IDEN

Detail Berita

BRIN Petakan Tekanan Ekologi Pulau Kecil, Siapkan Basis Sains untuk Pembangunan Berkelanjutan

Diterbitkan pada 16 September 2026

Jakarta – Humas BRIN. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkuat riset di sejumlah pulau kecil Indonesia untuk memahami tekanan perubahan ekosistem, aktivitas manusia, serta dinamika laut yang memengaruhi keberlanjutan wilayah tersebut. Melalui Small Island Research and Development (SIRaD), hasil penelitian diarahkan menjadi basis ilmiah bagi pembangunan pulau kecil sekaligus memperkuat ketahanan masyarakat yang tinggal di dalamnya.

Riset dikembangkan di sejumlah lokasi dengan karakter persoalan yang berbeda, mulai dari Pulau Pari, Talise di Sulawesi Utara, Barang Lompo, Kepulauan Banda, hingga Gili Matra. Wilayah-wilayah tersebut menjadi bagian dari upaya memahami hubungan antara kondisi ekologi dan persoalan sosial-ekonomi masyarakat pulau kecil.

Peneliti Ahli Utama BRIN, Zainal Arifin, mengatakan pulau kecil tidak dapat dipahami sebagai wilayah yang berdiri sendiri. Selain menghadapi tekanan akibat aktivitas manusia di tingkat lokal, kawasan tersebut juga dipengaruhi dinamika iklim dan laut regional, khususnya pulau-pulau yang berada di sepanjang koridor Indonesian Throughflow atau Arus Lintas Indonesia (Arlindo).

Karena itu, menurutnya, penelitian pulau kecil membutuhkan pendekatan yang menghubungkan berbagai disiplin ilmu. Aspek ekologi perlu dikaji bersama kondisi sosial dan ekonomi masyarakat sehingga hasil penelitian dapat berkontribusi terhadap kebutuhan kebijakan dan pembangunan.

“SIRaD dibangun untuk mendorong kolaborasi interdisipliner, meningkatkan keterlibatan masyarakat, mendukung kebijakan berbasis sains untuk pembangunan pulau kecil yang berkelanjutan, serta memperkuat kerja sama regional di Pasifik Barat,” ujar Zainal pada The 3rd Scientific Symposium of Cooperative Study of Kuroshio 2 (CSK-2) di Jakarta, Selasa (15/9).

Perbedaan karakter setiap pulau menjadi perhatian dalam riset tersebut. Di Pulau Pari, penelitian difokuskan pada perubahan ekologi dan ketahanan masyarakat di tengah tekanan aktivitas pariwisata. Kajian tersebut menempatkan perubahan lingkungan dan kemampuan masyarakat menghadapi tekanan sebagai bagian yang saling berkaitan.

Sementara di Talise, Sulawesi Utara, BRIN mengarahkan penelitian untuk memahami tekanan terhadap ekosistem, termasuk dampak aktivitas manusia dan ekstraksi agregat yang tidak terkendali.

Persoalan berbeda ditemukan di Barang Lompo. Penelitian di wilayah ini mencakup tantangan pengelolaan air, aktivitas akuakultur, konflik pemanfaatan ruang, serta pariwisata. Adapun Kepulauan Banda dan Gili Matra turut menjadi lokasi pengembangan riset dengan karakter persoalan ekologis dan sosial-ekonomi masing-masing.

Keragaman persoalan tersebut menunjukkan pentingnya pendekatan riset yang mempertimbangkan karakter setiap wilayah. Melalui SIRaD, BRIN menghubungkan kajian ekologi, sosial, dan ekonomi dengan keterlibatan masyarakat serta kebutuhan kebijakan pembangunan pulau kecil.

Ke depan, riset tersebut juga diarahkan untuk mendukung pengembangan blue food economy, terutama melalui akuakultur yang dapat memberikan manfaat kepada masyarakat lokal.

Selain itu, BRIN menyiapkan pengembangan sistem pemantauan kesehatan ekosistem laut, penelitian biodiversitas, penyusunan indeks kualitas sedimen, serta kontribusi data hasil penelitian ke repositori kelautan. Agenda tersebut menjadi bagian dari penguatan riset pulau kecil hingga 2028–2029.

Melalui SIRaD, BRIN menempatkan penelitian sebagai instrumen untuk menghasilkan pemahaman yang lebih menyeluruh mengenai perubahan yang terjadi di pulau-pulau kecil. Data mengenai kondisi ekosistem, aktivitas manusia, dan dinamika sosial-ekonomi tersebut diharapkan dapat memperkuat basis ilmiah bagi pembangunan pulau kecil yang berkelanjutan sekaligus mendukung kerja sama riset regional di kawasan Pasifik Barat. (bel,fp/ed:pur)