
Tangerang Selatan–Humas BRIN. Lahan bekas tambang tidak harus berakhir sebagai kawasan yang terbengkalai. Melalui pendekatan circular bioeconomy, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong pemanfaatan lahan pascatambang untuk dikembangkan menjadi kawasan peternakan terpadu yang dapat mendukung pemulihan ekosistem sekaligus membuka sumber pangan dan ekonomi baru bagi masyarakat. Gagasan tersebut disampaikan Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Peternakan BRIN, Sindu Akhadiarto, dalam kegiatan BRIN Goes To Industry 7 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang Selatan, Rabu (16/9).
Menurut Sindu, peternakan memiliki fungsi yang lebih luas dari sekadar menghasilkan daging, telur, dan susu. Dalam konsep yang dikembangkan BRIN, peternakan dapat menjadi bagian dari sistem biologis yang mendukung pemulihan fungsi ekosistem lahan bekas tambang. “Peternakan tidak hanya menghasilkan daging, telur, dan susu, tetapi juga menjadi mesin biologis yang mempercepat pemulihan fungsi ekosistem dan bekas tambang,” ujar Sindu.
Mengintegrasikan Peternakan hingga Agrowisata
Konsep Peternakan Terpadu yang dikembangkan BRIN dirancang dengan mengintegrasikan berbagai sektor, mulai dari peternakan, perikanan, hortikultura, tanaman pangan hingga perkebunan. Pendekatan tersebut menyerupai konsep Agro Techno Park, yang menghubungkan kegiatan produksi dari hulu hingga hilir dengan dukungan teknologi dan inovasi.
Kawasan tersebut tidak hanya diarahkan sebagai sentra produksi, tetapi juga dapat menjadi lokasi riset, edukasi, serta agrowisata. Dengan demikian, lahan pascatambang dapat dikembangkan menjadi kawasan percontohan smart agro yang memberikan manfaat ekologis sekaligus ekonomi.
Potensi pengembangan tersebut cukup besar, khususnya di Kalimantan Timur. Sindu menyebut kawasan pertambangan batu bara di provinsi tersebut mencapai lebih dari 1,5 juta ha, atau sekitar 40% dari luasan pertambangan batu bara nasional. Luasan tersebut sekaligus menunjukkan besarnya peluang pemanfaatan lahan pascatambang untuk kegiatan produktif.
Sindu menjelaskan, salah satu pendekatan yang dikaji adalah pemanfaatan void, yaitu lubang bekas tambang yang telah terisi air. Dalam konsep peternakan terpadu, void dapat diarahkan untuk kegiatan perikanan, sementara bagian lahan lainnya dimanfaatkan untuk hortikultura maupun tanaman pangan. Dirinya mencatat, pengalaman pengembangan perikanan pada danau bekas tambang menunjukkan hasil yang menjanjikan. Setelah pemeliharaan selama hampir lima tahun, void dapat menghasilkan komoditas seperti udang galah dan ikan nila yang bermanfaat bagi masyarakat sekitar.
Pemanfaatan lahan juga dapat dilakukan melalui pengembangan tanaman yang sesuai dengan karakteristik tanah pascatambang. Di kawasan Green Belt PT Semen Indonesia, Pabrik Tuban, Jawa Timur, misalnya, telah dikembangkan tanaman hortikultura seperti jeruk, anggur, dan kelengkeng. Sementara pada sektor tanaman pangan, BRIN memiliki sejumlah varietas unggul yang dapat dikembangkan pada kondisi lahan tertentu, termasuk varietas unggul baru padi yang mampu beradaptasi pada lahan masam.
BRIN Gandeng Industri Pulihkan Lahan Pascatambang
Pengembangan model tersebut juga mulai diperkuat melalui kolaborasi BRIN dengan dunia industri. Pada 2026, kata Sindu, BRIN bekerja sama dengan PT Bramasta Sakti dalam kegiatan reklamasi lahan bekas tambang dengan pendekatan revegetasi dan fitoremediasi untuk mendukung pengembangan peternakan ruminansia di Kalimantan Timur.
Direktur PT Bramasta Sakti, Wiwin Suhartanto, menjelaskan kerja sama tersebut telah memiliki payung kelembagaan melalui nota kesepahaman dengan Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP) BRIN, yang kemudian ditindaklanjuti melalui Perjanjian Kerja Sama dengan Pusat Riset Peternakan. Kolaborasi tersebut ke depan berpotensi diperluas dengan melibatkan pusat riset lain, termasuk Pusat Riset Perikanan. “Potensi lahan yang ada di kami dan kemampuan riset dari BRIN ini dapat kita kolaborasikan sehingga nantinya bisa muncul inovasi-inovasi baru,” ujar Wiwin.
Dirinya menjelaskan, kolaborasi BRIN dan PT Bramasta Sakti juga telah ditindaklanjuti melalui kunjungan tim BRIN ke lokasi perusahaan pada Agustus 2026. Tim melihat langsung kondisi lahan serta mengidentifikasi sejumlah potensi yang dapat dikembangkan untuk kegiatan riset.
Dua void yang terisi air menurut Wiwin, menjadi salah satu objek yang berpotensi dikaji untuk pengembangan riset perikanan. Selain itu, tim BRIN mengambil sampel tanah dari sejumlah titik untuk mengetahui karakteristik dan kandungan tanah sebagai dasar pengembangan riset berikutnya.
Model ini menunjukkan bahwa pemulihan lahan bekas tambang dapat diarahkan bukan hanya pada aspek reklamasi, tetapi juga pada pemanfaatan produktif berbasis riset dan inovasi. Integrasi peternakan, perikanan, tanaman pangan, hortikultura, edukasi, dan agrowisata diharapkan dapat menciptakan ekosistem ekonomi baru yang tetap memperhatikan keberlanjutan lingkungan. (Rn ed:ugi)