Copernicus adalah salah satu bagian dari Program Antariksa Eropa (The European Space Programme). Data Copernicus terbuka dan gratis terdiri dari 6 layanan data pengamatan Bumi, yaitu perubahan iklim, monitoring maritim, monitoring lapisan atmosfer, monitoring lahan, keamanan, dan mitigasi keadaan darurat. Layanan tersebut dapat tercapai dengan didukung oleh 6 seri satelit Sentinel yang mengorbit Bumi. Demikian Astrid-Christina Koch, pakar senior dari Direktorat Jenderal Industri Pertahanan dan Antariksa Uni Eropa (DG DEFIS) memaparkannya dalam Joint Workshop on Copernicus secara virtual, Rabu (16/03).

Pada sesi diskusi panel, Rahmat Arief, Plt. Kepala Pusat Riset Penginderaan Jauh – BRIN menjelaskan bahwa penggunaan data Copernicus telah diterapkan pada berbagai aplikasi oleh institusi pemerintah maupun akademik. “Hasil riset dari data Copernicus menjadi dasar bagi pemerintah pusat dan daerah dalam menentukan kebijakannya meliputi monitoring luasan area sawah Kementerian Pertanian, pemantauan luasan hutan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), penegakan hukum dalam kasus tumpahan minyak kapal tanker oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), dan mitigasi bencana banjir dan perlindungan pantai di pantai utara Pulau Jawa dalam proyek Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (KemenPUPR) bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB),” paparnya.

Rory Donnelly, Ahli Penginderaan Jauh, EU-Indonesia Partnership and Cooperation Agreement (PCA) Facility menjelaskan, di masa depan potensial penggunaan layanan data pengamatan Bumi di Indonesia semakin meningkat. Untuk itu perlu meningkatkan eksploitasi teknologi Copernicus di Indonesia, keahlian tenaga lokal dan kemampuan infrastruktur dalam menerima layanan Copernicus, serta kesadaran akan teknologi Copernicus pada berbagai instansi pemerintah. “Kita bersama dapat meninjau apa saja yang dilakukan suatu institusi tersebut, mengidentifikasi penggunaan data penginderaan jauh yang selama ini telah digunakan, kemudian kita dapat membandingkan layanan yang ada dan potensial pada Copernicus yang sesuai dengan prioritas instansi tersebut,” ujarnya.

Sementara, Andreas Becker, Ketua Tim EU Global Action on Space mengatakan saat ini telah tersedia 5 jenis layanan terkait program luar angkasa Uni Eropa untuk pemangku kepentingan ruang angkasa di Indonesia. 5 hal tersebut adalah laporan pasar strategis, diplomasi luar angkasa, peluang bisnis, penyiapan & pemeliharaan platform luar angkasa Uni Eropa, dan kampanye komunikasi.

Bidang Pertanian, Kehutanan, dan Maritim

Rizatus Shofiyati dari Kementerian Pertanian menyebutkan beberapa tantangan yang akan dihadapi dalam pengembangan pertanian di masa depan. Di antaranya, keberlangsungan data citra satelit yang masih mengandalkan negara lain, model dan akurasi analisis data penginderaan jauh dalam pertanian masih diragukan, dan sudah tentu adalah mahalnya biaya investasi. Lebih lanjut ia mengatakan , teknologi inovasi berbasis data penginderaan jauh yang harus dikembangkan adalah di mana kita dapat mengetahui kondisi tanah lahan pertanian, pengelolaan irigasi menggunakan citra satelit, peringatan dini sistem pangan, dan mengidentifikasi potensi lahan rawa sebagai pemasok pangan.

Belinda Arunarwati Margono dari KLHK menyatakan, penginderaan jauh adalah salah satu alat bantu dalam memberikan informasi yang baik, namun bukan berarti tidak memiliki keterbatasan, di antaranya adalah kesinambungan data di mana harus mengikuti periode orbit satelit, masalah cakupan area, tehnik dan metode pengambilan data yang bergantung dengan harga perangkat lunak, perbedaan perbandingan hasil citra, dan biaya operasional yang tinggi untuk data resolusi tinggi.

“Beberapa tantangan yang dihadapi dalam bidang monitoring hutan dan lingkungan adalah perlu adanya data penginderaan jauh yang dapat mendeteksi perbedaan dari kondisi kesehatan vegetasi dan jenis spesies,” tegasnya.

Niken Gusmawati dari KKP memaparkan manfaat data penginderaan jauh selama ini dalam bidang maritim. “Penginderaan jauh memainkan peran yang sangat penting dalam pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan untuk mendukung Blue Economy,” imbuhnya. “Hal ini akan memberikan kesempatan untuk memetik manfaat ekonomi dan membantu Indonesia yang memiliki wilayah perairan yang luas untuk menggunakan sumber daya laut secara berkelanjutan untuk pertumbuhan ekonomi, peningkatan mata pencaharian, dan menjaga kesehatan ekosistem lautnya,” tambahnya.

Bidang Penanggulangan Bencana, Iklim, Atmosfer, dan Ekosistem

Bencana alam adalah kejadian yang berulang. Untuk itu, Udrech, Direktur Pemetaan dan Evaluasi Risiko Bencana BNPB mengatakan, data historis sangatlah penting untuk mengamati perubahan spasial/ penggunaan lahan dari waktu ke waktu. “Bencana alam dapat disebabkan akibat perubahan lingkungan. Kebijakan satu data dan satu peta memudahkan ketersediaan data tidak hanya untuk mitigasi dan penanggulangan bencana tetapi juga aktifitas lainnya,” terangnya.

Edvin Aldrian menambahkan, mayoritas bencana alam yang terjadi di Indonesia adalah banjir dan kekeringan, diikuti oleh kebakaran hutan dan lahan, tanah longsor, dan polusi udara. “Dengan menggunakan multi data satelit dan radar kita dapat menganalisa dan menyajikan berbagai informasi seperti dalam Satellite Disaster Early Warning System (SADEWA) yang menggunakan data satelit Himawari-8 menyajikan informasi informasi mitigasi bencana,” ungkap peneliti dari Organisasi Riset Kebumian dan Maritim BRIN itu.

Sebagai informasi, selain SADEWA, peran data satelit dan radar juga disajikan dalam sistem informasi hasil litbang BRIN lainnya yaitu Sistem Embaran Maritim (SEMAR), Sistem Informasi Komposisi Atmosfer Indonesia (SRIKANDI), Sistem Informasi Perubahan Iklim (SRIRAMA), dan yang terbaru adalah Kajian Awal Musim Wilayah Indonesia Jangka Madya (KAMAJAYA). Edvin berharap bahwa Indonesia juga fokus mengembangkan satelit nasional sendiri yang menjadi bagian penting dalam penyediaan data penginderaan jauh.

Melengkapi penjelasan di atas, Ella Meilianda dari Pusat Penelitian Tsunami dan Mitigasi Bencana Universitas Syiah Kuala Aceh mengatakan, data penginderaan jauh adalah sesuatu yang esensial dalam menyelidiki penilaian risiko banjir skala daerah aliran sungai. “Data tersebut memberikan parameterisasi penilaian bahaya banjir mulai dari analisis data hidrologi, data historis curah hujan, data penggunaan lahan, jenis tipe tanah, aliran sungai,” urainya.

Lebih lanjut ia mengungkapkan, data satelit membantu menemukan potensi risiko secara tepat waktu. Melalui pemantauan menggunakan data satelit multispatio-temporal, proses pengambilan keputusan dan strategi untuk mengurangi risiko banjir menjadi lebih baik. (ra/ ed: drs)

Sebarkan