
Jakarta-Humas BRIN. Paparan logam berat, khususnya timbal, masih menjadi ancaman serius bagi tumbuh kembang anak di Indonesia. Hasil riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan sebanyak 14,6% anak yang diteliti pada 2025 memiliki kadar timbal dalam darah yang memerlukan perhatian. Temuan ini menjadi dasar penting dalam mendukung kebijakan kesehatan berbasis bukti, termasuk penguatan Integrasi Layanan Primer (ILP).
Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi (PR KMG) BRIN, Tities Puspita, menyampaikan bahwa riset berbasis bukti merupakan fondasi dalam memperkuat layanan kesehatan primer, mulai dari upaya promotif, preventif, deteksi dini, hingga penyusunan kebijakan kesehatan yang lebih tepat sasaran.
Menurut Tities, salah satu perhatian utama BRIN adalah tingginya paparan timbal pada anak-anak. Untuk mengidentifikasi sumber pencemaran, BRIN berkolaborasi dengan Pure Earth dan Vital Strategies melakukan penelitian yang tidak hanya mengukur kadar timbal dalam darah anak, tetapi juga menelusuri sumber paparan di lingkungan tempat tinggal mereka.
"BRIN bersama Pure Earth dan Vital Strategies melakukan penelitian kolaboratif untuk mengukur kadar timbal dalam darah anak-anak Indonesia sekaligus menelusuri sumber paparan di lingkungan tempat tinggal mereka," ujar Tities saat memaparkan hasil-hasil riset BRIN pada pameran konferensi kesehatan di ajang Leimena Conference 2026 yang diselenggarakan di BRIN Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Sarwono Prawiroharjo, Gatot Subroto, Jakarta, Senin (27/7).
Dalam penelitian tersebut, sampel diambil dari darah anak serta berbagai komponen lingkungan rumah, seperti debu, tanah, hingga partikel yang menempel pada pakaian. Pendekatan ini dilakukan untuk mengetahui keterkaitan antara kondisi lingkungan dengan tingginya kadar timbal dalam darah anak.
Hasil penelitian juga mengidentifikasi sejumlah produk rumah tangga yang berpotensi menjadi sumber paparan timbal, antara lain mainan anak (7,32%), alat makan plastik (9,55%), alat masak logam (20,28%), serta alat makan berbahan keramik (26,67%).
"Hasil penelitian menunjukkan pentingnya memahami sumber paparan timbal di lingkungan rumah agar upaya pencegahan dapat dilakukan secara lebih efektif," jelasnya.
Menurut Tities, paparan timbal dapat mengganggu tumbuh kembang anak, termasuk perkembangan kognitif dan tingkat kecerdasan. Oleh karena itu, intervensi sejak dini menjadi langkah penting untuk melindungi kesehatan anak dan mencegah dampak jangka panjang.
Selain isu paparan timbal, BRIN juga menaruh perhatian pada dampak perubahan iklim terhadap sektor kesehatan. Meningkatnya berbagai penyakit akibat perubahan iklim diperkirakan akan menambah beban pembiayaan layanan kesehatan. Karena itu, penyusunan kebijakan memerlukan dukungan data ilmiah yang kuat agar intervensi yang dilakukan lebih efektif.
Tities menegaskan bahwa hasil penelitian tidak boleh berhenti sebagai publikasi ilmiah, tetapi harus diterjemahkan menjadi rekomendasi kebijakan yang dapat diimplementasikan oleh pemerintah pusat maupun daerah. Untuk itu, BRIN terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, agar hasil riset dapat diadopsi dalam program-program kesehatan.
Masyarakat Perlu Merasakan Manfaat Riset
Tities menjelaskan bahwa masyarakat yang terlibat sebagai responden penelitian juga mengharapkan manfaat langsung dari kegiatan riset. Oleh sebab itu, BRIN tidak hanya mengumpulkan data melalui wawancara, pemeriksaan kesehatan, dan pengukuran status gizi, tetapi juga memberikan umpan balik berupa edukasi kesehatan.
Sebagai tindak lanjut penelitian paparan timbal, BRIN melibatkan tenaga puskesmas untuk memberikan edukasi kepada masyarakat. Setelah hasil pemeriksaan laboratorium diperoleh, para orang tua diundang kembali untuk menerima konseling mengenai kondisi kesehatan anak mereka.
Melalui leaflet dan penyuluhan langsung, masyarakat diberikan pemahaman mengenai bahaya paparan timbal serta langkah-langkah sederhana untuk mengurangi risiko paparan di lingkungan rumah. BRIN juga melakukan pre-test dan post-test kepada tenaga kesehatan puskesmas untuk mengukur efektivitas pelatihan yang diberikan. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta setelah mengikuti pelatihan tersebut.
Meski demikian, Tities mengakui sebagian besar penelitian masih menggunakan desain cross-sectional sehingga belum dapat mengukur perubahan perilaku masyarakat dalam jangka panjang. Menurutnya, efektivitas intervensi akan lebih komprehensif apabila dikaji melalui penelitian longitudinal dengan pemantauan berkelanjutan.
Data Berkualitas untuk Kebijakan Berbasis Bukti
Dalam kesempatan tersebut, Tities menekankan bahwa data yang diperoleh melalui metodologi penelitian yang baik memiliki peran strategis dalam penyusunan kebijakan. Data yang representatif dan valid memberikan gambaran kondisi masyarakat secara akurat sehingga dapat dimanfaatkan pemerintah untuk merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi program kesehatan.
Ia mencontohkan, berbagai survei kesehatan nasional, seperti Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) dan Survei Kesehatan Indonesia (SKI), selama ini menjadi rujukan penting dalam penyusunan kebijakan kesehatan berbasis bukti.
Melalui partisipasi dalam konferensi kesehatan tersebut, BRIN juga memperkuat kolaborasi dengan Kementerian Kesehatan, Pemerintah Australia, dan berbagai mitra pembangunan lainnya. Selain mempublikasikan hasil riset terkait Integrasi Layanan Primer, forum tersebut juga membuka peluang kerja sama penelitian di masa mendatang.
"Harapan kami, riset yang dilakukan BRIN tidak hanya memenuhi kewajiban akademik, tetapi benar-benar memberikan sumbangsih bagi peningkatan kesehatan masyarakat Indonesia melalui kebijakan berbasis bukti dan kolaborasi lintas sektor," pungkas Tities. (suhe/ed. mfs)