
Yogyakarta – Humas BRIN. Penguatan talenta di bidang teknologi nuklir menjadi bagian penting dalam mendorong riset dan inovasi yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan pembangunan nasional. Hal tersebut menjadi salah satu pesan utama Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria dalam Orasi Ilmiah Dies Natalis ke-41 dan Wisuda Sarjana Terapan Politeknik Teknologi Nuklir Indonesia (Poltek Nuklir) Tahun Akademik 2025/2026 di Yogyakarta, Rabu (9/9).
Ia menekankan, pendidikan dan riset di bidang nuklir perlu diarahkan tidak berhenti pada pencapaian akademik, tetapi mampu menghasilkan pengetahuan, teknologi, dan inovasi yang digunakan untuk menyelesaikan persoalan nyata. Indonesia memiliki peluang besar untuk memperkuat ekosistem inovasi melalui pengembangan sumber daya manusia, penguasaan teknologi, serta kolaborasi antara lembaga riset, perguruan tinggi, industri, dan pemangku kepentingan lainnya.
“Ada jarak antara menghasilkan sesuatu yang baru dengan menghasilkan perubahan. Menurut saya, di situlah kata berdampak dalam tema dies natalis ini menemukan maknanya,” ujar Arif dalam orasi ilmiahnya.
Ia menjelaskan, penguasaan teknologi menjadi salah satu faktor penting dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045. Dalam konteks tersebut, teknologi nuklir menjadi salah satu bidang strategis yang perlu terus dikembangkan bersama teknologi maju lainnya, seperti semikonduktor, kecerdasan artifisial, biogenomik, teknologi kuantum, serta material maju.
“Saya ingatkan agar kalian mampu membawa hasil pembelajaran dan pengalaman riset menuju tahap yang lebih jauh, mulai dari pengembangan teknologi hingga pemanfaatannya. Tantangan riset tidak berhenti pada penemuan atau prototipe, tetapi bagaimana inovasi tersebut dapat diterapkan dan memberikan nilai bagi masyarakat,” tegasnya.
Pesan tersebut sejalan dengan arah pengembangan Poltek Nuklir dalam membangun ekosistem pendidikan dan riset melalui kolaborasi dengan pusat riset BRIN, industri, pemerintah daerah, dan perguruan tinggi. Kolaborasi tersebut mencakup penelitian bersama, magang, pembelajaran industri, pengembangan kompetensi, hingga project based learning.
Plt. Direktur Poltek Nuklir Zainal Arief, mengatakan penguatan pendidikan vokasi nuklir perlu berjalan beriringan dengan penguatan ekosistem riset. Menurutnya, keterhubungan antara pendidikan, penelitian, dan dunia industri menjadi penting agar talenta yang dihasilkan memiliki kompetensi yang relevan sekaligus mampu mendukung kebutuhan teknologi nuklir nasional.
“Sinergi talenta nuklir untuk akselerasi inovasi berdampak menjadi arah penting bagi pengembangan Poltek Nuklir. Melalui kolaborasi dengan pusat riset BRIN dan industri, mahasiswa tidak hanya mendapatkan pembelajaran di kelas, tetapi juga pengalaman penelitian dan penerapan teknologi,” ujarnya.
Zainal menambahkan, Poltek Nuklir terus mendorong peningkatan produk riset dan inovasi, kualitas pendidik dan tenaga kependidikan, serta ketersediaan talenta nuklir yang kompeten dan berdaya saing.
“Penguatan tersebut diarahkan untuk mendukung kebutuhan program nuklir nasional, termasuk pada bidang reaktor, teknologi radiasi. Kemudian, instrumentasi medik, radioisotop dan radiofarmaka, serta siklus bahan bakar nuklir,” terangnya.
Dari sisi mahasiswa, pengalaman melakukan penelitian selama menempuh pendidikan di Poltek Nuklir menjadi bekal penting untuk memasuki dunia profesional sekaligus mengembangkan kemampuan riset. Perwakilan mahasiswa, Sherina Massayu Putri dari Program Studi Teknokimia Nuklir, mengungkapkan bahwa kesempatan yang diberikan dosen untuk terlibat dalam berbagai proyek penelitian menjadi pengalaman yang membentuk kompetensi dan kepercayaan dirinya.
“Saya tidak tahu apakah kalau di tempat lain saya diberikan kepercayaan untuk melakukan penelitian ini itu. Tapi semua orang di sini memberi saya kesempatan, dan dari sana, saya belajar banyak hal,” ungkap Sherina.
Menurutnya, keterlibatan mahasiswa dalam proyek dan penelitian dosen memberikan pengalaman yang tidak hanya berkaitan dengan kompetensi akademik, tetapi juga membentuk kemampuan bertanggung jawab, bekerja sama, dan menghadapi berbagai tantangan. Ia menilai kesempatan tersebut menjadi bagian penting dalam proses pembentukan dirinya selama empat tahun menempuh pendidikan di Poltek Nuklir.
Sementara itu, perwakilan alumni, Adyapaka Cesta Praba menilai pendidikan teknologi nuklir memiliki karakteristik yang membentuk lulusan dengan ketelitian, kedisiplinan, dan perhatian tinggi terhadap aspek keselamatan. Karakter tersebut menjadi modal penting ketika lulusan memasuki dunia kerja maupun melanjutkan pengembangan riset dan inovasi.
“Lulusan Politeknik Teknologi Nuklir tidak pernah dididik untuk menjadi pribadi yang gampang menyerah. Latar belakang pendidikan kita unik, kita ditempa oleh disiplin ilmu yang menuntut presisi tingkat tinggi,” ujarnya.
Ia meyakini alumni Poltek Nuklir ke depan dapat mengambil peran lebih besar dalam pengembangan ekonomi berbasis aplikasi teknologi nuklir, antara lain melalui teknologi radiasi, iradiasi industri, dan pengembangan sistem proteksi radiasi.
Penguatan kapasitas tersebut menjadi semakin relevan di tengah kebutuhan Indonesia terhadap sumber daya manusia yang mampu menguasai teknologi strategis sekaligus menerjemahkan hasil riset menjadi solusi. Dalam orasinya, Arif mengajak para lulusan untuk menjadi pembelajar sejati dengan future mindset, memiliki kemampuan beradaptasi, serta terus mengembangkan kompetensi dan karakter.
Dengan demikian, momentum Dies Natalis dan wisuda Poltek Nuklir tidak hanya menjadi penanda berakhirnya satu tahapan pendidikan, tetapi juga menjadi awal bagi lahirnya talenta baru yang diharapkan mampu memperkuat ekosistem riset dan inovasi teknologi nuklir Indonesia. Para lulusan didorong untuk membawa kompetensi yang diperoleh dari laboratorium dan lingkungan akademik ke ruang pengabdian, industri, penelitian, serta pengembangan teknologi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan bangsa. (frw/ed. ns)