IDEN

Detail Berita

Metode LCA dan Perhitungan Jejak Karbon Jadi Kunci Strategis Capai Target Net Zero 2060

Diterbitkan pada 11 Februari 2026

Jakarta-Humas BRIN.  Metode Life Cycle Assessment (LCA) dan perhitungan jejak karbon dinilai menjadi instrumen kunci pengambilan keputusan strategis untuk menekan emisi gas rumah kaca sekaligus menjaga pertumbuhan industri nasional menuju target Net Zero Emission 2060. Pendekatan berbasis bukti ilmiah ini diperlukan agar kebijakan dan praktik industri tidak lagi bertumpu pada intuisi semata.

Pandangan tersebut mengemuka dalam workshop bertajuk “Carbon Footprint Calculation and Life Cycle Assessment (LCA) as a Tools-Based Decision Making Approach” yang digelar pada hari kedua sebagai rangkaian simposium The 9th International Symposium of JSPS Alumni Association of Indonesia, di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Sarwono Prawiroharjo BRIN, Gatot Subroto, Jakarta, Selasa (10/2).

Dalam kegiatan tersebut, Hismiaty Bahua peneliti Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan (PRSIMB) menegaskan bahwa LCA dan carbon footprint menjadi alat analisis penting dalam mendukung agenda Indonesia Emas 2045 dan pencapaian target Net Zero Emission 2060.

Hismiaty menekankan perlunya pergeseran paradigma dari pengambilan keputusan berbasis intuisi menuju kebijakan berbasis data dan sains. Menurutnya, metodologi LCA memungkinkan identifikasi peluang efisiensi dan dekarbonisasi secara terukur di sektor industri.

“Dari sini kita bisa memindahkan keterbatasan intuisi menuju pengambilan keputusan berbasis bukti dengan science-based tools,” ujarnya.

Hismiaty menyoroti tantangan Indonesia dalam menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan komitmen penurunan emisi. Meski telah meratifikasi Paris Agreement dan memperbarui dokumen Nationally Determined Contribution (NDC), peningkatan aktivitas ekonomi masih kerap diiringi kenaikan emisi.

“Tantangannya adalah bagaimana ekonomi bisa tumbuh pesat, tetapi emisi tetap ditekan hingga nol,” katanya. Dalam konteks tersebut, perhitungan carbon footprint dan LCA berfungsi sebagai pendekatan kuantitatif untuk membandingkan berbagai opsi mitigasi.

Ia juga menjelaskan perbedaan antara Corporate Carbon Footprint (CCF) dan Product Carbon Footprint (PCF). CCF mencerminkan total emisi dari seluruh aktivitas perusahaan, sedangkan PCF menghitung emisi sepanjang siklus hidup produk.

“PCF menjawab berapa besar karbon yang terasosiasi dengan suatu produk,” jelasnya, mulai dari ekstraksi bahan baku, proses manufaktur, hingga akhir masa pakai.

Namun, Hismiaty mengingatkan risiko carbon tunnel vision apabila industri hanya berfokus pada satu indikator karbon. LCA diperlukan untuk mencegah burden shifting, yakni perpindahan dampak lingkungan dari satu kategori ke kategori lainnya.

“Kita bisa menggunakan PCF untuk komunikasi pasar yang cepat, dan LCA penuh untuk kebijakan strategis,” ujarnya.

Hismiaty juga menjelaskan bahwa LCA merupakan instrumen evaluasi komprehensif yang mencakup barang maupun jasa, termasuk sektor logistik. Ia memaparkan bahwa proses LCA harus mengikuti empat tahapan utama sesuai standar ISO, yakni pendefinisian tujuan dan lingkup, analisis inventori, penilaian dampak, serta interpretasi.

Penentuan batasan sistem (system boundary) disebutnya sebagai tahap krusial karena akan menentukan arah analisis, apakah menggunakan pendekatan cradle to gate atau cakupan yang lebih luas. Ia juga menyoroti tantangan pengumpulan data, khususnya data primer, sehingga industri disarankan memprioritaskan data yang berada dalam kendali langsung perusahaan.

Memasuki teknis pengumpulan data atau Life Cycle Inventory (LCI), tantangan terbesar seringkali muncul pada aksesibilitas informasi. Hismiaty membagi data menjadi dua kategori: data primer (foreground) yang berada di bawah kendali langsung perusahaan, dan data sekunder (background) yang biasanya berasal dari literatur atau database pihak ketiga. 

Ia mengakui bahwa mengejar data primer untuk seluruh rantai pasok adalah hal yang sangat menguras tenaga dan biaya. Sebagai solusi praktis, ia menyarankan, "Kita bisa memprioritaskan foreground data kita adalah yang kita punya yang kendali di dalamnya," sarannya.

Sebagai penutup, Hismiaty menjelaskan bahwa hasil akhir dari seluruh rangkaian proses ini adalah penilaian dampak (Impact Assessment) yang dapat diukur melalui dua pendekatan: midpoint yang fokus pada masalah lingkungan seperti perubahan iklim, atau endpoint yang melihat kerusakan akhir pada kesehatan manusia dan ekosistem. 

Mengingat kompleksitas perhitungan manual yang memakan waktu, ia merekomendasikan penggunaan perangkat lunak khusus yang telah mengintegrasikan berbagai faktor karakterisasi dan database LCA. Dengan data yang akurat, industri diharapkan mampu melakukan perencanaan strategis dan pemasaran hijau yang berbasis fakta, bukan sekadar klaim belaka.(rsa/ed: mfs)