Cibinong – Humas BRIN. Kepala Pusat Riset Obat dan Vaksin, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Masteria Yunovilsa Putra, menyatakan, pengembangan penemuan obat membutuhkan waktu dan biaya besar. Pengujian berbasis sel, sebut Masteria, biasanya digunakan untuk tes sitotoksisitas, menentukan aktivitas biologis (potensi) produk obat dan zat obat, dan mempelajari mekanisme aksi (MOA).

Pengujian ini juga sebagai bukti tahap awal dari studi utama, dan studi imunogenisitas, untuk menentukan apakah antibodi yang diproduksi oleh pasien menetralkan produk obat.

“Penemuan obat bisa memakan waktu 7 hingga 10 tahun, bahkan mencapai 20 tahun, tergantung tingkat kesulitan dari penyakit. Biaya tahap pre-klinis hingga klinis pun sangat fantastis, dapat mencapai 802 juta dolar,” ungkap Masteria, pada Scientific Talks Webinar, bertajuk Bioprocessing Workflow, Part 1, secara daring, Senin (23/05).

Panjangnya tahap penemuan obat ini untuk memastikan obat yang digunakan efektif, tidak berakibat fatal, serta tidak menimbulkan efek samping.

Saat ini terknologi terbaru dalam penelitian sel induk, beber Masteria, telah merevolusi proses penemuan obat. Sel punca kanker secara genetik muncul dari transformasi onkogenik, baik sel punca maupun sel progenitor, dapat diisolasi dari tumor, dan digunakan sebagai platform yang efektif untuk skrining obat kanker.

Sel punca embrionik (ESC) dan sel punca pluripoten terinduksi (iPSC), dapat menyediakan sumber sel manusia normal yang tidak terbatas, yang dapat digunakan untuk skrining obat dan studi toksikologi.

Masteria juga menerangkan, saat ini terdapat beragam desain pengujian berbasis sel untuk skrining kandidat obat dengan konten tinggi, diantaranya Imunohistokimia (IHC), Interferensi RNA (RNAi), Cell-Based Fluorescence Reporter Gene Assays, Sistem CRISPR-Cas9, dan Interaksi protein-protein (PPI).

Ia menambahkan, analisis sel hidup dapat digunakan untuk mengukur perilaku seluler secara kuantitatif, termasuk untuk memahami pengaruh syarat lingkungan.

“Sistem analisis sel hidup yang canggih dapat memberikan wawasan yang diperlukan dan unik ke dalam proses kehidupan yang dinamis,” tuturnya.

Doktor lulusan Universitas Marche Polytechic ini menerangkan, uji in vitro menjadi proses yang tak kalah penting dalam penemuan dan pengembangan obat.

“Tahapan ini merupakan skrining awal, untuk menyeleksi senyawa yang menjanjikan dari ribuan senyawa kimia, sehingga dapat menghemat biaya. Saat ini terdapat tiga tipe uji bio in vitro, yaitu uji mengikat, uji enzim aktif dan uji sel dasar,” imbuhnya.

Keahlian dalam teknik pemipetan, terang Masteria, juga sangat dibutuhkan di laboratorium. “Saya sendiri membutuhkan waktu sebulan sampai mahir menggunakan pipet. Akurasi dalam pemipetan sel dan seeding menjadi tahapan yang krusial, termasuk kalibrasi pipet, perlakuan pipet pasca digunakan dan pengaturan suhu. Semuanya harus terukur secara akurat, teliti, hati-hati, dan bersih,” ungkap Masteria.

Dokumentasi dalam penggunaan data fenotipikal dan biokimia pun menjadi poin penting. Data-data ini dapat digunakan untuk mengungkapkan pengetahuan yang sebelumnya tidak diketahui tentang sistem obat atau penyakit.

Gambar sel dapat memberikan informasi yang tidak dapat diberikan oleh bilangan mentah. Gambar sel yang terdokumentasi selama pengujian dapat membantu mengidentifikasi dan menjelaskan potensi masalah yang mungkin muncul.

Scientific Talks Webinar merupakan hasil kolaborasi antara BRIN dengan PT Biosains Medika Indonesia (Biosm). Webinar ini nantinya akan terbagi dalam 4 seri yang akan tayang setiap hari Senin. Webinar kali ini merupakan seri pertama.

“Saya berharap webinar ini menjadi inspirasi untuk mendapatkan ide dalam bidang obat dalam upaya penanganan dan pencegahan penyakit di Indonesia. Semoga kegiatan ini terus berlanjut dan menjadi bermanfaat,” ujar Kepala Organisasi Riset Kesehatan BRIN, Ni Luh Putu Indi Dharmayanti.

Sebagai informasi, turut memberi sambutan adalah Rifani selaku Director of PT Biosm. Selain itu, webinar menghadirkan 2 pembicara, yakni Sharon Du dari Genscript, dan Minho Tak dari Molecular Devices. (sa/ ed:sl, tnt)

Sebarkan