
Tangerang Selatan – Humas BRIN. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan inovasi biomaterial mineral trioxide aggregate (MTA) berbasis biomassa. Inovasi ini bermanfaat untuk perawatan endodontik (saluran akar) guna menghadirkan biomaterial kedokteran gigi yang lebih berkelanjutan, ekonomis, dan mendukung kemandirian industri kesehatan nasional. Biomassa yang digunakan memanfaatkan sumber daya lokal yang memiliki sifat biokompatibel dan bioaktif setara produk komersial.
Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Biomassa dan Bioproduk BRIN, Leny Yuliatun, mengatakan produk MTA komersial masih menghadapi sejumlah tantangan, antara lain harga yang relatif tinggi, waktu pengerasan yang lama, serta keterbatasan sifat mekanik.
“Oleh karena itu, kami mengembangkan MTA berbasis biomassa dengan memanfaatkan sumber daya lokal sebagai sumber kalsium silikat untuk menghasilkan biomaterial yang lebih terjangkau dan berkelanjutan,” kata Leny, dalam webinar Product Knowledge (4) bertajuk “Material Fungsional untuk Medis”, Jumat (19/6).
MTA merupakan biomaterial yang telah digunakan secara luas dalam bidang endodontik, khususnya untuk perawatan saluran akar, pulp capping, root-end filling, dan perbaikan perforasi gigi. Material ini memiliki sifat biokompatibel, bioaktif, serta kemampuan penyegelan yang baik sehingga mendukung proses regenerasi dan penyembuhan jaringan gigi.
Menurut Leny, biomassa memiliki potensi besar sebagai sumber material maju untuk aplikasi medis dan kedokteran gigi. Melalui pendekatan tersebut, biomassa dapat diolah menjadi biomaterial fungsional yang tidak hanya mendukung pengembangan material kesehatan, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi sumber daya hayati Indonesia.
Hasil penelitian menunjukkan modifikasi MTA menggunakan stronsia, zirkonia, dan hidroksiapatit mampu meningkatkan karakteristik material. Formulasi yang dikembangkan memiliki bioaktivitas tinggi, mampu membentuk apatit, berinteraksi baik dengan dentin, serta memenuhi standar radiopasitas untuk material endodontik.
Selain itu, pengujian biokompatibilitas menunjukkan material tersebut tidak bersifat toksik terhadap sel normal maupun mesenchymal stem cells. “Dibandingkan produk komersial, MTA berbasis biomassa memiliki performa yang sebanding dalam aspek bioaktivitas dan biokompatibilitas, serta berpotensi menurunkan biaya produksi dan mendukung prinsip keberlanjutan,” sebut Leny.
Ia meyakini pemanfaatan biomassa sebagai bahan baku biomaterial tidak hanya memberikan nilai ilmiah dan ekonomi, tetapi juga mendukung penerapan ekonomi sirkular melalui pemanfaatan sumber daya lokal. “Pengembangan material ini diharapkan menjadi langkah strategis dalam mewujudkan biomaterial kedokteran gigi yang lebih mandiri dan berdaya saing,” harapnya.
Ke depan, penelitian akan difokuskan pada standarisasi bahan baku biomassa, pengembangan sistem hidrasi material, serta pengujian praklinis dan klinis untuk mendukung hilirisasi dan pemanfaatan teknologi secara lebih luas. (ay/ed:jh, tnt)
