IDEN

Detail Berita

BRIN Ajak Publik Kenali Ancaman Asteroid dan Cara Mengantisipasinya

Diterbitkan pada 7 Oktober 2026

Bandung – Humas BRIN. Seberapa dekat sebuah asteroid harus melintas dari Bumi hingga dianggap berpotensi membahayakan? Jarak ternyata bukan satu-satunya penentu. Ukuran asteroid, karakteristik fisik, kecepatan, hingga dinamika orbitnya menjadi faktor yang perlu diperhitungkan untuk mengetahui risiko yang mungkin ditimbulkan.

Hal tersebut disampaikan dosen Astronomi Institut Teknologi Bandung (ITB), Budi Dermawan, dalam hari ketiga kegiatan 100 Jam Astronomi untuk Semua yang diselenggarakan Pusat Riset Antariksa, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), secara daring, Sabtu (3/10). Budi membahas asteroid, potensi ancamannya terhadap Bumi, serta berbagai pendekatan mitigasi yang dapat dilakukan.

Budi menjelaskan, tidak semua benda kecil di Tata Surya dapat disebut asteroid. Dalam astronomi dikenal kelompok Small Solar System Bodies (SSSB) yang mencakup asteroid, komet, objek trans-Neptunus, meteoroid, serta objek kecil lainnya.

Asteroid sendiri dapat dikelompokkan berdasarkan karakteristik orbitnya, antara lain asteroid sabuk utama, asteroid dekat Bumi (Near-Earth Asteroids/NEA), Potentially Hazardous Asteroids (PHA), dan Trojan. Dalam konteks ancaman terhadap Bumi, perhatian terutama diberikan pada objek yang orbitnya membawa asteroid mendekati lintasan Bumi.

Salah satu parameter yang digunakan astronom untuk menilai kedekatan tersebut adalah Minimum Orbital Intersection Distance (MOID), yaitu jarak minimum antara orbit asteroid dan orbit Bumi. Namun, lintasan yang dekat dengan Bumi tidak serta-merta membuat sebuah asteroid berbahaya.

Ukuran objek menjadi faktor penting lainnya. Asteroid berukuran kecil dan asteroid berukuran puluhan hingga ratusan meter dapat menghasilkan konsekuensi yang sangat berbeda meskipun melintas pada jarak yang sama.

“Kalaupun bendanya jaraknya dekat, jarak persilangan ini dekat, tapi bendanya kecil, sebutlah satu meter, kita bisa mengatakan tidak berbahaya. Tapi kalau misalnya sampai 100 meter besarnya, itu berbahaya,” Budi menjelaskan.

Potensi dampak juga dipengaruhi karakteristik fisik dan kecepatan asteroid. Faktor-faktor tersebut menentukan besarnya energi yang dapat dilepaskan apabila terjadi tumbukan. Karena itu, penilaian ancaman asteroid membutuhkan informasi yang semakin lengkap, tidak hanya mengenai posisi objek, tetapi juga ukuran, sifat fisik, kecepatan, dan orbitnya.

Dinamika orbit juga membuat penilaian risiko tidak berhenti pada satu kali papasan. Sejumlah asteroid dapat mengalami close encounter atau papasan dekat dengan Bumi secara berulang. Interaksi gravitasi ketika asteroid mendekati Bumi dapat memengaruhi lintasannya sehingga posisi asteroid pada papasan berikutnya perlu terus diperhitungkan.

Dalam konteks tersebut, Budi memperkenalkan konsep keyhole atau “lubang kunci”. Keyhole merupakan wilayah yang sangat sempit di ruang angkasa. Apabila sebuah asteroid melewati wilayah tersebut saat melakukan papasan dekat dengan Bumi, pengaruh gravitasi Bumi dapat mengubah orbitnya sedemikian rupa sehingga pada pertemuan berikutnya asteroid berpotensi berada pada lintasan tumbukan.

Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya pemantauan asteroid secara berkelanjutan. Keberadaan asteroid yang dikategorikan berpotensi membahayakan tidak berarti asteroid tersebut pasti akan menumbuk Bumi. Pengamatan yang terus dilakukan justru memungkinkan astronom memperbarui perhitungan orbit, mengurangi ketidakpastian, dan memperkirakan papasan berikutnya dengan lebih akurat.

“Semakin dini sebuah objek ditemukan, semakin panjang pula waktu peringatan yang tersedia apabila perhitungan menunjukkan adanya risiko tumbukan. Waktu tersebut menjadi faktor penting karena menentukan pilihan mitigasi yang mungkin dilakukan. Masalahnya adalah berapa waktu tunggu kita? Apakah kita punya waktu tunggu yang cukup?” ujar Budi.

Salah satu strategi mitigasi yang dapat dipertimbangkan adalah orbit deflection, yakni mengubah lintasan asteroid sehingga tidak lagi berada pada jalur tumbukan dengan Bumi. Budi menjelaskan sejumlah konsep yang dapat digunakan, antara lain slow push, gravity tractor, dan asteroid tugboat.

Berbagai pendekatan tersebut pada prinsipnya tidak selalu bertujuan menghancurkan asteroid. Perubahan kecil terhadap kecepatan atau lintasan asteroid yang dilakukan cukup jauh sebelum perkiraan tumbukan dapat terakumulasi menjadi perubahan posisi yang lebih besar ketika asteroid mendekati Bumi. Karena itu, keberhasilan mitigasi sangat bergantung pada seberapa dini ancaman dapat diketahui.

Periset Pusat Riset Antariksa BRIN, Rhorom Priyatikanto, mengatakan pemahaman mengenai lingkungan antariksa perlu terus diperkuat. Hal ini mencakup berbagai fenomena antariksa yang berpotensi menjadi ancaman bagi Bumi. 

“Silakan manfaatkan untuk sparks our curiosity. Jadi harus menggelitik rasa pengetahuan kita, kita harus paham sekitar kita ada apa, dan barangkali di sana ada ancaman,” ujarnya.

Menurut Rhorom, informasi mengenai kebencanaan antariksa juga perlu disampaikan melalui media edukasi yang lebih sederhana agar masyarakat dapat memahami karakter ancaman sekaligus kesiapan mitigasinya. Pemantauan objek dekat Bumi pada akhirnya menjadi bagian penting dari upaya kesiapsiagaan terhadap ancaman asteroid. 

Dengan mengetahui orbit, ukuran, karakteristik fisik, dan waktu papasan sejak dini, potensi ancaman asteroid dapat dinilai berdasarkan data dan perhitungan ilmiah. Informasi tersebut juga memberikan waktu yang lebih panjang untuk menentukan langkah mitigasi apabila diperlukan. (lcz, nna/Ed:MM)