis epigenetik, dan rekayasa mikrobioma tanaman kini menjadi bagian integral.
Sekitar 15 tahun lalu, Malaysia memulai pemetaan genom sawit. Indonesia, kata Dwi, memilih jalan kolaborasi, yakni membentuk konsorsium Oil Palm Genome Project bersama mitra internasional. “Sekarang kita bisa bilang ‘kita juga bisa’,” katanya.
Ekosistem dan Perlindungan Varietas
Bagi Dwi, inovasi genetik harus berjalan bersama ekosistem yang sehat, dimulai dari produksi, sertifikasi, distribusi, dan perlindungan varietas. Saat ini, Indonesia memiliki 82 varietas sawit terdaftar, kapasitas produksi 540 juta butir per tahun, distribusi sekitar 130 juta butir, dengan kontribusi timnya mencapai 630 juta benih tertanam di 3,1 juta hektare.
Perlindungan varietas di dalam negeri sudah berjalan melalui PVT. Namun untuk ekspor, perlindungan internasional perlu diperkuat. “Kalau kita ekspor ke India, Afrika, Amerika Selatan, kita belum punya perlindungan yang memadai,” jelasnya.
Dwi memetakan visi tiga tahap. Dalam jangka pendek, dia menekankan pentingnya memperkecil kesenjangan produksi dan memperluas adaptabilitas varietas. Dalam jangka menengah, perlunya meningkatkan kesejahteraan petani. Dan jangka panjang, perlunya meningkatkan efisiensi lahan, ketahanan pangan dan energi, serta daya saing global.
“Indonesia bukan hanya pengekspor minyak sawit. Kita adalah penjaga plasma nutfah, pemulia masa depan, dan pemimpin tropika yang membangun ketahanan pangan dan energi dunia—dimulai dari benih,” tandasnya.
Jejak Karier dan Kepemimpinan Inovasi
Lahir sebagai peneliti pemulia kelapa di Pusat Penelitian Perkebunan, Dwi melanjutkan studi S2 di IPB dan S3 di Iowa State University, AS, bidang Plant Breeding dengan minor Plant Genetics dan Plant Pathology. Sejak 2004, dia berkiprah di PT Sampoerna Agro Tbk, memimpin riset dan pengembangan di kelapa sawit, sagu, karet, hingga bioenergi.
Di bawah kepemimpinannya, unit bisnis benih sawit perusahaan mampu memproduksi hingga 20 juta kecambah per tahun, menembus pasar global. Dia juga aktif di organisasi profesi seperti GAPKI, PERAGI, dan PERIPI, serta memimpin Forum Kerjasama Produsen Benih Kelapa Sawit sejak 2005. (tnt)