Jakarta – Humas BRIN. Tiga riset mengenai sosial dan humaniora akan menjadi prioritas riset OR Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora (OR IPSH) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Kepala OR IPSH, Prof Ahmad Najib Burhani menyebutkan pihaknya memiliki tiga flagship riset, yaitu; riset tentang Papua dan daerah-daerah di Indonesia Timur, riset terkait maritim, dan riset tentang digital society and culture.

Menurut Najib meski OR IPSH memiliki tiga flagship riset, tidak berarti riset-riset lain tidak dilakukan. Berbagai riset sesuai dengan kepakaran dan passion peneliti tetap dilakukan dalam beberapa skema yang ditawarkan oleh BRIN, seperti Rumah Program, Hari Layar, Ekspedisi dan Eksplorasi, dan lainnya.

“Tidak perlu semua peneliti lantas beralih ke tiga flagship yang ada. Mereka bisa tetap menggeluti minat dan keahliannya karena memang keunikan peneliti itu terletak pada kedalaman dan ketekunan pada bidang yang dikaji. Prioritas itu dibuat karna kebutuhan mendesak dan tuntutan untuk menyelesaikan persoalan ini hingga 2024 nanti,” beber pria peraih Gelar Doktor Bidang Kajian Agama di Universitas California-Santa Barbara.

Terkait dengan riset Papua dan Indonesia timur, Najib menyebut OR IPSH bekerjasama dengan sebuah konsorsium yang mengkaji wilayah tersebut. Di antara anggota konsorsium itu adalah Universitas Kristen Setya Wacana (UKSW) Salatiga, Universitas Cendrawasih Papua, dan Universitas Cendrawasih. “OR IPSH mengundang sejumlah peneliti luar BRIN dan akademisi serta di beberapa kampus di sana untuk terlibat dalam flagship riset ini,” ajaknya.

Dalam pelaksanaanya, Peneliti Terbaik di Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora itu ingin mengadopsi dan memodifikasi Cornell’s Modern Indonesia Project yang sudah dilakukan dengan beberapa kampus di Amerika Serikat, seperti Yale, Harvard, MIT, dan Cornell, pada tahun 1950 dan 1960-an ketika melakukan berbagai riset tentang Indonesia.

“Kita ingin mengkombinasikan periset dari Jakarta dan daerah untuk terlibat dalam kajian tentang Papua. IPSH ingin mengajak para akademisi dan mahasiswa di Papua terlibat untuk meneliti dan menulis kekayaan ilmu pengetahuan yang ada di Papua dan di berbagai tempat di Indonesia timur lainnya,” ungkapnya.

Menurut Najib, riset tentang Papua ini sebetulnya merupakan kelanjutan dari apa yang dulu pernah dilakukan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sejak tahun 1970-an. IPSH sudah mendokumentasikan berbagai kajian itu dalam website papua.lipi.go.id, diantaranya adalah kajian tentang Papua Roadmap yang dikerjakan oleh almarhum Muridan dan tim. IPSH ingin menjadikan penelitian ini menjadi prioritas riset dan memberikan fondasi pengetahuan yang cukup bagi pemerintah untuk melakukan kebijakan terbaik terkait Papua.

“Kita berharap berbagai daerah di Papua yang saat ini belum tersentuh oleh penelitian etnografis dan belum dieksplorasi untuk mendapat perhatian serius. Jangan sampai para ilmuwan kalah dari misionaris dalam merambah daerah-daerah terpencil, terjauh, terluar, dan terdalam di Indonesia. Kita berharap, sebelum 2024, IPSH sudah bisa memberikan berbagai produk pengetahuan yang solid dan kokoh terkait Papua,” jelas Pria kelahiran Blitar pada tanggal 27 April 1976.

Terkait dengan flagship riset maritim, Najib mengatakan riset ini karena kondisi bangsa Indonesia yang memang bersifat kepulauan dan menjadi negara bahari. Riset ini ingin menjadikan kondisi bangsa ini sebagai kekuatan dan daya saing dalam ranah global. Sayangnya, kita belum memiliki riset yang kaya tentang hal ini.

Menurut Najib, dulu LIPI sudah memulainya, diantaranya dengan kajian yang dilakukan oleh Adrian B. Lapian dengan bukunya Orang Laut, Bajak Laut, Raja Laut (2009). Tetapi, kajian tentang maritim ini selalu on and off. Sama seperti kajian tentang Papua, maritim Indonesia sebetulnya menawarkan sumber pengetahuan yang sangat kaya bagi para ilmuwan dan menantang mereka untuk menghasilkan berbagai produk ilmu pengetahuan dengan kajian tentang maritim. Karena itulah, tema ini kita angkat menjadi salah satu flagship IPSH.

Landasan lain yang membuat IPSH menjadikan riset maritim sebagai prioritas adalah program pemerintah, diantaranya Kemendikbud-Ristek, yang mencanangkan program Jalur Rempah sebagai upaya memperkokoh posisi Indonesia sebagai poros maritim dunia dan meneguhkan budaya bahari Nusantara. Dalam jangka pendek program ini merancang agar Jalur Rempah ini nanti pada tahun 2024 diakui sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO.

Program ini juga terkait dengan program Tol Laut dari pemerintahan Joko Widodo yang menyambungkan berbagai pulau dan wilayah di Indonesia. Semua rencana dan proyek tersebut membutuhkan kajian dan penelitian yang kokoh dan IPSH BRIN berusaha menjadi provider terhadap kebutuhan dasar pengetahuan untuk berbagai program dan rencana ini. Sehingga, apa yang dilakukan pemeritah tidak salah arah dan, dari sisi ilmu pengetahuan, bisa menjadi kontribusi bagi peradaban dunia.

Prioritas ketiga, mengenai digital society and culture, menjadi kebutuhan mendesak karena dunia telah bergeser menjadi masyarakat digital. Peradaban digital ini telah merambah ke segala aspek kehidupan, termasuk ritual keagamaan. Pergeseran itu tidak hanya berdampak terhadap ekonomi dan pendidikan, bahkan juga spiritualitas.

OR IPSH sudah memulai riset tentang digital ini sejak beberapa tahuan yang lalu dan lebih intensif pada tahun 2021 dengan penyelenggaraan konferensi tentang Digital Disruptions bersama dengan ISEAS Yusof Ishak Institute, Singapura. Pihaknya sudah mulai mengadopsi digital research untuk berbagai penelitian dan survey yang dilakukan.

Terlebih pada masa pandemi Covid-19 ini pergeseran ke dunia digital semakin banyak. Misalnya terkait Work from Home (WfH), pendidikan dengan sistem online, dan juga ibadah virtual. Demikian pula dengan keberadaan social media yang banyak mempengaruhi pergaulan dan kehidupan di masyarakat, termasuk dalam tatanan dan persaingan politik. IPSH sudah mencoba berkomunikasi dengan Google untuk melakukan penelitian terkait AI for Social Good. Riset tentang Smart City juga sudah dilakukan. Demikian pula dengan isu cyber security, digital economy, dan sebagainya. (jml/ed:drs)

Sebarkan