Jakarta, Humas BRIN – Indonesia telah cukup lama berpartisipasi dalam banyak organisasi internasional terkait keantariksaan. Cukup banyak organisasi yang Indonesia ikuti baik dalam lingkup pemerintahan maupun non pemerintahan. Salah satu organisasi yang Indonesia ikuti adalah Committee on the Peaceful Uses of Outer Space atau UNCOPUOS.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Indonesia Space Agency (INASA) mewakili Indonesia sebagai delegasi dalam sidang Komite UNCOPUOS 2022 yang dilakukan secara daring pada 1-10 Juni 2022. Delegasi Indonesia turut serta menyampaikan pandangan dalam tujuh agenda pertemuan.

Indonesia telah menjadi anggota aktif ke-37 sejak tahun 1973 dari UNCOPUOS. Indonesia selalu berpartisipasi aktif dalam sidang-sidang dan berbagai kegiatan, dengan tujuan untuk mengikuti perkembangan kemajuan iptek antariksa global dan memanfaatkan peluang yang ada dari kegiatan UNCOPUOS bagi pembangunan keantariksaan di Indonesia.

Salah satu partisipasi aktif Indonesia adalah dengan turut serta meratifikasi traktat internasional keantariksaan dan juga secara aktif turut mendukung pemanfaatan ruang angkasa untuk digunakan secara bertanggung jawab untuk tujuan damai, kemaslahatan umat manusia semua bangsa, dan keberlanjutan jangka panjang luar angkasa.

Direktur Eksekutif INASA, Erna Sri Adiningsih, yang hadir sebagai delegasi Indonesia menjelaskan tatanan struktur baru dari INASA yang telah dibentuk dan diperkuat di dalam BRIN. BRIN melalui INASA akan bertanggung jawab terkait urusan internasional terkait keantariksaan.

“INASA akan bertanggung jawab terkait urusan internasional terkait keantariksaan. Termasuk sebagai focal point dari berbagai aktivitas Komite PBB dalam urusan pemanfaatan luar angkasa secara damai (UNCOPUOS). INASA juga dibentuk untuk memenuhi beberapa kewajiban internasional termasuk di dalamnya seperti melakukan registrasi untuk benda-benda luar angkasa miliki Indonesia,” jelas Erna.

Erna mengatakan bahwa Indonesia menyadari pentingnya kerja sama internasional dalam menjamin keselamatan, keamanan, keberlanjutan, dan stabilitas antariksa. Kerja sama internasional dalam pengembangan kegiatan keantariksaan terutama yang dimaksud dalam Deklarasi Kerja Sama Internasional dalam Eksplorasi dan Penggunaan Antariksa untuk Kepentingan Semua Negara, dengan mengkhususkan kebutuhan negara berkembang, adalah prinsip yang paling penting diperhatikan dalam mengatur kegiatan di Luar Angkasa.

“Indonesia memandang bahwa PBB harus terus berperan aktif dalam upaya peningkatan kerja sama terkait luar angkasa dalam menjembatani dan meningkatkan kerja sama negara-negara di bumi bagian Utara-Selatan,” lanjut Erna.

Erna menambahkan berkaitan dengan Definisi dan Delimitasi, Indonesia menekankan pentingnya memperjelas batas-batas ruang udara dan ruang angkasa untuk mencapai kepastian hukum pelaksanaan hukum antariksa dan hukum udara.

“Indonesia menegaskan kembali posisi kami di Orbit Geostasioner sebagai sumber daya alam yang terbatas dengan karakteristik khusus, yang harus dimanfaatkan secara rasional, seimbang, efisien, dan berkeadilan. Eksploitasi GSO tanpa memperhatikan prinsip-prinsip tersebut akan berisiko kejenuhan. GSO harus dianggap sebagai kawasan khusus dan bagian khusus luar angkasa yang memerlukan tata kelola teknis dan hukum tertentu. Oleh karena itu, kami berpandangan bahwa pemanfaatan GSO perlu diatur dengan aturan khusus.” terang Erna.

Dalam kesempatan tersebut, selain memaparkan pandangan Indonesia, Erna juga melaporkan aktivitas keantariksaan terbaru yang dilakukan Indonesia.

“BRIN melalui Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa merencanakan peluncuran satelit LAPAN A4 pada akhir tahun 2022. Satelit ini merupakan generasi keempat yang dibuat di Indonesia. Satelit ini memiliki misi pemantauan bumi dan lalu lintas maritim melalui system identifikasi otomatis, magnetometer, konfigurasi panel yang dapat dipasang dan antena batang yang dapat dilipat. BRIN juga tengah mengembangkan pengoperasian satelit penginderaan jauh dan bandar antariksa di ekuator,” lanjut Erna.

