
Jakarta - Humas BRIN. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan pentingnya penguatan infrastruktur riset strategis melalui penyelenggaraan G.A. Siwabessy Memorial Lecture 2025, di Auditorium Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Jumat (5/12).
Forum ini menghadirkan Direktur Synchrotron Light Research Institute (SLRI) Thailand, Prof. Dr. Saroj Rujirawat, yang membawakan orasi ilmiah berjudul “Light for the Future: Synchrotron Science Driving the Country Innovation and Sustainability.”
Dalam orasinya, Saroj menguraikan lima bagian perkembangan teknologi sinkrotron, mulai dari prinsip dasar radiasi elektromagnetik berintensitas tinggi, evolusi fasilitas dari generasi pertama hingga keempat, pemanfaatan SPS-1, aplikasi industri, hingga pembangunan mesin generasi terbaru SPS-2. “Kecerahan sinar sinkrotron bisa jutaan kali lebih intens dari cahaya matahari,” katanya.
Ia menekankan perannya dalam riset energi bersih, pemetaan polutan, pencitraan biomedis, serta analisis artefak budaya.
Salah satu bagian paling menonjol dari orasi adalah perjalanan panjang pembangunan Siam Photon Source (SPS-1). Titik awalnya terjadi ketika Jepang mendonasikan mesin SORTEC 1.0 GeV kepada Thailand pada 1996. “Kami beruntung mendapat mesin itu, tetapi seluruh sistem tetap harus diperbesar dan dikembangkan ulang,” jelas Saroj.
Thailand kemudian merancang ulang lattice, membangun kembali sistem vakum dan kendali, serta mengembangkan beamline dari dasar melalui co-development bersama para ahli Jepang, Taiwan, Korea, Tiongkok, dan Amerika. Setelah first light pada 2001, SPS-1 berkembang menjadi fasilitas yang beroperasi lebih dari 23 jam per hari dengan ketersediaan 98 persen.
Komunitas pengguna SLRI menghasilkan lebih dari 300 publikasi per tahun, termasuk pada Applied Physics Letters, Physical Review Letters, dan Nature Communications. Pemanfaatannya tersebar pada pangan dan pertanian (24%), polimer dan karet (19%), otomotif (13%), farmasi dan kosmetik (10%), serta berbagai riset energi, elektronik, lingkungan, dan material.
“Profil ini menunjukkan sinkrotron memberi kontribusi langsung pada sains dan industri,” kata Saroj.
SLRI juga mengembangkan berbagai instrumen secara mandiri, mulai dari sistem pelapis cermin, pompa UHV, hingga thermal vacuum chamber untuk pengujian komponen satelit, yang kini digunakan industri nasional.
Saroj kemudian memaparkan pembangunan fasilitas generasi keempat, Siam Photon Source 2 (SPS-2) berenergi 3 GeV yang dirancang jauh lebih terang, stabil, dan mendukung pengukuran berbasis kecerdasan buatan. “SPS-2 diharapkan menjadi pusat riset bersama ASEAN,” ujarnya.
Ia juga menekankan hubungan erat SLRI–BRIN yang terus berkembang. “Ada 14 mahasiswa dari PINT, program magang 2018–2020, dan sembilan proyek riset bersama 2023–2025,” jelasnya.
Program ini mendukung pelatihan teknis, riset terapan, dan pengembangan talenta muda Indonesia di bidang akselerator dan material berbasis sinkrotron.
Deputi Bidang Sumber Daya Manusia dan Iptek BRIN, Edy Giri Rachman Putra, menilai pengalaman Thailand memberi pelajaran strategis bagi Indonesia. “Dari Prof. Saroj kita melihat makna co-development dalam membangun dan mengoperasikan fasilitas nuklir,” ujarnya.
Edy menekankan, keberhasilan SLRI dibentuk oleh kolaborasi global jangka panjang, pembangunan komunitas pengguna, serta dedikasi generasi muda. “Ini memberi inspirasi agar kita berkomitmen meningkatkan kualitas riset untuk kemajuan negeri, tentu melalui kerja sama global,” tambahnya.
BRIN menempatkan penguatan talenta, pembangunan infrastruktur riset, dan kolaborasi internasional sebagai pilar utama untuk mempercepat kemajuan sains nasional. Upaya ini diharapkan mampu menghadirkan ekosistem riset yang lebih kompetitif dan selaras dengan kebutuhan strategis Indonesia. (jnn/ed: tnt)