Jakarta – Humas BRIN. Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Laksana Tri Handoko mengatakan, teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) berbasis Molten Salt Reactor (MSR), merupakan salah satu teknologi yang menjanjikan dari sisi keamanan dan efisiensi keekonomian. Kendati teknologi ini merupakan teknologi baru dan belum diimplementasikan, hal ini menjadi kesempatan bagi periset Indonesia untuk mengembangkan teknologi MSR untuk PLTN masa depan.

“Sehingga diharapkan Indonesia nanti tidak hanya menjadi pemakai PLTN, tetapi juga turut berperan aktif dan mampu mengembangkan teknologinya,” ucap Handoko, saat menerima kunjungan kehormatan dari PT. ThorCon, di Kantor BRIN, Thamrin, Jakarta Senin (20/06).

Pada Februari 2022 lalu, BRIN dan PT. ThorCon Power Indonesia telah melakukan penandatanganan nota kesepahaman untuk riset, pengembangan, dan inovasi teknologi MSR. Riset dan pengembangan ini diharapkan dapat menghasilkan prototipe sebagai kandidat teknologi PLTN di masa depan.

“PLTN eksperimental (prototipe PLTN) diharapkan bisa berfungsi dan bisa menjadi testbed yang bisa membuktikan keandalan teknologi MSR ini, sebelum masuk ke PLTN komersial tentunya,” kata Handoko.

Pemerintah mematok target netralitas karbon pada tahun 2060. PLTN, sebut Handoko, dinilai menjadi salah satu pilihan energi berkelanjutan dan ramah lingkungan untuk dapat mencapai target tersebut. Karena itu, BRIN membuka kolaborasi untuk mengembangkan teknologi generasi baru, salah satunya berbasis MSR.

“Dari sisi teknologi, kalau itu PLTN komersial, memang merupakan teknologi yang proven. Tapi dari sisi riset, kita harus menyiapkan periset Indonesia untuk punya kesempatan mengembangkan teknologi PLTN generasi baru, tentu harus bersama-sama dengan mitra dari berbagai negara lain, seperti ThorCon, karena riset ini tidak mungkin kita lakukan sendiri,” tambahnya.

Bicara soal PLTN, lanjut Handoko, tidak hanya dari sisi teknologi dan manufaktur, melainkan juga pengembangan kapasitas SDM. “BRIN telah menyiapkan skema khusus untuk SDM nuklir, saya pikir ini sejalan dengan desain teknologi yang ditawarkan ThorCon,” tutur Handoko.

Setelah pertemuan ini, Handoko meminta agar tim ThorCon dan BRIN dapat membahas lebih detail terkait aspek teknis, finansial, data, dan juga calon tapak prototipe PLTN.

CEO ThorCon International, David Devanney, dalam kesempatan pertemuan ini melalui Zoom Meeting, mengapresiasi atas terlaksananya kesepakatan kerja sama antara BRIN dan ThorChon. Ia berharap, pemerintah Indonesia dapat memberikan keputusan dalam pengembangan PLTN, khususnya teknologi MSR sebagai prioritas nasional.

“Kedepan, BRIN mungkin juga bisa membantu kami dalam negosiasi dengan pihak-pihak terkait, misalnya PLN, dalam transisi prototipe menjadi PLTN komersial, seperti penyiapan peraturan yang diperlukan, harga listrik, dsb, agar dapat terorgansir dengan baik,” kata David (tnt).

Sebarkan