Bandung – Humas BRIN. Integrasi Balai Arkeologi Jawa Barat ke dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) membuka potensi lebih besar bagi peneliti untuk berkarir dan melakukan kerja sama. Plt Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa dan Sastra (OR Arbastra) BRIN Herry Jogaswara mengatakan pihaknya berupaya mempercepat proses harmonisasi Balai dan Pusat Riset di OR Arbastra.

“Dengan adanya pertemuan ini, diharapkan dapat menjadi penghubung antara Balai dan Pusat Riset yang ada di OR Arbastra. Sehingga kedepannya, para peneliti dapat berkolaborasi dalam melakukan Riset maupun penelitian dan tujuan menjadikan OR Arbastra menjadi rujukan penelitian dapat segera terwujud,” ujarnya saat melakukan pertemuan dengan perwakilan dari pegawai eks Balai Arkeologi Jawa Barat, Kamis (7/4).

Herry menyampaikan beberapa hal tentang penetapan sumber daya manusia, harmonisasi Balai dan Pusat Riset di OR Arbastra, dan menjadikan Balai dan Pusat Riset di bawah OR Arbastra sebagai rujukan ilmu pengetahuan.

Dalam pertemuan ini, Herry memaparkan rumah program dari OR Arbastra. Rumah program pertama mengenai Peradaban Nusantara, yaitu rekonstruksi ragam capaian leluhur bangsa dalam sejarah perkembangan peradaban Nusantara untuk stabilitas negara menghadapi globalisasi. Ini bertujuan untuk merekonstruksi sejarah kebudayaan, cara hidup dan proses budaya masa lampau, merekonstruksi kekayaan alam pikir leluhur bangsa dalam toleransi kehidupan dan kearifan lingkungan serta merekonstruksi peradaban nusantara melalui kebahasaan dan kesastraan.

Rumah program kedua, mengungkap pertautan ragam identitas bangsa yang bertujuan untuk mengungkap akar identitas dan karakter keindonesiaan. Selanjutnya, merekomendasikan interaksi silang budaya dan jejaring antar bangsa dalam sejarah bangsa indonesia dan menguatkan paham toleransi dalam kehidupan berbangsa diplomasi budaya diranah global.

Kedua rumah program tersebut untuk mewujudkan visi “membangun indonesia dengan peradaban dan identitas bangsa”. Pemaparan rumah program ini diharapkan dapat menjadi dasar untuk para peniliti di Balai maupun Pusat Riset dalam melakukan penelitian maupun riset.

Pembahasan lainnya dalam pertemuan meliputi proses administratif seperti co-working space, alur penelitian, target HKM/KKM yang ditetapkan, serta bagaimana kerjasama antara peneliti dengan berbagai instansi di indoneisia.

Pertemuan ini disambut hangat oleh sivitas dari Balai dan Pusat Riset di OR Arbastra. Dengan adanya pertemuan ini, mereka dapat berdiskusi langsung dengan Kepala OR Arbastra, yang nantinya informasi tersebut dapat menjadi bahan dalam pertemuan dengan Kepala BRIN.

“Alhamdulilah, hari ini kami kedatangan Plt Kepala OR Arbastra dan dapat mempertemukan epala OR dengan para peneliti di eks-Balai Arkeologi Jawa Barat dan eks Kantor Bahasa. Kami merasa bersyukur, karena selama ini yang menjadi kegelisahan para peneliti, adalah terkait dengan absensi, jurnal, HKM, KKM. Ini memberikan pemaparan cukup jelas, serta menjelaskan banyak hal, sehingga dapat menentukan harus mulai dari mana,” ungkap Deni Sutrisna, Kepala Balai Arkeologi Jawa Barat

Dia berharap dengan bergabungnya dengan BRIN dapat memperluas cakupan dan memperkuat kerja sama yang telah dilakukan oleh Balai Arkeologi Jawa Barat sebelumnya. (rr/ed:kg,jml)

Sebarkan