
Jakarta - Humas BRIN. Husnul Fahimah Ilyas, Peneliti dari Kelompok Riset (Kelris) Sejarah dan Kearifan Lokal Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) membuka wacana mengenai apa yang terjadi ketika sejarah dan kearifan lokal tidak diteliti, maka masyarakat akan kehilangan identitas. “Nilai – nilai luhur bangsa akan hilang. Pengaruh kuat terhadap komunitasnya akan hilang. Untuk itu BRIN membentuk kelompok riset untuk mendalami bidang ini,” ujarnya saat menyambut kunjungan mahasiswa baru Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) di Kampus BRIN KST Sarwono Prawirohardjo, Jakarta, Kamis (18/09).
Husnul menjelaskan berbagai kajian sejarah dan kearifan lokal yang diteliti di BRIN. Antara lain genre riwayat hidup dalam sastra, Pinisi sebagai warisan budaya dunia, pengetahuan etnoastronomi di sekitar Observatorium Nasional di Timau, Nusa Tenggara Timur, penelitian tentang Orahua, sebuah tradisi musyawarah adat di Nias, serta cerita rakyat dan dongeng yang juga menjadi objek penelitiannya.
Sementara itu, Agus Iswanto dari Kelris Wacana Agama dan Keragaman Budaya menjelaskan fokus penelitiannya yang teraktualisasi dalam cakupan tiga aspek. Yaitu manuskrip, literatur, dan tradisi lisan.
Kajian tersebut penting, lantaran menurutnya, kebudayaan itu sulit untuk tidak bertaut dengan pergulatan manusia tentang agama dan spiritualitas. “Jadi kalau kita bicara manuskrip, maka tidak lepas dari tiga hal yaitu kebudayaan, keagamaan, dan spiritualitas,” jelasnya sambil menyebutkan beberapa contoh kajiannya yaitu konsep manuskrip jawa seperti Pegon Jawa, Arab, lalu kajian mengenai sastra pesantren, dan sebagainya.
Agus lalu menyebutkan beberapa contoh kajian dalam penelitian kelompok risetnya, di antaranya humaniora digital, serta peran pentingnya risetnya dalam bidang manuskrip, literatur, dan tradisi lisan yang hingga dapat memanfaatkan hasil risetnya tersebut untuk meningkatkan dan memajukan produk UMKM, seperti contohnya riset batik, digitalisasi ornamen yang dicetak melalui produk – produk UMKM.
Penelitian yang dilakukan Kelris Gastronomi, Kesehatan, dan Teknologi Tradisional dipaparkan Suyami. Di dalam mengenalkan ruang risetnya, ia menjelaskan tentang pengertian manuskrip, yang merupakan peninggalan budaya masa lalu berbentuk tulisan tangan yang belum dicetak.
“Jadi, biasanya seperti aksara daerah. Ada aksara jawa, manuskrip pegon, aksara bugis, ada juga manuskrip jawi yang bertuliskan arab berbahasa melayu. Ada juga yang lebih tua lagi yaitu kakawin dengan tulisan sansekerta,” katanya dengan mengajak para mahasiswa bisa memperdalam mempelajarinya.
Suyami juga menjelaskan tentang tradisi lisan sebagai segala bentuk karya budaya peninggalan leluhur yang disampaikan secara tutur tinular. Di mana, disampaikan secara lisan, pada umumnya berupa mitos dan cerita berbagai hal di masa lampau.
Kelompok risetnya ini juga mengkaji tentang berbagai pemaknaan makanan melalui kajian gastronomi. Juga, kajian kesehatan seperti halnya asal usul pengobatan tradisional, olahraga tradisional, dan sebagainya. Sedangkan kajian teknologinya antara lain tentang bangunan. Contohnya pembangunan rumah tinggal, peribadatan, rumah untuk keperluan massal, misalnya rumah gadang (Sumatera), tania ranjeng (madura), serta teknologi terkait pencaharian, pertanian, layanan, dan lain sebagainya.
“Kami pernah menulis tentang notasi bangunan rumah jawa dalam serat centhini, sebagai ensiklopedi jawa. Lalu pengetahuan antariksa, pengobatan tradisional, kayu, bambu, dsb,” imbuhnya.
Sementara, Mu’jizah dari Kelris Ekologi dan Mitigasi Bencana mendorong mahasiswa harus punya orientasi tinggi tentang lapangan kerja. Ia lebih banyak berbagi pengalamannya sebagai periset, bahwa dengan modal manuskrip , berbagai aspek kehidupan bisa dipelajari. Manuskrip itulah yang membawa dirinya bisa menjelajahi seluruh daerah di Indonesia, bahkan ia bisa melakukan diskusi untuk memperdalam itu sampai ke Belanda.
“Manuskrip itu bidang ilmunya sangat banyak. Kita harus punya motivasi tinggi untuk mengembangkan ilmu yang didapat. Karena, manuskrip ini sebagai identitas indonesia yang hanya dimiliki indonesia,” tegasnya.
Menjelaskan mengenali ekologi, juga sebagai ilmu yang sangat luas. Menurutnya, dengan mempelajari ekologi, kita jadi tahu bahwa posisi indonesia terancam. Di mana, ekosistemnya, seperti hutan, sungai, sawah, dan laut dengan budayanya, semua terekam dalam manuskrip. Karena manuskrip merekam keterikatan pengetahuan di masa lalu,” jelasnya.
Sebagaimana contoh, jika tidak ada kearifan lokal, maka negara ini tidak bisa mengatasi jika terjadi bencana. Ini yang juga menjadi lokus penelitian. Contohnya, cerita gempa di Maluku, dan sebagainya yang ternyata sudah tercatat sejarahnya pada manuskrip.
“Kita masyarakat indonesia punya pengetahuan tentang rumah tradisional yang anti gempa.
Ini bisa digali bagaimana agar pengetahuan - pengetahuan di masa lalu bisa ditarik untuk kemaslahatan masyarakat masa kini,” bebernya. Lalu ia memberi contoh seperti ritual pakelem yang disebut dalam lontar smarabhumi. Di mana, masyarakat bali percaya dengan adanya ritual. Meski bencana itu terjadi, dengan mitigasi, maka tidak mengakibatkan korban terlalu banyak.
Kelompok Riset Pendidikan Karakter dan Revolusi Mental, sebagaimana dijelaskan Moh Haris, melakukan penelitian dengan lokus riset lebih banyak ke dalam. Artinya, kelompok riset ini melakukan kajian untuk melihat karakter. Akan tetapi, sesuai dasar kepakarannya, maka dengan basis pengetahuan manuskrip, literatur, dan tradisi lisan.
“Dengan adanya Kelris ini, kami ingin mencoba melihat beberapa karakter yang ada di masyarakat yang mungkin cukup menarik perhatian. Salah satu persoalan yang menarik adalah persoalan karakter,” teranya.
Menurut Haris, persoalan karakter itu penting. Karena setiap manusia perlu adanya suatu penguatan karakter. “Kita bisa belajar dari masa - masa kerajaan dahulu, saat mengalami masa -masa sulit. Raja dan rakyatnya bisa menjadi mengatasinya dengan berbagai strategi. Ini bisa menjadi pelajaran bagi kita, ini bisa diangkat dalam riset,” ujarnya sambil menjelaskan salah satunya dengan melakukan pembacaan lontar. (And/ed:jml)