Jakarta – Humas BRIN. Pendanaan Ekspedisi dan Eksplorasi (PEE) Tahun 2022 – 2024 menjadi salah satu skema pendanaan BRIN yang telah dibuka dan inklusif bagi semua periset. Dari 228 proposal yang masuk pada gelombang 1, setelah dilakukan seleksi substansi dan RAB telah ditetapkan 45 proposal yang direkomendasikan untuk didanai pada Selasa, 22/3. Selanjutnya akan dilakukan penetapan penerima termasuk SK dan biaya yang disetujui untuk kegiatan eksplorasi dan ekspedisi ini.

Skema PEE sendiri bertujuan agar terlaksananya kegiatan pengambilan data dan atau koleksi spesimen di lapangan yang dibutuhkan bagi kegiatan riset yang sedang berjalan berbasis kompetitif dan kompetensi. Peluang tersebut tentunya akan menjadi dukungan bagi optimalisasi kegiatan ekspedisi dan/atau eksplorasi riset terkait keanekaragaman sumber daya alam, sosial budaya, arkeologi, dsb.

Kepala BRIN, Laksana Tri Handoko menyebutkan pihaknya patut berbahagia karena baru kali ini ada pendanaan terkait ekspedisi dan eksplorasi di Indonesia. Padahal, negara kita adalah mega biodiversirty country tidak hanya yang ada di darat tapi juga di laut. “Jadi PEE ini dapat melengkapi pendanaan terkait fasilitasi untuk ekspedisi memanfaatkan armada kapal riset yang ada di BRIN yang kita sebut sebagai Hari Layar. Ekspedisi dan eksplorasi ini tentu tidak hanya biodiversitas saja tapi juga terkait keanekaragaman kita yang lain termasuk geografis, seni budaya, dan lain-lain,” ujarnya pada Webinar Fasilitasi dan Pendanaan Riset & Inovasi (WALIDASI) Edisi Pendanaan Ekspedisi dan Eksplorasi (Gelombang 1).  

Pada kesempatan tersebut Handoko mengingatkan kepada para penerima PEE bahwa sesuai dengan Undang-Undang No. 11 Tahun 2019 tentang Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, pihaknya mewajibkan adanya wajib serah dan wajib simpan bagi data dan spesimen yang dikumpulkan oleh penerima PEE. “Meskipun kepemilikan  atau akses atas spesimen dan data tersebut sepenuhnya masih menjadi hak eksklusif dari Bapak dan Ibu. Kita harapkan data yang diperoleh Bapak dan Ibu akan menjadi aset nasional, yang kelak mungkin 10, 20, 30, bahkan 100 tahun lagi akan bisa diakses, dan menjadi bagian dari koleksi kekayaan nasional,” imbuhnya.

Handoko juga menekankan BRIN meminta para penerima pendanaan dapat semaksimal mungkin melibatkan komunitas lokal. Karena hal ini akan membuka kesempatan dan peluang untuk belajar, memunculkan kontribusi positif, dan mengedukasi teman-teman di lokasi yang terdekat dengan tempat penelitian, terutama mahasiswa dan masyarakat umum, serta para dosen atau periset lainnya.

Sementara itu, Plt. Deputi Bidang Fasilitasi Riset dan Inovasi BRIN, Agus Haryono mengatakan pihaknya akan terus mendorong para periset untuk dapat bergabung mengajukan proposal PEE. “Target kami sekitar 300 pembiayaan yang akan dijalankan di tahun ini. Para periset juga boleh mengusulkan ajuan ekspedisi dan eksplorasi tidak hanya tahun ini, tapi juga untuk tahun 2023 dan 2024,” ujar Agus.

Lebih lanjut Agus menjelaskan penggunaan skema PEE ini  dibatasi hanya untuk lingkup perjalanan dinas, biaya sewa, honor tenaga lapangan dan jasa pengiriman. Dan terdapat ketentuan-ketentuannya yang mengacu pada Standar Biaya Masukan (SBM) dan Standar Biaya Pelaksanaan Anggaran BRIN (sesuai dengan persetujuan dari pengelola anggaran di BRIN). Penerimaan proposal PEE sendiri akan dilakukan sepanjang tahun. Untuk batch ke-2, seleksi administrasi akan dilakukan pada tanggal 8 April, seleksi substansi dimulai 15 April dan pengumuman pada bulan Mei. Diharapkan di batch ke 2 dan selanjutnya akan semakin banyak lagi proposal yang masuk dan berhasil lolos untuk didanai. 

Ragam Kegiatan Ekspedisi dan Eksplorasi

Salah satu kandidat penerima PEE tahun ini adalah proposal yang diajukan oleh Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Mikrobiologi Terapan, Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan BRIN, Khairul Anam dan tim yang berjudul “A Model Marine Microbial Grazer For Reducing Overexposure Antibiotic In Aquaculture Industrial Systems”.

“Melalui pendanaan ini kami dapat melakukan ekspedisi dalam rangka eksplorasi terhadap mikroba yang menguntungkan yang dapat berperan sebagai probiotik di lingkungan budidaya perairan atau akuakultur,” ujar Khairul.

Dijelaskan Khairul, latar belakang kegiatan ini sendiri karena adanya kekhawatiran terhadap resiko terhadap tingkat kematian Anti Microbial Resistence (AMR) yang setiap tahunnya memakan sekitar 4,5 korban jiwa di Asia dan 4 juta jiwa di Afrika. “Jadi AMR ini merupakan penyakit yang nantinya mungkin akan dominan dibandingkan dengan kanker dan lainnya karena tingkat resistensinya dari tahun ke tahun yang semakin terakumulasi. Untuk penyebaran resisten antibiotik ini dikarenakan penggunaan antibiotik yang mirip yang dipakai manusia, hewan peliharaan dan juga peternakan ikan,” terangnya.

Sementara itu, kegiatan ekspedisi dan eksplorasi juga penting dilakukan pada aspek teknologi lain seperti pada Daur Bahan Bakar Nuklir. Mulai dari proses penambangan, pembangunan reaktor nuklir sampai pengelolaan limbah radioaktifnya. Plt. Kepala Pusat Riset Teknologi Daur Bahan Bakar Nuklir dan Limbah Radioaktif BRIN, Syaiful Bakhri menyebutkan eksplorasi dan ekspedisi penting untuk menemukan uranium dan thorium guna memenuhi kebutuhan domestik, mencari dan menemukan hingga memproduksi uranium untuk pasar dunia,dan sebagai bagian dari program evaluasi sumber daya alam negara.

Syaiful menambahkan data terintegrasi terkait eksplorasi dan ekspedisi juga penting karena harus memberikan informasi yang efektif dan komprehensif sebagai investasi akumulatif pengetahuan yang terus meningkat nilainya. Informasi yang akurat, up to date dan komprehensif penting sebagai syarat pengambilan keputusan, peningkatan keselamatan dan modal bagi perijinan.

Terkait hal ini, media massa juga berperan penting dalam mempublikasikan informasi seputar kegiatan ekspedisi riset di lapangan dan diseminasi hasil-hasil penelitian. Jurnalis Harian Kompas, Evy Rachmawati menyebutkan peran media perlu dioptimalkan dalam mendukung kegiatan ekspedisi dan eksplorasi sumber daya alam. Peliputan ekspedisi ke lokasi riset dibutuhkan untuk menghasilkan karya jurnalistik yang menarik bagi audiens melalui tulisan, foto, infografik, dan video. (ns, aps)

Sebarkan