Jakarta – Humas BRIN. Peran riset sangat penting dalam mekanisme mitigasi potensi bencana. Hal itu diungkapkan Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Laksana Tri Handoko saat wawancara pada program Indonesia Menyapa Pagi melalui siaran udara Pro 3 RRI Jakarta, Sabtu (28/5).

“Berbicara mitigasi bencana, kita harus memahami bagaimana bencana bisa terjadi baik itu bencana alam, atau pandemi misalnya. Peran riset ini sangat penting karena mekanisme potensi bencana bisa diprediksi melalui riset,” kata pria lulusan S3 Fisika Partikel Elementer Teoritik Hiroshima University.

Menurut Handoko, mitigasi kebencanan itu tidak bisa dipisahkan dengan para periset. Dalam melakukan mitigasi bencana perlu dengan berbasis data dan riset yang komprehensif.

“Sebetulnya utuk reduksi dan mitagasi bencana dengan data dan sains, itu tanggungjawab kami. Ini tantangan besar untuk menjawabnya, karena Indonesia negara besar,” katanya

Handoko menyebutkan BRIN memiliki kapasitas untuk mendukung upaya mitigasi kebencanaan. BRIN sendiri, lanjutnya, saat ini memiliki pusat riset kebencanan geologi, pusat riset teknologi dan gempa, dan pusat riset lingkungan hidup.

“Sehingga kami memiliki sumber daya yang komplit yang bekerja, bagaimana melihat mekanisme bencana, sehingga bisa melakukan mitigasi, dan mengembangkan teknologinya. Kami juga punya citra satelitnya, punya kapal risetnya, dan modifikasi cuaca,” bebernya.

Dijelaskan, Handoko, dengan karakter geografi di Indonesia, yang merupakan negara kepulauan, yang memiliki perairan yang luas, dan dikelilingi banyak gunung berapi. Secara alami, sangat berpotensi terjadinya bencana alam. “Kita secara alami, sangat dekat dengan bencana alam,” ucapnya.

Sehingga kemampuan mitigasi bencana harus terus ditingkatkan. Sebenarnya, kata Handoko, masyarakat sudah banyak memiliki kemampuan sejak awal, termasuk kearifan lokal dalam mereduksi kebencanaan. “Banyak riset di BRIN juga diinispirasi oleh kearifan lokal. Kalau itu berbasis riset memiliki data valid, tentu bisa diadopsi di berbagai tempat lain yang memiliki karakter serupa,” ulasnya.

Dorong Riset Bersama Antar Negara
Di sisi lain, Handoko mendorong riset bersama antar negara. Menurutnya, bencana tidak mengenal batas negara. Sehingga kolaborasi dan kerjasama antar negara sangat penting. Dia menekankan riset kebencanaan harus dilakukan multi negara.

“Kita tidak mungkin sendiri, sehingga kita perlu melakukannya dengan negara tetangga. Karena bisa saja misalnya gempanya ada di Indonesia, tsunaminya bisa ke negara tetangga,” sebutnya.

Maka dari itu, BRIN memiliki program khusus bagaimana bisa mendorong kolaborasi itu dapat dilakukan. Misal yang terkait dengan bencana tsunami, dengan melakukan riset kelautan melalui armada kapal riset.

“Jadi kalau bicara potensi tsunami misalnya, kita melakukan melalui ekspedisi kapal riset misalnya, kita harus tahu perairan di bawah laut, ada gunung, ada palung, ada potensi longsor yang memicu tsunami. Itu dilakukan dengan banyak negara,” jelasnya

Tak hanya itu, Handoko menyebutkan pihaknya juga sudah melakukan sharing atau bertukar data, dan early warning system. Sehingga jika terjadi gempa otomatis informasinya tersebar.

Sejauh ini, lanjut Handoko, pada prinsipnya negara-negara lain menyambut baik. Mereka senang karena Indonesia memiliki keterbukaan dalam kolaborasi penanganan bencana. “Apalagi riset ekspedisi ini biaya besar, karena kami mengelola kapal riset kita buka juga dengan mitra luar negeri, mereka terbantu. Sebaliknya kami juga bisa memakai kapal riset di perairan mereka,” ujarnya. (jml)

Sebarkan