Jakarta – Humas BRIN, Peningkatan pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi arah utama dalam mengembangkan SDM Iptek di dalam negeri. Untuk mendukung peningkatan kemampuan peneliti dan perekayasa ini, menurut Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas Anggaran yang diperlukan dari tahun 2020-2024 sebesar Rp. 3 triliun.

Wardiman Djojonegoro Ketua Pengurus Yayasan SDM IPTEK menuturkan penentuan arah ini penting dalam pengembangan SDM IPTEK di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). “Ribuan peneliti dan perekayasa dengan berbagai kepakaran harus diarahkan memajukan perekonomian,” tutur Wardiman dalam Diskusi Pembahasan dan Review Kesesuaian Pre-Phase Over RISET PRO, di The Opus Grand Ballroom, Jakarta, Senin, (29/11).

Keilmuan yang dimiliki mereka akan berdampak pada pendapatan masyarakat, dalam hal ini Wardiman memasukkannya ke dalam science for society. “Jadi bagaimana ilmu yang dimiliki itu tidak hanya berdampak pada pendidikan tetapi juga dapat meningkatkan pendapatan masyarakat,” jelas Wardiman.

Selain itu, keahlian mereka juga berdampak pada pengembangan ekonomi atau Science for  Development Economic. SDM IPTEK ini diharapkan dapat menciptakan inovasi di bidang technopreneur atau usaha berbasis teknologi.

Wardiman menekankan, Science for Development Industry. “Ilmu pengetahuan juga dapat berperan dalam memajukan industri yang memberikan nilai tambah, sehingga tidak hanya mengekspor barang mentah saja,” kata Wardiman.

 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1993 sampai 1998 Kabinet mengapresiasi adanya pengelolaan SDM IPTEK yang dikelola BRIN.”Saya sudah mengusulkan adanya pengelolaan talenta IPTEK sejak 1993 dan baru terwujud 28 tahun kemudian,” aku Wardiman.

Peningkatan mutu SDM Iptek perlu dilakukan karena berdasarkan data Global Innovation Index 2021, peringkat Indonesia di posisi ke 87 dengan nilai 27.10. Peringkat Indonesia jauh berada di bawah Singapura yang menempati urutan ke 8 dengan memperoleh poin  57.80

Untuk membiayai peningkatan kualitas peneliti dan perekayasa selama 2020-2024 Kementerian Bappenas menghitung anggaran yang diperlukan sebesar Rp. 3 triliun. Uang itu digunakan membayar sejumlah kegiatan diantaranya pembangunan infrastruktur Iptek strategis, remunerasi kompetitif, perbaikan regulasi tata kelola riset dan inovasi.

Bappenas juga memberikan dukungan berupa pemberian hibah riset bertajuk Prioritas Talenta Berdaya Saing Global. “ Peneliti yang ingin mendapat hibah ini akan diseleksi untuk mendapatkan talenta rill,” ucap Kalihputro Fachriansyah Koordinator Penyusunan Grand Design Manajemen Talenta Nasional (MTN) Bidang Riset dan Inovasi Direktorat Pendidikan Tinggi dan Iptek Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas.

Edy Giri Rachman Putra Plt. Deputi Bidang Sumber Daya Manusia Ilmu Pengetahuan dan Teknologi BRIN menyampaikan dalam pembinaan MTN di bidang riset dan inovasi tidak dapat bekerja sendiri. “Manajemen talenta  ini kita tidak sendirian kita memerlukan dukungan infrastruktur, acara hari ini penting sekali untuk mendapatkan masukan untuk kami,” ucap Edy.

Bappenas mendata tahun 2020 SDM Iptek yang dimiliki Indonesia sebanyak 307.367, dari jumlah itu 14,56 persennya berpendidikan S3. Persebaran SDM Iptek itu paling banyak berprofesi sebagai dosen di universitas sebanyak 253.205.

Sebarkan