Jakarta - Humas BRIN. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengukuhkan lima Peneliti Ahli Utama sebagai Profesor Riset dalam Sidang Terbuka Orasi Ilmiah Profesor Riset yang berlangsung di Auditorium Soemitro Djojohadikusumo, Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Kamis (30/7). Pengukuhan tersebut menjadi pengakuan atas capaian akademik tertinggi para peneliti sekaligus menegaskan komitmen BRIN dalam memperkuat sumber daya manusia (SDM) ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) serta mendorong lahirnya riset yang berdampak bagi pembangunan di berbagai sektor strategis.
Kelima profesor riset yang dikukuhkan berasal dari disiplin ilmu yang berbeda, mulai dari teknologi satelit, pengelolaan sumber daya air dan limbah berbasis mikroalga, teknologi nuklir, sistem agribisnis, hingga tata kelola kelautan. Melalui orasi ilmiah, masing-masing memaparkan hasil riset, inovasi, serta rekomendasi kebijakan yang dikembangkan sepanjang perjalanan karier ilmiahnya untuk menjawab berbagai tantangan pembangunan nasional.
Deputi Bidang Sumber Daya Manusia Ilmu Pengetahuan dan Teknologi BRIN, Prof. Edy Giri Rachman Putra, mengatakan bahwa pengukuhan Profesor Riset merupakan wujud komitmen BRIN dalam membangun ekosistem riset yang unggul melalui pengembangan SDM berkelas dunia.
"Sidang Terbuka Pengukuhan Profesor Riset merupakan momentum yang sangat bermakna sebagai wujud komitmen pada riset dan inovasi nasional dalam membangun ekosistem riset yang unggul melalui pengembangan sumber daya manusia yang berkelas dunia," ujar Edy.
Ia menjelaskan bahwa kelima profesor riset telah melalui proses akademik yang objektif, komprehensif, dan berintegritas sebelum memperoleh pengukuhan sebagai Profesor Riset.
Menurut Edy, rekam jejak ilmiah para profesor mencerminkan kontribusi nyata dalam menghasilkan riset, inovasi, dan berbagai solusi berbasis ilmu pengetahuan yang mendukung penyusunan kebijakan berbasis bukti (evidence-based policy) sesuai kebutuhan pembangunan nasional.
Prof. Robertus Heru Triharjanto dari Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa BRIN dikukuhkan berkat kepakarannya di bidang teknik antariksa, khususnya desain satelit mikro, roket, dan manajemen teknologi antariksa. Berbagai hasil risetnya menghasilkan desain sistem, komponen struktur, simulator, hingga algoritma optimasi satelit mikro yang mendukung pengembangan teknologi satelit nasional sekaligus memperkuat kemandirian penginderaan jauh Indonesia.
Sementara itu, Prof. Awalina Satya dari Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN mengangkat orasi mengenai teknologi biosirkulasi air limbah menggunakan fotobioreaktor untuk kultivasi mikroalga dan sianobakteria. Teknologi tersebut memanfaatkan mikroalga dalam sistem fotobioreaktor untuk mengolah air limbah sekaligus menghasilkan biomassa bernilai ekonomi, serta mendukung biosequestration dan carbon capture, utilization, and storage (CCUS). Penelitiannya mengintegrasikan aspek rekayasa proses, pengolahan limbah, dan keberlanjutan lingkungan yang mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya tujuan 6, 7, dan 13.
Di bidang teknologi nuklir, Prof. Geni Rina Sunaryo dari Organisasi Riset Tenaga Nuklir BRIN menyampaikan berbagai hasil riset mengenai kimia pendingin reaktor, radiolisis, korosi material, hingga sistem kimia prediktif berbasis sensor dan kecerdasan artifisial. Melalui pengembangan kerangka integratif keselamatan kimia reaktor, riset tersebut mendukung keselamatan reaktor nuklir sekaligus menjadi fondasi bagi kesiapan Indonesia menuju pemanfaatan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) yang aman, andal, dan berkelanjutan.
Adapun Prof. Bahtiar dari Pusat Riset Ekonomi Perilaku dan Sirkular BRIN berkontribusi melalui penelitian mengenai reformulasi sistem agribisnis jagung berbasis rantai nilai. Kajiannya berfokus pada penguatan kelembagaan, perilaku petani, sistem pemasaran, serta peningkatan nilai tambah untuk mendukung ketahanan pangan nasional yang inklusif dan berkelanjutan.
Sementara itu, Prof. Dirhamsyah dari Pusat Riset Kebijakan Publik BRIN mengembangkan berbagai kajian mengenai tata kelola kelautan dan kemaritiman yang mencakup aspek hukum nasional maupun internasional. Hasil kajiannya menawarkan pendekatan deregulasi progresif melalui pembentukan Undang-Undang Omnibus Kelautan sebagai upaya mengatasi tumpang tindih regulasi dan memperkuat tata kelola serta pengelolaan ruang laut Indonesia.
Edy menilai keberagaman kepakaran kelima profesor riset menunjukkan bahwa penguatan SDM iptek menjadi fondasi penting dalam menghasilkan solusi berbasis ilmu pengetahuan bagi berbagai sektor pembangunan.
"Kelima kepakaran yang dikukuhkan sebagai profesor riset mencerminkan peran strategis beliau dalam menghasilkan riset dan inovasi yang berdampak bagi masyarakat, industri, dan pemerintahan," katanya.
Ia menambahkan bahwa inovasi yang dihasilkan, mulai dari teknologi satelit mikro, teknologi biosirkulasi air limbah, tata kelola kimia pendingin reaktor nuklir, reformulasi sistem agribisnis jagung berbasis rantai nilai, hingga deregulasi progresif untuk rekonstruksi tata kelola kelautan, merupakan kontribusi nyata dalam memperkuat daya saing nasional dan mendukung penyusunan kebijakan berbasis bukti.
"Sinergi antara kepakaran di bidang teknologi, lingkungan, energi, pangan, dan tata kelola laut merupakan modal strategis untuk menjawab berbagai tantangan pembangunan nasional sekaligus mewujudkan Indonesia yang mandiri, maju, dan berkelanjutan," ungkapnya.
Pada kesempatan tersebut, BRIN mengukuhkan Profesor Riset ke-121 hingga ke-125. Edy menegaskan bahwa pengukuhan Profesor Riset merupakan bentuk penghargaan tertinggi atas dedikasi, integritas, dan kontribusi ilmiah para peneliti, sekaligus amanah untuk terus menghasilkan riset yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Ia juga mengajak para Profesor Riset yang baru dikukuhkan untuk terus menjaga integritas akademik serta menghasilkan inovasi yang memberikan dampak bagi masyarakat, industri, dan pemerintah.
"Profesor riset diharapkan senantiasa menjadi teladan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi sekaligus memperkuat kepercayaan publik terhadap riset sebagai fondasi pemajuan Indonesia," tutup Edy. (jnn)