Erna menegaskan terkait pemerintah Indonesia sebagai anggota aktif UNCOPUOS menyampaikan bahwa ruang angkasa hanya digunakan secara bertanggung jawab untuk tujuan damai, kemaslahatan umat manusia semua bangsa, dan keberlanjutan jangka panjang luar angkasa. Transparansi dan pembangunan kepercayaan dapat berperan penting dalam mencegah perlombaan senjata di luar angkasa dan penempatan senjata dalam bentuk apa pun di luar angkasa, khususnya bagi negara kemampuan luar angkasa sudah lebih baik, untuk berkontribusi lebih aktif dalam menggunakan luar angkasa secara damai.

“Akses yang sama ke luar angkasa untuk semua negara tanpa diskriminasi, terlepas dari tingkat perkembangan ilmiah, teknis dan ekonomi mereka. Serta penggunaan luar angkasa yang adil dan rasional untuk kepentingan semua umat manusia, juga prinsip non-perampasan ruang angkasa, termasuk bulan dan benda langit lainnya, dengan cara apa pun, untuk memastikan manfaat bagi semua umat manusia dan keberlanjutan jangka panjang luar angkasa. Indonesia menantikan pertukaran pandangan yang produktif dan substantif dari perwakilan yang hadir tentang masalah ini. Dengan tujuan untuk mengeksplorasi berbagai cara dalam untuk mengatasi kesenjangan, serta mengatasi jalan ke depan untuk pertimbangan lebih lanjut.” ujar Erna.

Dalam agenda yang berbeda, Peneliti Direktorat Perumusan Kebijakan Riset, Teknologi, dan Inovasi yang juga Wakil Ketua National Contact Point UNCOPUOS-INASA BRIN, Yunita Permatasari, turut menyampaikan pandangan Indonesia terkait Eksplorasi dan Inovasi Ruang Angkasa.

“Indonesia percaya bahwa ruang angkasa akan terus berperan sebagai sumber inspirasi dan inovasi untuk memberi sumbangan yang bermanfaat bagi umat manusia. Indonesia akan memperkuat kerjasama dan membangun kemitraan dalam bidang eksplorasi ruang angkasa dan inovasi baik dengan badan pemerintah maupun non pemerintah lainnya,” ujar Yunita.

Yunita menjelaskan bahwa Indonesia sangat mendukung diskusi terkait rekomendasi kerjasama bertemakan eksplorasi dan inovasi ruang angkasa. Utamanya dalam meningkatkan kerjasama untuk negara berkembangan untuk mencapai pembangunan berkelanjutan dan peradaban manusia dengan memuat langkah-langkah konkret untuk memobilisasi sumber daya keuangan, peningkatan kapasitas dan transfer teknologi untuk negara-negara berkembang.

“Indonesia telah mengembangkan pemanfaatan penginderaan jauh dalam berbagai bidang, termasuk di antaranya pemantauan distribusi penyebaran Covid-19, pemetaan area miskin, kondisi lingkungan tinggal bagi masyarakat kurang mampu, pemetaan pajak, bukti ilmiah terkait aktivitas illegal seperti penanaman ganja dan pembakaran lahan. Hal ini telah dilakukan melalui kolaborasi BRIN dengan Kementerian Kesehatan, Badan Penanggulangan Bencana Nasional, Komisi Pemberantasan Korupsi, Direktorat Jenderal Pajak, Badan Narkotika Nasional, dan Kementerian Sosial. Indonesia juga telah memanfaatkan system monitoring Bumi nasional dalam penanggulangan bencana, termasuk pandemic Covid-19,” jelas Yunita.

Yunita menambahkan bahwa Indonesia melalui Pusat Riset Antariksa dari OR PA BRIN juga secara aktif melakukan diseminasi hasil kolaborasi dengan badan antariksa Jepang, JAXA dalam inisiasi program KIBO-ABC dengan kompetisi KIBO Robot Programming Challenge dan Asian Herb di ruang angkasa.

“Indonesia sangat menitikberatkan partisipasi anak muda dalam aktivitas keantariksaan. Dalam hal ini mendorong partisipasi aktif mereka untuk turut serta mengembangkan eksplorasi dan inovasi antariksa, khususnya untuk generasi selanjutnya,” tutup Yunita. (akb)

Sebarkan