Sentul – Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasiona (BRIN) Laksana Tri Handoko berkesempatan hadir pada acara pengukuhan Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri menjadi Profesor Kehormatan atau Guru Besar Tidak Tetap Universitas Pertahanan (Unhan) RI. Presiden Megawati Soekarnoputri dilantik menjadi Profesor Kehormatan Ilmu Pertahanan Bidang Kepemimpinan Strategik pada Fakultas Strategi Pertahanan. Acara pengukuhan gelar Prof. Dr. H.C. Megawati Soekarnoputri digelar melalui sidang senat terbuka Universitas Pertahanan di Aula Merah Putih Unhan Sentul, Bogor, Jumat (11/6) secara fisik dan virtual.

Terkait riset, dalam orasi ilmiahnya, Presiden Megawati Soekarnoputri mengatakan riset dan teknologi di Indonesia harus berbasis Pancasila agar bisa mandiri dan berdikari. Presiden Megawati Soekarnoputri menyebutkan menempatkan Ideologi Pancasila sebagai tonggak eksistensi seluruh strategic policy dari BRIN menjadi langkah yang tepat. Presiden Megawati menungkapkan keputusan Presiden Joko Widodo (Jokowi) membentuk Badan Riset dan Inovasi Nasional merupakan salah satu wujud dari langkah pemimpin strategik.

“Keputusan Presiden Jokowi mengintegrasikan seluruh lembaga pengembangan dan riset ke dalam BRIN adalah tepat. Dengan keberadaan BRIN maka research based policy harus dikedepankan, dengan guidelines Pancasila. BRIN diharapkan mempercepat jalan berdiri di atas kaki sendiri atau berdikari di bidang ekonomi. Karena tanpa berdikari, sulit bagi negara besar seperti Indonesia untuk berdaulat di bidang politik,” terangnya.

Rektor Unhan Laksamana Madya TNI Amarulla Octavian menerangkan bahwa sidang senat akademik Unhan telah menerima hasil penilaian Dewan Guru Besar Unhan atas seluruh karya ilmiah Presiden Megawati Soekarnoputri sebagai syarat pengukuhan menjadi Profesor Kehormatan Ilmu Pertahanan bidang Kepemimpinan Strategik pada Fakultas Strategi Pertahanan. Unhan telah mencatat keberhasilan Presiden Megawati Soekarnoputri saat di pemerintahan dalam menuntaskan konflik sosial seperti penyelesaian konflik Ambon, penyelesaian konflik Poso, pemulihan pariwisata pasca bom Bali, dan penanganan permasalahan TKI di Malaysia.

“Selain telah berhasil menyelesaikan berbagai konflik sosial di Indonesia pada saat itu, Ibu Megawati sebagai presiden perempuan pertama di Indonesia juga berhasil menyelenggarakan pemilihan umum legislatif dan pemilihan presiden secara langsung untuk pertama kalinya,” ujar Amarulla.

Presiden Megawati Soekarnoputri memasuki Aula Merah Putih Unhan didampingi Menteri Pertahanan Prabowo Subianto. Tampak pula sejumlah menteri jajaran Kabinet Indonesia Maju hadir di lokasi, antara lain Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Nadiem Makarim, Menteri Sosial Tri Rismaharini, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Tjahjo Kumolo, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Menteri ESDM Arifin Tasrif, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono, serta Sekretaris Kabinet Pramono Anung.

Selain pejabat eksekutif hadir pula pimpinan legislatif Ketua DPR RI Puan Maharani, Ketua MPR RI Bambang Soesatyo, Wakil Ketua MPR Ahmad Basarah, hingga Ketua Komisi I DPR Meutya Hafid. Hadir pula jajaran petinggi militer, antara lain KSAD Jenderal Andika Perkasa, KSAU Marsekal Fadjar Prasetyo, dan KSAL Laksamana Yudo Margono.

Di jajaran kepala daerah hadir Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dan Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey. Terlihat pula Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Budi Gunawan, hingga mantan Kepala BIN A.M Hendropriyono turut menyaksikan pengukuhan ini.


Biro Kerja Sama dan Komunikasi Publik
Badan Riset dan Inovasi Nasional