Cibinong-Humas BRIN. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkenalkan program bagi start up di Indonesia dengan skema baru yaitu Pendanaan Perusahaan Pemula Berbasis Riset (PPBR). Program ini merupakan satu dari tujuh skema pendanaan riset dan inovasi yang dibuka oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sejak tahun 2021. Pengumuman kandidat penerima pendanaan dan sosialisasi tentang program ini berlangsung secara virtual pada acara WALIDASI (Webinar Fasilitasi dan Pendanaan Riset dan Inovasi) edisi Start Up BRIN pada Kamis (17/02).

Salah satunya proposal dari start up yang lolos seleksi berjudul “Partner Pengujian, Penelitian, dan Pengembangan Laboratorium Mikrobiologi di Indonesia”. Proposal tersebut diajukan oleh mitra Pusat Riset Biologi Molekuler Eijkman BRIN, PT. PIPETIN Indonesia, yang merupakan sebuah usaha rintisan bergerak di bidang mikrobiologi kedokteran.

Ageng Wiyatno dari PT. PIPETIN Indonesia menyampaikan bahwa di Indonesia sudah terjadi perubahan alam dan eksploitasi alam oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan manusia itu sendiri. Menurutnya, kondisi ini meningkatkan interaksi antara hewan dan manusia. “Ini merupakan faktor-faktor yang bisa menimbulkan kemunculan virus yang menular dari hewan ke manusia (zoonosis) dan inactive tropis terabaikan. Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan hotspot bagi kemunculan virus zoonosis,” paparnya.

Di samping ancaman virus, ada ancaman lainnya yaitu resistensi anti mikroba. Ada sebuah penelitian tahun 2016 memperkirakan 10 juta orang akan meninggal setiap  tahun 2050, namun analisis pada data tahun 2019 menunjukkan bahwa resistensi anti mikroba sudah menjadi penyebah kematian utama secara global dan lebih tinggi dari HIV dan penyakit malaria. “Di Asia Tenggara sudah lebih dari 97.000 orang yang meninggal sebagai akibat langsung anti mikroba pada tahun 2019. Apakah Indonesia sudah siap untuk menghadapi tantangan tersebut? Berdasarkan penelitian ini ancaman yang diperkirakan 2050 akan menjadi lebih cepat,” ungkap Ageng.

Ia mengatakan, sudah banyak laboratorium yang tersebar di seluruh Indonesia yang dapat mengatasi patogen penyebab penyakit. Menurutnya, laboratorium tersebut masih terbatas untuk melakukan analisis terhadap patogen yang umum. Namun, ia menambahkan, laboratorium tersebut belum mampu mengkultur organisme patogen dan organisme yang eksotik.

Lebih lanjut Ageng menjelaskan, salah satu lembaga yang memiliki kemampuan analisis patogen yaitu Pusat Riset Biologi Molekuler Eijkman. “Kami berinisiatif membangun sebuah perusahaan rintisan yang bergerak di bidang mikrobiologi kedokteran yang diprakarsai oleh peneliti penyakit infeksi dari Eijkman yang memiliki visi untuk memperkuat kapasitas penelitian dan memeriksa mikrobiologi kedokteran di Indonesia,” terangnya.

Dirinya menambahkan bahwa PT. PIPETIN Indonesia memberikan tiga pilar layanan yaitu konsultasi, bimbingan, dan pelatihan. Jenis layanan yang disediakan terdiri dari teknik analisis laboratorium, pendampingan penelitian klinis dan biomedis, penilaian risiko laboratorium, desain dan pengembangan laboratorium, keamanan dan keselamatan hayati (biosafety-biosecurity training), dan dual use research concern dan bioterorisme.

Layanan lainnya, pengujian dan kerjasama penelitian yaitu pemeriksaan dan karakteristik mikroba patogen, pengujian resistensi antimikroba, serotyping dan multi locus sequence typing bakteri, pengujian bertarget, dan metagenomic Next Generation Sequencing (NGS), serta kerjasama penelitian. PT. PIPETIN juga menyediakan produk-produk bioteknologi dan peralatan pendukung laboratorium.

Tantangan dalam menjalankan perusahaan rintisan ini, Ageng mengakui sulit mencari sumber bahan baku dan fasilitas dalam pengembangan produk. Ia berharap BRIN tetap mendukungnya melalui Pusat Riset Biologi Molekuler Eijkman. “BRIN dapat menyediakan landasan bagi PT. PIPETIN untuk aktif berkolaborasi dan berkompetisi dalam memperkuat kemampuan Indonesia di bidang mikrobiologi kedokteran,” pungkas Ageng. (yl ed sl)

Sebarkan