IDEN

Detail Berita

Menuju Indonesia Emas 2045, AHY: Riset dan Inovasi Fondasi Infrastruktur Masa Depan

Diterbitkan pada 20 Desember 2025

Jakarta - Humas BRIN. Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menegaskan bahwa riset dan inovasi harus menjadi fondasi utama dalam pembangunan infrastruktur nasional menuju visi Indonesia Emas 2045. Menurut AHY, pembangunan infrastruktur tidak lagi cukup dipahami sebagai pembangunan fisik semata, melainkan harus berbasis sains agar mampu menjawab tantangan masa depan yang semakin kompleks.

Penegasan tersebut disampaikan AHY dalam pidato kunci pada Temu Bisnis: Pre-Event “Menuju Indonesia 2045: Kemitraan Publik–Swasta untuk Infrastruktur Riset Inovasi” yang diselenggarakan Deputi Bidang Infrastruktur Riset dan Inovasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Kawasan Sains dan Teknologi  Sarwono Prawirohardjo, Jakarta, Kamis (18/12).

AHY menekankan bahwa tanpa dukungan riset dan inovasi, pembangunan infrastruktur berisiko tidak mencapai potensi optimalnya. Infrastruktur masa depan, kata dia, harus dirancang adaptif terhadap perubahan iklim, urbanisasi yang cepat, serta dinamika geopolitik global yang terus berkembang.

Dalam kesempatan tersebut, AHY juga mengapresiasi kolaborasi strategis antara Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan dengan BRIN. Kolaborasi ini menurutnya, dinilai krusial untuk memastikan hasil riset dan inovasi terhubung langsung dengan perencanaan pembangunan nasional, mulai dari tata ruang, penyusunan standar bangunan, hingga pelaksanaan proyek strategis seperti bendungan, pelabuhan, dan jaringan transportasi.

Lebih lanjut, AHY memaparkan tiga pilar utama pembangunan infrastruktur berbasis inovasi menuju 2045. Pilar pertama adalah desain berbasis sains untuk memperkuat ketahanan nasional, termasuk mitigasi bencana, rekayasa seismik, serta pemanfaatan kecerdasan buatan dalam sistem peringatan dini. Ia mencontohkan fenomena penurunan muka tanah di pesisir Jakarta Utara yang mencapai hingga 20 cm per tahun sebagai tantangan serius yang membutuhkan pendekatan ilmiah.

Pilar kedua adalah penguatan infrastruktur digital dan cerdas untuk meningkatkan daya saing nasional. Pemerintah saat ini mengembangkan teknologi seperti digital twin untuk proyek berskala besar, sensor Internet of Things (IoT) untuk pemantauan infrastruktur, smart grid energi, serta sistem lalu lintas berbasis kecerdasan buatan. Infrastruktur digital tersebut diharapkan menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi berbasis inovasi.

Sementara itu, pilar ketiga berfokus pada pengembangan inovasi hijau guna mewujudkan masa depan berkelanjutan dan rendah karbon. Pemerintah menargetkan penambahan kapasitas listrik sebesar 69,5 gigawatt hingga 2034 dengan porsi utama berasal dari energi terbarukan. Untuk mendukung target tersebut, riset di bidang panas bumi, energi surya, hidrogen hijau, biofuel, serta solusi berbasis alam seperti restorasi mangrove dan rehabilitasi gambut menjadi semakin strategis.

Selain aspek teknologi, AHY menyoroti pentingnya reformasi pembiayaan infrastruktur dan penguatan sumber daya manusia. Kebutuhan pembiayaan infrastruktur hingga 2045 diproyeksikan mencapai USD 650 miliar, termasuk melalui penguatan peran Danantara sebagai otoritas investasi nasional. Di sisi lain, pengembangan sumber daya manusia melalui pendidikan STEM, vokasi, serta kerja sama internasional dinilai menjadi kunci keberlanjutan pembangunan jangka panjang.

Menutup pidatonya, AHY menegaskan bahwa masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kekayaan alam, melainkan oleh kualitas ide dan inovasi sumber daya manusianya. “Riset adalah kompas kita, inovasi adalah mesin kita, dan infrastruktur adalah kendaraan kita,” ujarnya, seraya mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk membangun Indonesia secara inklusif, bijak, dan berkelanjutan melalui kolaborasi yang erat. (rsa/ed:suhe,ugi)