
Jakarta – Humas BRIN. Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria mengingatkan kepada para profesor di lingkungan BRIN agar tidak hanya berfokus pada penyampaian kebenaran ilmiah, tetapi juga mempertimbangkan cara penyampaian serta kepentingan yang lebih luas, baik bagi institusi maupun negara. Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan Pengukuhan Profesor Riset di Lingkungan BRIN di Gedung BJ. Habibie Jakarta pada Kamis, (16/7).
Arif menegaskan bahwa seorang profesor memiliki tanggung jawab untuk mengedepankan tiga prinsip utama, yakni menyampaikan informasi yang benar, disampaikan dengan cara yang baik, serta disampaikan pada waktu dan konteks yang tepat.
"Kepintaran dapat digantikan oleh kecerdasan buatan (AI), tetapi kebijaksanaan atau wisdom tidak dapat digantikan oleh AI," katanya
Arif menjelaskan tidak semua informasi yang benar harus selalu disampaikan tanpa mempertimbangkan situasi. Seorang profesor dituntut memiliki kebijaksanaan dalam menentukan informasi yang perlu disampaikan kepada publik maupun yang perlu dijaga karena berkaitan dengan kepentingan institusi dan negara.
Menurutnya, penyampaian hasil riset perlu mempertimbangkan dimensi ruang, waktu, serta konteks. Hal tersebut menjadi penting terutama ketika penelitian berkaitan dengan teknologi strategis yang memiliki nilai tinggi dan berdampak pada daya saing bangsa.
Ia mencontohkan bahwa di berbagai negara, kebocoran informasi mengenai teknologi tertentu dapat menimbulkan kerugian besar, bahkan menghilangkan potensi ekonomi yang dimiliki suatu negara. Oleh karena itu, peneliti perlu memahami batasan mengenai informasi yang dapat dipublikasikan dan yang harus tetap dijaga kerahasiaannya.
“Selain itu, para profesor juga didorong untuk terus memperkuat kemampuan dalam menyampaikan kebenaran secara efektif kepada masyarakat sekaligus memahami konteks penyampaian informasi. Kemampuan tersebut dinilai menjadi bagian penting dari tanggung jawab akademik seorang profesor,” jelas Arif.
Pada kesempatan itu juga disampaikan bahwa semakin tinggi jabatan akademik seseorang, semakin besar pula tanggung jawab sosial yang harus diemban. Kontribusi seorang profesor diharapkan tidak hanya diukur dari publikasi ilmiah atau indeks sitasi, tetapi juga dari manfaat nyata yang dihasilkan bagi masyarakat.
"Semakin tinggi gelar akademik yang dimiliki, semakin besar pula ekspektasi terhadap manfaat yang diberikan kepada masyarakat. Orientasi kita bukan hanya pada kualitas dan indeksasi, tetapi juga pada kebermanfaatan yang berkelanjutan," ungkapnya.
Di akhir sambutan, Arif menekankan seluruh profesor diharapkan mampu menjadi teladan melalui kontribusi ilmu pengetahuan yang berdampak luas bagi masyarakat serta terus menghadirkan riset yang memberikan manfaat berkelanjutan bagi bangsa dan negara.
Sebagai informasi lima professor riset yang dikukuhkan hari ini antara lain :
1. Dr. Ir. Johnny Walker Situmorang, M.S judul orasi ; Penguatan Kewirausahaan Koperasi Membangun Kedaulatan Ekonomi Rakyat Dan Sokoguru Perekonomian Indonesia
2. Dr. Hidayat, S.Kom., M.Sc., judul orasi ; Dinamika Dan Mekanisme Sistem Hidrologi Lahan Basah Dataran Banjir Tropis
3. Dr. Ir. Tri Marwati, M.Si. judul orasi ; Menjawab Tantangan Mutu dan Nilai Tambah Kakao Indonesia: Inovasi Fermentasi Berbasis Bakteri Asam Laktat Lokal
4. Umi Mu'awanah, S.T., M.T., Ph.D. judul orasi ; Tata Kelola Perikanan Berkeadilan: Integrasi Ekonomi, Hak Ulayat Dan Konservasi
5. Dr. Wahyu Pudji Nugraheni, S.K.M., M.Kes., judul Optimalisasi Kemitraan Pemerintah Dengan Swasta Dalam Mempercepat Ekuitas Akses Layanan Kesehatan Di Indonesia. (trs)