Bali-Humas BRIN. Dinas Kebudayaan Kabupaten Klungkung menyambangi Kantor Arkeologi – BRIN Bali pada Rabu (9/2). Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klungkung melakukan diskusi terkait ODCB (Objek Diduga Cagar Budaya) dan cagar budaya dengan beberapa Peneliti dari Kantor Arkeologi Bali. Melalui I Nyoman Sarjana, Kepala Bidang Pemerintahan dan Pembangunan Manusia dan jajarannya, Pemkab Klungkung menyampaikan keinginan untuk menyelamatkan situs-situs bersejarah, bekerjasama dengan peneliti Arekologi BRIN.

Kepala Kantor Arkeologi Bali, Ida Bagus Prajna Yogi, mengucapkan apresiasinya kepada Pemerintah Daerah Klungkung atas kepeduliannya terhadap situs-situs cagar budaya seperti Kertagosa dan Goa Jepang. “Secara tugas dan fungsi, kami menangani 51 kabupaten yang ada di Bali, NTB dan NTT,” lanjut Yogi

“Tahapan awal kewajiban dari dinas adalah membuat tim pendataan dan registrasi cagar budaya. Tim pendataan dan registrasi harus bisa mengkategorikan ODCB. Kategori yang disebut cagar budaya yaitu bangunan, benda, struktur, situs, dan Kawasan,” sebutnya.

Yogi menambahkan “ODCB yang ingin diubah menjadi cagar budaya harus dilengkapi berkasnya seperti pada acuan form registrasi nasional. Jika ingin disidangkan harus ditambah dengan berkas legalitas. Seperti berkas kepemilikan, pemegang hak, dan bebas konflik.”

Selain itu, Yogi menuturkan bahwa Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) kemudian akan mengecek secara keseluruhan. “Jika TACB tidak yakin dengan data yang ada, maka TACB berhak untuk melakukan verifikasi di lapangan. TACB hanya merekomendasikan penetapan. Penetapan CB tergantung dari pemerintah kota / kabupaten, provinsi, dan nasional. TACB tidak hanya berasal dari ASN tetapi dapat dari kalangan masyarakat yang dapat menilai ODCB,” terangnya.

Yogi juga mengatakan, Kantor Arkeologi BRIN memiliki tanggung jawab pendataan dan registrasi. Ia menjelaskan, setiap peneliti memiliki kepakarannya masing-masing. “Untuk itu, pada proses pendataan dan registrasi akan lebih baik jika melibatkan peneliti yang memahami lokasi yang akan dilakukan pendataan dan registrasi,” sarannya.

“Jika untuk konteks pendataan awal seperti nilai historikal dari sebuah ODCB, Peneliti dari Arkeologi siap membantu. Jika memungkinkan untuk melakukan riset lebih lanjut, maka Peneliti Arekologi BRIN siap untuk melakukan sinergi riset,” ujar Yogi.

Menurut Peneliti bidang Arkeologi BRIN, Wayan Sumerata, register dan pendataan awal merupakan ujung tombak dari ODCB. Ia juga mengatakan bahwa Pemerintah Kabupaten Klungkung diharapkan dapat menentukan urgensi atau prioritas dari ODCB dan cagar budaya. “Sebagian besar objek pariwisata yang merupakan peninggalan budaya telah dikomersialisasikan oleh pelaku industri pariwsata,” imbuh Sumerata.

Peneliti Arkeologi BRIN lainnya, Gendro Keling mengatakan, Kabupaten Klungkung merupakan kabupaten yang memiliki potensi kebudayaan yang sangat baik. “Potensi kebudayaan yang dimiliki oleh Klungkung mulai dari masa pra-sejarah hingga masa kolonial. Klungkung juga menyimpan situs pra-sejarah yang di Indonesia kondisinya hanya bisa ditemukan di Klungkung,” ujarnya.

Pada situs tersebut, ungkap Gendro, ditemukan artefak dan barang-barang peninggalan pra sejarah. “Pada masa klasik Bali kuno, di Kabupaten Klungkung memiliki banyak peninggalan arkeologi. Selain itu, Klungkung juga menjadi salah satu pusat dari komunitas Islam tertua yang ada di Bali,” jelasnya. “Kami siap untuk membantu pihak Pemkab Klungkung dalam proses pendataan dan penetapan cagar budaya,” serunya.

“Sebagai contoh, terdapat peniggalan arkeologi di Puri Nyalian dan Bakas. Peninggalan arkeologi tersebut berada di tengah sawah. Peninggalan dengan kondisi seperti ini sangat jarang ditemukan,” pungkas Gendro (igp,yul/ ed:drs)

Sebarkan