
Jakarta - Humas BRIN. Seperti langit yang tak berbatas, perjalanan dan kiprah Prof Premana Wardayanti Premadi dalam menggeluti bidang ilmu astronomi dan kosmologi tak akan pernah terhenti. Baginya astronomi bukan sekadar ilmu tentang benda-benda langit, melainkan sebuah bidang yang menghubungkan manusia dengan semesta, sekaligus menegaskan bahwa sains harus memberi manfaat bagi masyarakat.
"Semesta ini terlalu besar, terlalu indah, terlalu megah untuk dinikmati sendiri. Ada dorongan bagi kami para astronom untuk berbagi,” ujar Premana saat menyampaikan Nurtanio Pringgoadisuryo Memorial Lecture 2025 di Auditorium Soemitro Djojohadikusumo, Gedung BJ Habibie, Jakarta, Kamis (27/11).
Bagi Premana, kuliah umum untuk mengenang tokoh kedirgantaraan Nurtanio Pringgoadisuryo ini, menjadi ruang refleksi atas perjalanan panjang Indonesia dalam menelusuri semesta sekaligus merawat masa depan pendidikan sains di bidang penerbangan dan antariksa. Ia menyebut bahwa warisan pemikiran para pelopor seperti Nurtanio menjadi fondasi penting bagi kemajuan Indonesia.
Oleh karena itu, perempuan Indonesia pertama yang menyandang gelar doktor astrofisika dari University of Texas ini memiliki perhatian serius dalam pendidikan sains astronomi bagi anak. Hingga ia mendirikan Universe Awareness for Children (UNAWE)—gerakan global yang memperkenalkan astronomi pada anak-anak, terutama mereka yang berada di wilayah tertinggal.
“Astronomi itu sains yang mudah mendapat engage dibanding ilmu sains lain. Dan itu membuat anak-anak mudah terpikat," ungkap Premana.
Bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), ITB, dan pemerintah daerah setempat, Premana merancang program pemberdayaan pendidikan sains di sekitar kawasan Observatorium Nasional Timau di Nusa Tenggara Timur yang kini hampir rampung. Mulai dari penyediaan listrik energi berkelanjutan, akses air bersih, hingga pendirian Science Center untuk pendidikan STEM.
“Semakin besar kesenjangan antara kemajuan sains dan pendidikan, semakin genting situasinya. Kita perlu jembatan yang kokoh agar masyarakat—terutama anak-anak bisa mengikuti perkembangan sains secara timely," ujarnya.
Diabadikan Menjadi Nama Asteroid
Lahir di Surabaya pada 13 Juli 1964, Premana meniti karir sebagai seorang astronom yang jarang dipilih perempuan pada masanya. Ia meraih Sarjana Sains Astronomi dari ITB pada 1988 dan melanjutkan studi doktoral di University of Texas at Austin. Di sana ia mendalami riset evolusi struktur skala besar alam semesta melalui teknik lensa gravitasi—sebuah metode berbasis relativitas umum Einstein yang menghitung pembengkokan cahaya oleh massa raksasa.
Penelitiannya pada 1990-an menjadi salah satu pionir dalam pengembangan uji model kosmologi teoritis melalui simulasi komputasional. Ketika ia meraih gelar PhD pada 1996, Premana menjadi perempuan Indonesia pertama yang menyandang gelar doktor astrofisika.
“Galaksi itu seperti manusia. Tidak ada dua galaksi yang sama. Lingkungannya berbeda, evolusinya berbeda, tetapi mereka mengikuti hukum alam yang sama. Dan itulah keindahannya,” ungkapnya.
Pada 2018–2023, Prof. Premana memikul amanah sebagai Kepala Observatorium Bosscha—perempuan pertama yang memimpin pusat riset astronomi yang telah berdiri sejak 1923 itu. Ia menekankan bahwa Bosscha sejak awal adalah simbol keinginan manusia menjawab pertanyaan sains melalui teknologi terbaik pada zamannya.
“Kita ingin menjaga reputasi sebagai negara yang berada di garis depan. Potensinya luar biasa besar,” tandasnya.
Di tahun 2024, ia menyampaikan orasi guru besar astrofisika dan kosmologi, meneguhkan posisi strategisnya dalam perkembangan ilmu semesta di Indonesia.
Kontribusi Riset Berkelas Global
Riset Premana tentang simulasi distribusi supernova melalui lensa gravitasi dirujuk untuk pengembangan rancangan program *Legacy Survey of Space and Time (LSST)* yang mulai beroperasi pada 2025, serta untuk desain misi *Nancy Grace Roman Space Telescope* yang dijadwalkan meluncur pada 2027. Kontribusinya menjadi penghubung antara teori kosmologi dan sistem pengamatan modern.
Tidak hanya itu, penjelasannya dalam kuliah terkait gravity assist—manuver “slingshot” untuk mempercepat wahana antariksa tanpa bahan bakar berlebih—menunjukkan bagaimana mekanika langit yang rumit dapat diterjemahkan menjadi teknologi nyata yang mengantar umat manusia menjelajah tata surya.
Selain kosmologi teoritik, Prof. Premana menyinggung topik space weather, aktivitas matahari, serta pengamatan bumi dari orbit—yang semakin penting dalam menghadapi perubahan iklim. Ia menampilkan citra satelit yang memperlihatkan dampak aktivitas manusia terhadap perubahan lanskap Bumi, termasuk berkurangnya salju di puncak gunung-gunung tropis.
Prof. Premana juga memaparkan pentingnya lensa gravitasi untuk mendeteksi materi gelap serta pemanfaatan teori relativitas dalam teknologi sehari-hari, terutama pada sistem navigasi GPS. “Jika koreksi waktu tidak dilakukan. Kesalahan posisi dapat mencapai 10 kilometer per hari,” katanya.
Atas dedikasi ilmiahnya, International Astronomical Union (IAU) pada 2017 mengabadikan namanya sebagai asteroid (12937) Premadi. Pada 2023, ia dianugerahi gelar Honorary Fellow dari Royal Astronomical Society, Kerajaan Inggris—sebuah pengakuan bergengsi bagi ilmuwan yang karyanya berpengaruh secara internasional. (jml)