Subang, Humas BRIN. Dalam Isu pencegahan stunting perlu memahami dan melihat apa yang ada disekitar kita untu dapat dimanfaatkan, karena akan berdampak pada generasi mendatang. Hal tersebut disampaikann Plt. Deputi Bidang Pemanfaatan Riset dan Inovasi, Mego Pinandito dalam Webinar Nasional pada (21/10).

Webinar dengan tema Pengembangan Inovasi Pangan Lokal  Untuk Mendukung Program Percepatan Penurunan Stunting menekankan pemanfaatan potensi lokal sebagai upaya percepatan penurunan stunting. “Pemanfaatan potensi lokal harus diperhatikan agar tidak menimbulkan kerugian secara ekonomi dan kontek kerugian dalam keluarga,” ucapnya. 

Revitalisasi ketahanan pangan di dalam kegiatan di BRIN bersifat riset atau penelitian. “Kita ambil contoh misalnya untuk penambahan bahan tertentu dengan fortifikasi untuk penambahan nutrisi dan vitamin, bagaimana pengolahan pangan yang benar, penyediaan air bersih, pola hidup sehat, dan budaya makan,” jelasnya.

Mego menambahkan bahwa konsep asupan gizi harus bisa selaras dilakukan juga oleh UMKM. “Dalam konseptual asupan gizi, artinya adalah apa yang dimakan, cara memasak, yang dalam konteks UMKM adalah bagaimana cara memproduksi dengan harga bersaing, bahan tersedia, namun dapat menghasilkan  cita rasa yang terus dikembangkan, sesuai standar mutu pangan dan teknologi,” ungkapnya.

Dalam pengembangan inovasi pangan lokal dan kaitannya dengan peran UMKM, Mego mendorong agar berbagai pihak dapat berkolaborasi. “Pengembangan inovasi produk pangan lokal, yang tersedia disekitar dan banyak, namun harus diperhatikan keberlanjutannya, cara memproses dan peralatannya juga tidak boleh salah,” terangnya.  

“Secara mudahnya, Pemerintah Daerah atau UMKM dapat menghubungi PRTTG atau BRIN, untuk menmbuat satu program bersama, karena ada program untuk Desa Berinovasi dan UKM dengan kriteria tertentu untuk di support oleh BRIN, terutama dari sisi teknologi,” jelas Mego. Hal yang tidak kalah penting adalah bahwa semua dapat dilakukan berbasis pada sumber daya lokal.

Setelah mendapatkan optimasi proses produksi, yang meliputi blue print produksi, hasil uji produk, hasil uji pasar, kelayakan usaha, dan tekno ekonomi, dan apabila produk tersebut sudah ada patennya, maka dapat dilakukan lisensi. “Ini yang selalu saya dorong bahwa apabila produk tersebut sudah ada patennya, maka dapat dilakukan kerja sama lisensi untuk produksi,” ungkapnya.  

Mego menekankan bahwa banyak sekali bahan lokal yang bahan lokal baik dari darat dan laut yang perlu terus dikembangkan sebagai sumber pangan fungsional. “Kita juga harus terus melakukan pengelolaan dan pemanfaatan potensi unggulan daerah,” jelasnya.

Peran teknologi tepat guna dalam optimalisasi bahan lokal adalah untuk meningkatkan kualitas dan nilai tambah. “Misalnya adalah bahan baku atau bahan mentah dengan berbagai teknologi menjadi produk jadi, baik produk segar maupun produk olahan, sehingga memiliki nilai ekonomis yang lebih baik dan dapat diproduksi oleh UMKM,” ungkapnya.

Optimasi sumber daya lokal yang ada harus dilakukan dengan dukungan semua pihak untuk mempercepat penanganan stunting. UMKM yang akan melakukan pengembangan berupa workshop dapat bekerja sama dengan BRIN. “Saat ini kami memiliki program dukungan untuk UMKM, desa inovatif dan perusahaan pemula berbasis teknologi,” ucapnya. “Program ini diharapkan dapat dimanfaatkan UMKM dalam meningkatkan daya saing dan mendukung pemanfaatan IPTEK oleh UMKM,” pungkasnya. (ecp,rm/ed:rm)