Cibinong – Humas BRIN. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) konsisten membangun sarana dan prasarana serta fasilitas untuk mendukung kegiatan penelitian. Salah satunya adalah rencana investasi perangkat CryoEM (Cryo Electron Microscopy). Perangkat ini ke depannya menjadi perangkat utama untuk kegiatan riset prioritas di bidang bioteknologi, rekayasa molekuler terutama riset medis dan kedokteran sehingga akan mendapatkan informasi protein dan struktur protein kompleks dari suatu sampel biologis.

Untuk itulah, BRIN melalui Direktorat Pengelolaan Laboratorium, Fasilitas Riset dan Kawasan Sains dan Teknologi – Kedeputian Infrastruktur Riset dan Inovasi BRIN kembali menggelar Webinar Series-4 dengan tema “Cryo Electron Microscopy Accelerate Vaccine Development and Biodiversity Research”, pada Kamis (10/2).

Kegiatan ini merupakan rangkaian terakhir Seminar Nasional CryoEM webinar series yang mengangkat isu hangat mengenai teknologi Cryo Electron Microscope untuk penelitian dan inovasi di bidang struktural biologi, pengembangan vaksin, kesehatan, serta keanekaragaman hayati.

Plt. Kepala Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Hayati BRIN, Dr. Iman Hidayat dalam sambutannya menyampaikan bahwa ada kebijakan program di BRIN yang dibutuhkan untuk mengakselerasi perkembangan riset untuk obat dan vaksin. “Setiap negara mengandalkan dua faktor utama yaitu aset human resources dan aset natural resources. Kedua aset ini penting dan merupakan kunci bagi kemajuan masing-masing negara. Dalam perkembangannya human resources akan mengembangkan teknologi bagaimana menggunakan natural resources,” terangnya.

Dirinya menjelaskan, strategi BRIN dalam mengelola riset dan inovasi terkait biodiversitas meliputi tiga poin yaitu discovery (penemuan), utilizations (pemanfaatan), dan conservation (konservasi). “Ketiga poin inilah yang mendasari munculnya scientific collection yang saat ini disimpan di Kampus Cibinong sebagai fasilitas koleksi ilmiah Cibinong diantaranya Museum Zoologicum Bogoriense, Herbarium Bogoriensis dan Indonesian Culture Collection,” ungkap Iman.

“Ada tiga koleksi keanekaragaman hayati yaitu tumbuhan, hewan dan mikroorganisme dan inilah yang menjadi aset bagi pembangunan bangsa saat ini dan ke depan serta diharapkan dapat memberikan nilai ekonomi. Tugas kita semua selaku periset dan perekayasa bagaimana mentransformasinya sehingga menghasilkan nilai ekonomi,” tambah Iman.

Lebih lanjut Iman memaparkan infrastruktur salah satu kunci penting dalam mengembangkan penelitian. Infrastruktur tidak hanya berupa gedung tetapi fasilitas pendukung lainnya yaitu alat yang memadai dan dapat bersaing, membangun SDM (capacity building), mengembangkan SDM yang dapat memahami dan menguasai alat infrastruktur untuk tujuan mengembangkan akselerasi pengembangan obat dan vaksin dalam negeri.

“Ada skema yang sudah disiapkan oleh BRIN untuk mengakselerasi pengembangan SDM ini disertai dengan pendanaan riset yang memadai dan program yang mendukung. Selain rumah program, BRIN melalui Organisasi Ilmu Pengetahuan Hayati Tahun 2022 akan membangun 25 stasiun riset di seluruh Indonesia, kita akan bergerak bersama-sama tidak hanya para periset di BRIN tetapi bersinergi dengan periset lainnya di luar BRIN,” tutur Iman.

Iman juga memaparkan bahwa BRIN akan melakukan langkah ekstrim yaitu membangun tiga fasilitas BSL-3 (Biosafety Level 3), animal BSL-3, animal CGMP dan pendukung BSL-2 untuk pra klinik dan pengembangan SDM serta alat-alat di dalamnya untuk bergerak maju,” tegasnya.

Webinar menghadirkan narasumber yang berkompeten di bidangnya baik dari dalam maupun luar BRIN, yaitu Dr. Rer. Nat. Wien Kusharyoto selaku Plt. Kepala Pusat Riset Biologi Molekular BRIN, Dr. Ashihara Masamichi selaku Senior Product Specialis, APA Pharma, Thermo Fisher Scientific, dan Dr. James Bouwer selaku General Manager of Cryo Electron Microscopy Facility, University of Wollongong, Australia.

“Tantangan dalam desain vaksin berbasis struktur adalah preparasi sampel untuk memperoleh protein dengan karakteristik yang diinginkan, dimulai dari desain protein dan DNA penyandinya. Kemudian penentuan mutasi dan substitusi asam amino yang diperlukan untuk memperoleh kandidat antigen yang optimal: level ekspresi, stabilitas, immunogenisitas, dan pembuktian keamanan, immunogenesitas dan efikasi antigen melalui uji in vitro maupun in vivo,” ujar Wien dalam paparannya.

Pada kesempatan yang sama Masamichi menyampaikan bahwa CryoEM dapat membantu mempercepat pengembangan vaksin dan obat-obatan diantaranya analisis partikel tunggal memberikan wawasan struktural untuk penemuan obat berbasis struktur terutama dalam optimalisasi. “CyroEM mempercepat pemahaman struktural tentang SARS-coV-2 dan pengembangan vaksin dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak mewabah. Cryo-Em tidak hanya untuk solusi struktural 3D, tetapi juga untuk metode kritis untuk kontrol kualitas virus vektor dan nano partikel lipid,” rincinya.

Sementara itu Bouwer menjelaskan,  pendekatan multi disiplin untuk kolaboratif big data dan alur kerjanya meliputi biologi, kimia, teknik, matematika, fisika, ilmu dasar, kesehatan dan kedokteran, perangkat lunak, industri, dan komputasi kinerja tinggi. Selain itu James juga memberikan informasi tentang pendidikan dan pelatihan dan layanan untuk ilmuwan CryoEM, infrastruktur komputasi kinerja tinggi dan jaringan riset University of Wollongong, dan tantangan biologis. Harapan dan keluaran dari seminar ini yaitu BRIN membuka peluang kerjasama global antara periset dalam negeri dan periset dari luar negeri di bidang bioteknologi, rekayasa molekuler, serta riset translasi dan inovasi di bidang kesehatan serta memberikan solusi terhadap ketahanan negara di bidang kesehatan serta menjawab permasalahan konservasi keanekaragaman hayati untuk pemulihan ekonomi nasional. (yl ed sl)

Sebarkan